Esai

Menyambut Novel Sebagai Pemimpin Baru, dari Imam Masjid, Hingga Tsamara Amany

NOVEL Baswedan adalah sosok yang unik di negeri ini. Dia langka serta ikonik, dialah simbol dari perlawanan terhadap korupsi di negara Endoneesaah. Di hari kepulangannya kemarin, Novel seolah menjadi anti-tesa terhadap para penegak hukum kita.

Di website Change.or.id sebelum Novel menyeberang dari negeri Singa. Ada dua petisi yang marak ditandatangani warganet, yang satu meminta Presiden Jokowi untuk membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk kasus Novel.

Kedua, tepat di bawah petisi Novel, yang hingga Kamis (22/2/2018) sudah ditandatangani 65 ribu orang. Ada petisi untuk ketua Mahkamah Konstit*si Arif H agar mengundurkan diri, karena melanggar etika penegakan hukum. Ia diyakini mendatangi anggota DPR agar memilihnya kembali. Mereka berdua, Novel dan Arif adalah dua sisi, wajah hukum kita.

Seusai sambutan kepada Novel yang mengharu biru di halaman gedung KPK. Saya teringat kutipan yang katanya menjadi prinsip hidup dia:

“Berani tak kurangi umur, takut tak menambah umur. Jadi jangan pilih takut, karena membuat anda tak berguna.” Kata yang sering diulang-ulang Novel ketika ditanya kondisinya. Mungkin ketakutan inilah yang membuat wajah lain penegak hukum kita, begitu tidak berguna.

Sambutan atas kepulangan penyidik senior KPK ini. Bagi saya adalah harapan. Harapan untuk melihat negeri ini terus bangkit melawan korupsi. Di benak sebagian masyarakat ingin melihat sosok-sosok seperti Novel terus ada. Sayang, kita hanya punya Novel seorang. Pihak yang menyerangnya bisa saja membutakan permanen matanya yang sebelah kiri, tapi kita adalah mata Novel yang lainn. Kita menunggu seperti apa pemerintah akan berlaku terhadap kasus ini.

***

Kebahagiaan masyarakat terhadap kepulangan Novel, tentu bentuk apresiasi terhadap kinerja KPK selama ini. Masyarakat dan tetangga Novel cerminan kita, kerinduan terhadap penegakan hukum yang ideal. Warga sekitar rumahnya merindukan Novel yang setiap hari melaksanakan shalat berjamaah di masjid yang terletak di kompleks rumahnya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Seperti diutarakan oleh Imam Masjid tersebut, Abdul Rohim Hasan. ”Kami menyambut dengan kegembiraan, memang dia dicintai warga,” kata Hasan.

Tak salah jika seorang Novel disambut penuh cinta dan cita dan layak dijadikan pemimpin masa depan, serupa ungkapan terkenal dari Arab: “Kalian akan dipimpin oleh orang seperti kalian,” yang ditulis oleh Syaikh Abdulmalik bin Ahmad bin al-Mubarak Ramadhan dan disepakati para sejarawan dan ahli sosial.

Seakan ungkapan tersebut sudah menjadi kaidah baku dalam persoalan kepemimpinan, sebab didukung oleh fakta penelitian sejarah. Setiap pemimpin adalah cerminan rakyatnya, sebagaimana ketika Allâh Azza wa Jalla menjadikan Fir’aun sebagai penguasa bagi kaumnya. Allâh Azza wa Jalla berfirman :

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. [Az-Zukhruf/43:54].

Novel dikenal sebagai sosok yang santun dan ramah. Ia menjalin hubungan akrab dengan manusia dan Allah swt, melalui masjid. Tempat yang menjadi saksi bisu, kala ia mengalami insiden penyiraman air keras 10 bulan lalu, hingga memaksanya bolak-balik ke Singapura untuk berobat.

Di depan masjid itu, pada pagi jahanam 11 April 2017, sekitar pukul 05.10 WIB, usai menjalankan ibadah salat subuh berjamaah, Novel dihampiri 2 pria tidak dikenal mengendarai sepeda motor dan menyiramkan air keras hingga mengenai bola mata Novel. Alhasil mata sebelah kirinya tak bisa melihat, sementara sebelah kanan harus menggunakan lensa mata.

Kepulangan penyidik senior KPK itu juga disambut oleh politisi muda Tsamara Amany, Tsamara yang pernah saling sindir dengan Fahri Hamzah, mengaku turut bersyukur, serta berdoa agar Novel bisa segera bekerja dan mendapat keadilan atas kasus penyerangan terhadapanya.

“Alhamdulilah. Berharap Mas Novel bisa fokus bekerja lagi, fokus memberantas para koruptor,” kata Tsamara.

Presiden Joko Widodo (Jokowi), tempo hari juga mengucap syukur atas kondisi Novel yang semakin membaik.

“Saya kira kalau Pak Novel nanti bisa bekerja dan kembali lagi ke KPK, ya patut kita syukuri,” ucap Jokowi di Istana Negara, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (20/2/2018).

Tak hanya Tetangga Novel, Tsamara Amany dan Jokowi, adapula Kusuma Hartanto (50) juru parkir di Jalan RE Martadinata, Kota Sukabumi yang berniat mendonorkan matanya untuk Novel. Niat Hartanto diutarakan di media sosial yang viral, hasil penelusuran saya kabar tersebut awalnya diunggah oleh warganet di Sukabumi oleh pemilik akun medsos bernama Muttaqin Ilham.

Dalam postingannya, Muttaqin menceritakan seorang juru parkir yang mengungkapkan keinginannya mendonorkan matanya untuk Novel. Postingan itu hari ini sudah dibagikan dan dikomentari oleh ratusan warganet. Komentar beragam dan positif, memberikan dukungan dan semangat. Postingan Muttsqin itu tertulis seperti ini:

“Subhanallah. Ini adalah juru parkir di tempat saya berjualan handphone di Jalan RE Martadinata, beliau bernama Kusuma Hartanto atau yang sering dipanggil om sanchoz. Dia adalah seorang muallaf, jg seorang muadzin dan alhamdulilah tidak pernah meninggalkan sholat. Beliau curhat ke saya ingin mendonorkan matanya untuk novel baswedan, alasannya berharap mendapat kebaikan dan amal sholeh sekaligus untuk membantu novel baswedan agar tetap semangat bertugas memberantas korupsi, ingat yaaa.. bukan untuk mencari sensasi. Dengan niatnya juga semoga menjadi amal kebaikan. Viralkan!!!! Semoga sampai ke KPK,” tulis Muttaqin.

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Previous post

Cemburu Bu Dendy dan Para Istri Nabi

Next post

Sang Konglongmerat yang Berpakaian Kumal ke Masjid