Locita

Menengahi Tensi Roaller-Coaster Komedian dan Mereka yang Tersinggung

Sumber Gambar: Hollywoodreporter.com

“Ini ngga bau ya?” tanya Muslim mengenai daging babi yang mereka masak dan gunakan sebagai materi bercanda dalam channel Youtube Tretan Universe. “Coba kita dengar… neraka.., neraka…, babi ini api neraka”, punchline ini seketika disambung dengan tertawa terbahak-bahak Coki, sahabat dan partner Muslim.

Kutipan candaan ini merupakan style komedi dari Coki dan Muslim yang memang membawakan intoleransi agama sebagai keresahan utama mereka. Nama mereka juga sedang naik daun saat itu melalui program Debat Kusir dalam channel Youtube Majelis Lucu Indonesia, kombinasi candaan dialektika Coki dan juga gaya Muslim dengan imitasi orang-orang intoleran yang bergaya ala Arab, sukses membuat tertawa banyak orang termasuk saya yang baru saja menonton kala itu.

Selang beberapa hari setelah menonton beberapa episode debat kusir, muncul kabar tidak menyenangkan. Seorang pemuka agama merasa resah dengan candaan Muslim dan Coki. Kumpulan massa mengatasnamakan kelompok tertentu juga menuduh bahwa mereka berdua melakukan penistaan agama dengan membuat agama sebagai bahan bercandaan. Ditambah lagi, tidak disangka cukup banyak juga orang yang mengancam Muslim dan Coki melalui sosmednya, bahkan kabarnya keluarga Muslim yang berada di Madura juga diancam.

“Yah, mungkin karena agama begitu penting bagi orang Indonesia ya”, begitu yang saya pikirkan saat itu, tetapi ternyata tidak. Pandji Pragiwaksono, seorang komedian lainnya, juga mengalami protes dan backlash yang cukup panas. Diawali oleh Garda Satwa Indonesia (GSI) sebagai pengangkat isu, Pandji dituduh menyebarkan kebencian kepada kucing melalui materi stand-upnya.

Untuk saya saat itu, problematika ini cukup menyesakkan. Saya sendiri secara personal juga menyukai kucing. Namun, saya tahu keresahan yang dirasakan Bang Pandji ketika dia menyebut kucing hewan gembel karena kucing akan kembali membawa temannya ketika diberi makan. Namun, kenapa selalu ada yang tersinggung dan meminta karya mereka untuk di take-down?

Konflik inipun menjadi pelik, di satu sisi para komedian yang jengah dan protes dengan backlash yang diarahkan kepadanya, “Negara ini bukan Negara yang baik untuk komedian. Selucu-lucunya kita akan ada satu orang di luar sana yang menganggap jokes kita ofensif”.

Begitu kurang lebih kata Raditya Dika dalam stand upnya dan sementara di satu sisi, pihak-pihak yang merasa tersinggung beralasan bahwa subjek/objek yang dijadikan bahan bercandaan dapat mempengaruhi orang lain untuk melakukan tindakan negatif, contohnya saja stand up Bang Pandji barusan yang dianggap menyebarkan kebencian terhadap kucing.

Jika sudah begini, sampai batas mana sebuah jokes dapat dibawakan tanpa orang merasa tersinggung? Bercanda dengan sedikit materi agama akan menyinggung kelompok agama tertentu, bercanda tentang perempuan dan waria akan menyinggung kelompok feminis, kucing menyinggung kelompok penggiat hewan, dan seterusnya.

Untuk menengahi hal tersebut, mari kita mulai pembahasan ini dari keberadaan komedi sendiri. Rahmanadji (2007) menyatakan bahwa tertawa yang merupakan bagian dari emosi dasar senang adalah salah satu kebutuhan kita. Karena itu, kebutuhan akan variasi hiburan selalu kita perlukan, yang salah satunya adalah komedi.

Komedi muncul kepada masyarakat menghibur menggunakan candaan, dengan cara-cara yang ringan dan melepas stress. Selain berfungsi mengundang tawa, komedi juga berfungsi untuk mengkritik sesuatu dengan cara yang cerdas dan juga memberikan edukasi kepada masyarakat.

Di sisi lain, jika kita berpindah perspektif, kelompok-kelompok tertentu yang ingin membela subjek/objek yang dijadikan sebagai bahan bercandaan tadi, juga tidak mau jika terjadi sebuah hal buruk atas candaan tersebut. Dibalik candaan, ada sebuah budaya buruk yang harus kita hapuskan dengan cara menyuarakan hal tersebut, bahkan jika bisa menghapus konten tersebut sehingga tidak ada yang terpengaruh secara negatif.

