Locita

Mengaku Tidak Tahu Bukanlah Tanda Kebodohan

“Sir, kalau penulisan I’m apa boleh dibaca [Ɂəm]?” tanya seorang mahasiswa pada saya.

Saya masih semester enam saat itu dan mendapat kesempatan mengajar di sebuah program kampus saya. Pertanyaan ini sempat membuat saya sempat sedikit ragu.

Apakah konstraksi I’m boleh dbaca [Ɂəm] atau harus tetap dibaca panjang [ajem] dengan [j] berarti ‘y’ dalam pengucapan bahasa Indonesia. Dalam kapasitas yang terbatas saya selalu mendengar bacanya adalah [ajem].

Hanya saja, bukan keraguan itu yang sebenarnya membuat saya tak berpikir panjang bahwa pengucapan yang benar harus [ajem], pengucapan yang sering saya dengar. Tetapi yang membuat saya menyebut yang kedua secara meyakinkan adalah perasaan khawatir jika mahasiswa saya tidak lagi percaya jika saya menjawab tidak tahu, tidak yakin, atau mungkin saya harus mengecek lagi. Saya tidak ingin tampak bodoh dan tidak menjawab meyakinkan.

Saya tidak ingin dipandang sebagai pengajar tidak mumpuni atau dianggap tidak menguasai materinya. Dosen atau guru adalah dewa yang tahu segalanya dan tidak boleh salah. Saya menduga kepercayaan ini saya warisi dari guru dan dosen saya terdahulu.

Sebagaimana saya warisi juga dalam posisi saya sebagai siswa atau mahasiswa yang menganggap guru dan dosen tahu segala hal. Satu jenis sudut pandang yang terus turun menurun.

Saat masih siswa dan mahasiswa, sebagaimana teman-teman saya yang lain, kami selalu menganggap bahwa guru dan dosen tahu semuanya. Mereka memiliki semua solusi dan semua jawaban atas semua pertanyaan. Dan lebih terutama sekali pada bidang studi atau mata kuliah yang mereka ajarkan.

Tidak jarang pertanyaan yang kami ajukan sekadar menguji pengetahuan mereka. Arena diskusi dalam kelas dalam bentuk kelompok sering menjadi ajang saling menguji atau tepatnya mengetes pengetahuan. Lebih tepatnya tes ingatan. Dan jika ada pertanyaan yang dianggap tidak dapat dijawab dengan meyakinkan, taruhannya adalah kredibilitas.

Karena taruhannya adalah kredibilitas, pernah kami diajarkan bagaimana cara ‘ngeles’ kalau mendapat pertanyaan yang sulit dijawab. Jurus ini sepertinya dianggap penting sebab masih ada kontruksi kepercayaan jika dosennya tidak dapat menjawab maka wibawanya bisa runtuh. Ia dianggap tidak cukup pintar dan cakap oleh para siswanya.

Dengan sendirinya, pandangan seperti ini menjadi tekanan batin tersendiri bagi dosen. Oh ya saya lebih banyak menggunakan kata dosen, yang juga mewakili guru atau istilah pengajar lainnya, sebab posisi saya adalah sebagai dosen. Dosen merasa bersalah jika ada pertanyaan yang berada diluar jangkar pengetahuannya yang tidak dapat dijawabnya.

Dosen pada akhirnya sering kali menjadi harus sok tahu. Dengan begitu ia dapat menjaga wibawanya untuk tidak diremehkan dan direndahkan mahasiswanya. Penghormatan dan penghargaan dapat berkurang jika tidak tahu karena dianggap tidak kompeten dan seterusnya.

Perkuliahan kemudian tidak menjadi ajang diskusi yang sehat. Ada tekanan psikologis yang tidak suportif untuk merangsang dan memancing nalar intelektualitas. Tekanan psikologis ini tidak hanya menyelimuti dosen tetapi juga mahasiswa. Mahasiswa ketika tampil presentasi di depan kelas baik sendiri atau bersama grup ditantang untuk tahu semuanya. Teman-temannya yang lain mengajukan pertanyaan yang bersifat menguji. Akibatnya, mahasiswa bisa merasa gugup lebih dahulu ketika tampil di depan karena akan diserang, diuji dan jika tidak tahu, ia akan dianggap bodoh.

