Locita

Menanti Bukti Ikrar Sang Taruna Ikrar

Taruna Ikrar (foto: Tribunews.com)

“Taruna Ikrar. Itu mi andalang ka.” Begitu kata seorang teman angkatan saya di fakultas sembari menunjukkan buku Ilmu Neurosains Modern karya ilmuwan yang kini menetap di Amerika itu. Itu kali pertama saya mendengar namanya.

Saat itu teman saya itu sedang giat-giatnya mempelajari ilmu psikologi, utamanya hipnosis. Dia mendalami Ericksonian Hypnosis yang di Indonesia dikampanyekan oleh AS Laksana. Lebih dalam mengenal dunia itu, tak pelak Taruna Ikrar kemudian menjadi salah satu nama yang rekan tersebut kagumi.

Asal kalian tahu, mempelajari ilmu neurosains menjadi harapannya yang saat itu sudah lebih 6 tahun di kampus dan belum lulus. Rekan saya itu bukanlah orang yang malas ataupun bodoh, dia adalah orang yang muak dengan situasi pendidikan medis di kampusnya yang tidak menghasilkan terobosan apapun untuk keumatan. Secara tersirat, dengan mempelajari itu, dia memiliki semangat dan harapan, sekalipun disiplin ilmunya jauh berbeda dari yang disukainya itu.

Ada juga seorang rekanan, semasa mahasiswa dia adalah aktivis yang galak-galaknya mengumandangkan gagasan pluralisme, demokrasi, dan toleransi. Sial, posisinya sebagai calon dokter sering membuatnya kalah bersaing dari rekan-rekan yang mendalami ilmu agama dan sosial. Di ujung studinya, dia kemudian berkenalan dengan Taruna Ikrar—kalau tidak salah itu sekitar medio 2014.

Di situ, harapannya menyembul bahwa ternyata ilmu sosial bisa dikawinkan dengan ilmu sosial lewat neurosains. Salah satu cita-citanya kemudian mengikuti jejak Taruna Ikrar, mendalami ilmu neurosains. Dengan semangat itu, dia serius belajar bahasa Inggris—untuk tes dan beasiswa utamanya–dan melanjutkan studi. Saya juga ingat dia yang meminta Taruna Ikrar untuk surat rekomendasi kampus pilihannya itu.

Ketiga, adalah kawan dokter yang aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).  Kawan saya itu bisa dibilang salah satu petinggi di daerah, yang senantiasa beririsan dengan lingkup politik.

Di satu pertemuan dengannya di momen Kongres HMI Pekanbaru lalu, dia bercerita kejenuhannya akan organisasi ini serta keinginannya untuk mencari kanal yang tepat untuk dirinya berproses. Salah satunya adalah menjadi scientist.

Beberapa bulan setelah kongres tersebut, saya mendapati dirinya rajin berbicara soal neurosains. Beberapa kali nama Taruna Ikrar dicatut di situ. Di situ saya berpikir, mungkin dia telah menemukan kanal yang dia cari. Di situ mungkin harapannya telat bertaut.

Ya, Taruna Ikrar adalah harapan bagi banyak orang. Selain ketiga teman saya itu, dia juga dikagumi oleh banyak orang. Dia adalah kebanggaan dan harapan bagi HMI yang senantiasa dirudung isu pragmatisme dan premanisme, bagi Unhas yang selalu dikaitkan dengan tawuran dan demonstrasi, bagi Makassar yang selalu diidentikkan dengan barbarisme; juga utamanya bagi para perindu akan ujaran eureka! dalam ilmu pengetahuan. Salah satunya juga adalah saya.

Sayangnya harapan itu harus berjibaku dengan polemik yang terjadi beberapa waktu ini.

Beberapa waktu ini, Taruna Ikrar dikenai kasus moral akademik, pemalsuan gelar dekan dan profesor, juga overclaimed terhadap nominasi Nobel yang disandangnya. Tautan demi tautan saya dapatkan di linimasa.

Awalnya, perihal itu saya anggap cuma salah satu gonjangan seperti pada pepatah, “Semakin tinggi pohon, semakin kencang angin berhembus”. Hingga salah satu yang cukup mencengangkan adalah status Facebook Rahmat Hidayat. Dan isu itu cukup menempeleng kami yang menaruh harapan dan kekaguman.

Menanti Suara Taruna Ikrar

Harus diakui kejujuran dan etika pada para ilmuwan menjadi barang mahal. Hal inilah yang kemudian membuat ilmuwan dan filsuf, Karl Popper perlu membuat tulisan “The Moral Responsibility of the Scientist”. Di dalam makalah tersebut, diajukan kode etik untuk para ilmuwan berdasarkan sumpah dokter, Sumpah Hippocrates. Bersama dua ilmuwan peraih Nobel: John Sulston dan Joseph Rotblat, mereka mengajukan sumpah dan kode etik kepada para ilmuwan.

Sebagai seorang dokter dan juga ilmuwan yang memiliki karya mendunia, kedua sumpah itu pasti sudah diutarakan olehnya. Ihwal kejujuran itu saya sangat meyakini sudah sangat dimengerti olehnya. Reputasi akademiknya dengan ratusan orang yang mengutip jurnalnya, menjadi taruhannya.

Saya masih yakin, Taruna Ikrar bukanlah satu dari deskripsi “manusia Indonesia” yang dengan nyinyir dan sinis disampaikan oleh Mochtar Lubis (utamanya pada pasal enggan bertanggung jawab dan mudah kagum).

Saya masih yakin Kanda Taruna bukanlah Godot yang tukang PHP orang atau Loki yang tukang bohong. Bukan juga gila fanboys layaknya Dwi Hartanto. Semoga saja dia bukan myhtomania seperti penjelasannya,

Sampai hari ini, kita belum mendengar kabar klarifikasi atau verifikasi dari yang bersangkutan. Sejauh ini yang kabar buruk tersebut senantiasa tersiar dari sumber sekunder. Sudah saatnya Kanda Taruna Ikrar berbicara. Di tangannya tersemat nama baik banyak orang.

Kalau Taruna Ikrar memang benar, saya akan semakin yakin kalau dia benar-benar calon orang besar yang sudah membuktikan selamat dari ombak besar.

Lainnya, kalau Taruna Ikrar betul-betul melakukan kebohongan dan mengecewakan, bagi saya dia akan tetap menjadi inspirasi dan penyulut semangat dan asa untuk lebih menyelam ke dalam samudra pengetahuan

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.