Untuk menengahi, dalam Psikologi Sosial, konflik sebenarnya muncul atas pandangan yang berbeda entah dalam cara mencapai sebuah tujuan atau mencapai tujuan (Myers, 2013). Keadaan ini sangat sesuai dengan kondisi penduduk Indonesia: terdiri dari beragam kelompok dengan berbagai pandangan moralnya yang berbeda-beda, begitupun dengan dunia ideal yang mereka bayangkan.

Dalam hal ini, idealisme dan moral ini dapat kita sebut dengan istilah core belief. Ketika seseorang merasa core belief-nya diusik, maka akan muncul respon-respon otomatis dengan emosi dasar marah dan memunculkan beragam reaksi kontra tadi. Karena itu, dengan kondisi bangsa Indonesia yang sangat beragam saya sangat menyarankan bagi kita untuk memiliki core belief yang sifatnya permeabel.

Jika kita menelisik KBBI, arti permeabel adalah “dapat ditembus oleh partikel lain”, yang dalam konteks sosial berarti kita dapat menyesuaikan core belief kita dengan pemikiran-pemikiran lain yang ada di sekitar kita. Iya, mungkin pemikiran lain tersebut toxic untuk kita, merendahkan kemanusiaan atau hal yang lain, namun masalahnya bukankah sebagus-bagusnya sebuah pemikiran atau idealisme selalu ada anti-tesis(lawan)nya?

Sebagai contoh, saya berada di grup feminis, tidak suka dengan pemikiran yang patriarkis, dan berusaha untuk menghilangkan pemikiran tersebut. Namun, sekarang juga ada lho grup anti-feminis yang berusaha untuk menghilangkan feminis dan pemikiran feminisme dari Indonesia. Jika praktek kita adalah selalu berusaha menghilangkan pemikiran yang menurut kita toxic lalu sampai kapan hilang-menghilangkan pemikiran ini berhenti? Tidak akan, karena perbedaan pemikiran akan selalu muncul. Ketika kita tidak berhenti, maka saya yakin orang akan enggan untuk berbicara, padahal kemajuan dimulai dari kebebasan untuk berbicara itu sendiri.

Saya mengerti kita juga harus speak up dengan ketidak setujuan kita. Karena itu dalam konteks ini yang saya bagi menjadi komedian dan pihak merasa candaan itu buruk. Ada beberapa pemikiran dari saya yang perlu kita refleksikan sebelum mengeluarkan respon-respon reaktif karena core belief kita telah diusik.

Bagi para komedian, komedi merupakan sebuah cara untuk menghibur, sekaligus memberikan kritik dengan cara yang smart, karena itu komedian juga perlu melakukan kajian dengan baik terhadap materi-materi bercandanya. Lalu, menyesuaikannya terhadap konteks sosial masyarakat saat ini juga penting.

Jadi, ketika ada individu atau kelompok tertentu yang merasa tidak setuju terhadap keresahan dan candaan kita, kita juga dapat menjawab dengan smart. Dari saya, sangat perlu dihindari mengeluarkan respon semacam mengeluhkan negara ini tempat yang buruk untuk komedian, karena toh komedian itu seniman yang juga berkarya dan namanya karya akan selalu mempunyai pro dan kontranya. Menyandang status sebagai komedian tidak membuat kita bebas dari kritik. Jika mau, komedian dapat menjawab, “silahkan dikritisi dan dikembangkan jadi karya ya” dan dengan ini kita bisa memacu yang lain untuk mengembangkan pemikiran dan dirinya.

Sementara itu, untuk orang-orang yang merasa candaan komedian tersebut buruk. Merasa begitu bukanlah sesuatu yang salah, karena itulah penilaian. Saran saya tidak banyak, namun jika dilaksanakan menurut saya dapat menjadi langkah besar dalam kemajuan demokrasi di negara kita.

Kita perlu belajar untuk berkomentar asertif, yang artinya tidak membully komedian tersebut, menghina ataupun menyerang identitas. Sampaikan keresahan kita dengan singkat namun jelas. Ada klaim (candaan itu bagus/buruk), penjelasan (mengapa baik/buruk) dan juga bukti (data/penelitian/peristiwa). Dengan cara ini, diskusi masyarakat kita akan jadi lebih sehat dan ingat, mematikan pemikiran yang tidak kita sukai tidak akan membuat masyarakat kita maju. Gunakan dialog yang sehat untuk menyuarakan kepentingan kita dan biarkan masyarakat pelan-pelan menilai. Terima kasih dan selamat berkarya teman-temanku.

 

Albertus Christian

Albertus Christian

Sarjana Psikologi yang menunggu S2nya dengan mendalami Psikologi, Filsafat dan Menulis

Add comment

Tentang Penulis

Albertus Christian

Albertus Christian

Sarjana Psikologi yang menunggu S2nya dengan mendalami Psikologi, Filsafat dan Menulis

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.