Pikiran seperti ini sempat mendera ketika pertama kali saya hendak presentasi pertama saat berkuliah di Amerika Serikat. Saya merasa gugup bukan karena materinya. Kebiasan presentasi di tanah air terbawa-bawa di pikiran saya.

Model presentasi yang sifatnya menguji dan jika tidak tahu akan ditertawai, atau mahasiswa lainnya sibuk mengobrol sendiri. Apalagi sudah tentu saya harus presentasi dalam Bahasa Inggris di depan teman-teman mahasiswa Amrik sendiri.

Syukurlah, yang terjadi adalah sebaliknya. Selama presentasi para mahasiswa lain memperhatikan dengan seksama meskipun mungkin tidak sepenuhnya mengerti atau setuju. Mereka tetap mendengarkan meski misalnya penjelasannya tidak menarik. Cara ini tentu membantu kestabilan emosi dan psikologis saya. Bayangkan jika para mahasiswa lain juga sibuk ngerumpi di belakang.

Juga barangkali yang bagus jadi catatan adalah tidak ada pertanyaan yang sifatnya mengetes, menguji, apalagi memojokkan. Sehingga yang kemudian terjadi adalah lahirnya diskusi tanpa kekhawatiran akan dipandang bodoh jika tidak menjawab dengan tepat. Semua pendapat dihargai, tentu dengan argumen-argumen yang logis. Bukan sekadar ingin tampil agar terlihat aktif. Pernah satu kali teman saya mencoba ini dan akhirnya mendapat nilai eror.

Ketakutan untuk mengakui tidak tahu jika mendapat pertanyaan sukar seharusnya tidak lagi relevan. Dosen dapat dengan jujur tanpa harus merasa pengakuan itu sebagai aib. Lagipula dosen tetaplah manusia biasa. Bukan dewa yang maha tahu segalanya.

Pengakuan tidak tahu jauh lebih penting daripada sok tahu dan informasinya bisa menyesatkan. Justru jika seorang tidak tahu, sikap ini sejujurnya adalah bentuk pengakuan pada orang lain. Adalah konsekuensi jika seorang mendalami spesifikasi ilmu tertentu maka ia bisa tertinggal pada ilmu-ilmu yang lain. Semakin mendalam keilmuan yang ia geluti, maka besar kemungkinan semakin dangkal keilmuwannya pada disiplin ilmu yang lain. Bukan cuma pada ilmu lain tetapi spesifikasi ilmu di jurusannya sendiri. Seorang dosen bahasa Inggris misalnya tidak serta merta kemudian tahu semua terkait bahasa sampai pada sedetil-detilnya.

Seharusnya tidak perlu ada rasa malu jika mengakui tidak atau kurang tahu. Pengakuan itu tidak serta merta menjadikan kredibilitasnya menurun. Selama kuliah di Amrik, hampir semua profesor saya dengan rendah hati mengakui kurang tahu jika memang ia merasa tidak kompeten menjawabnya. Dan tidak ada perasaan tertekan hanya karena mengakuinya. Mereka tetaplah profesor yang dihormati keilmuannya.

Para profesor sering kali menjawab dengan
I am not really sure I can answer that question …”
“I think I should look at back my notes … “
“I do not think I am competent enough to answer that question …”

Atau jika ia sedikit punya bayangan maka ia akan menjawab seperti
My educated guess is …. “

Dan yang menarik tentu mahasiswa tidak serta menghakimi mereka tidak kompeten karena ada satu atau dua pertanyaan yang tidak dapat dijawabnya. Bukan karena nila setitik lalu rusak susu sebelahnya eh sebelanga.

Saya pikir dengan tidak sok tahu pada semua hal, kita semakin bijak dan lebih menghargai orang lain. Sungguh bukanlah aib jika jika tidak dapat menjawab semua pertanyaan.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.