Locita

Menanggapi Hoax Membangun Klarifikasi Hoax dalam Al-Qur’an

PERSOALAN hoax memang menjadi suatu persoalan besar bagi masyarakat dunia, terkhusus Indonesia sendiri. Hal tersebut karena pemberitaan yang berlandaskan pada ketidakjujuran, dalam hal ini hoax memberikan pengaruh dalam memutuskan tindakan kita.

Sebut saja, berita tentang kemacetan dan banjir memberi kita pilihan untuk melewati jalur yang macet atau banjir tadi. Olehnya itu, dalam banyak hal kita dituntut untuk melakukan klarifikasi atau tabayyun terhadap setiap berita yang kita dapatkan.

Seperti yang saya sebutkan di atas, hoax menjadi permasalahan yang cukup besar bagi setiap individu. Kendati demikian, belum lama ini Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Djoko Setiadi memberikan pandangan kepada masyarakat dengan membolehkan hoax yang membangun.

Berbagai tanggapan ketidaksetujuan dengan persoalan tersebut kemudian muncul. Belakangan, Bapak Djoko Setiadi meminta maaf karena pernyataannya telah membingungkan masyarakat.

Kendati permasalahannya telah usai dengan permohonan maaf Kepala BSSN ini, menarik bagi saya untuk mengklarifikasi “Hoax Membangun” dengan merujuk kepada prinsip-prinsip komunikasi yang diisyaratkan dalam al-Qur’an, karena hoax sendiri adalah bagian dari komunikasi itu sendiri.

Sebelum lebih jauh memaparkan prinsip-prinsip qur’ani tentang komunikasi, penting bagi saya untuk memberi definisi tentang hoax, untuk memberi batasan mana yang kemudian saya maksud hoax.

Hoax itu sendiri berasal dari Bahasa Inggris yang berarti berita bohong atau dengan kata lain informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar adanya.

Adapun prinsip-prinsip komunikasi tersebut adalah:

Jujur

Bersikap jujur merupakan dasar pergaulan sosial yang paling asasi. Karena setiap kita tentunya ingin mendapatkan informasi yang bersumber dari kejujuran, bukan sebuah kebohongan semata.

Olehnya itu, sekian banyak ayat al-Qur’an dan hadis yang berbicara mengenai kejujuran, baik yang menggunakan fiil amr atau menggunakan shigat fiil amr atau dalam bentuk lainnya dengan menyebutkan manfaat dari kejujuran tersebut. Salah satu ayat yang memerintahkan untuk berkata jujur adalah QS. al-Baqarah/2: 83 wa qulu linnasi husna.

Wahbah Zuhaily menafsirkan ayat tersebut penuturan yang tidak mengandung unsur dosa dan keburukan, termasuk di dalamnya kebohongan yang merupakan lawan dari kejujuran, melainkan mengandung amar maf’ruf nahi munkar dan disampaikan dengan baik dan lemah lembut. Kendati tidak disebutkan secara eksplisit dengan term sidq yang berarti kejujuran, kata husna sendiri sebenarnya sudah mewakili makna jujur itu.

Adil 

Adil yang dimaksud disini adalah tidak berat sebelah dalam menyampaikan informasi, sehingga menguntungkan pihak yang satu dan merugikan yang lainnya.

Dalam al-Qur’an misalnya ditemukan ayat yang memerintahkan untuk berbicara dengan adil. Dalam surah Al-An’am ayat 152 wa idz qultum fa’dilu walaw kana dza qurba. Adil yang dimaksud ayat ini dalam penjelasan Ibn Asyur adalah ucapan yang tidak ada unsur perampasan hak terhadap orang lain.

Lebih lanjut, ayat ini memerintahkan untuk bertutur dan menyampaikan informasi dengan redaksi perintah (amr), bukan dengan larangan (nahy) bertutur secara zalim, karena memang Dia menyenangi orang-orang yang menyampaikan informasi secara adil, transparan dan tidak menyembunyikannya.

Melalui ayat ini, kita diperintahkan untuk menyampaikan informasi dengan adil dan larangan untuk menyembunyikannya untuk kepentingan individu atau kelompok, walaupun dia adalah kerabat kita, sebagaimana yang diisyaratkan ayat ini walaw kana dza qurba.

Kualitas

Islam memberi penegasan mengenai aspek mutu dalam komunikasi dan pemberitaan informasi. Agar kiranya, pesan yang disampaikan memberi nilai dan manfaat terhadap sesama. Salah satu ayat yang terkait dengan ini adalah QS. al-Baqarah ayat 183 wa qulu linnasi husna. Sama dengan penjelasan mengenai diperintahkannya menyampaikan informasi dengan jujur, ayat ini juga mengandung makna kualitas informasi yang disampaikan. Hal tersebut tercermin dengan kandungan amar ma’ruf nahi munkar yang disampaikan.

Selain itu, kualitas yang dituntut dalam hal ini adalah metode penyampaiannya, sebagaimana yang disebutkan dalam QS. al-Hujurat 11-12, yakni komunikasi dan informasi hendaknya disampaikan dengan cara yang baik, tidak mengandung olokan, celaan, prasangka buruk, mencari kesalahan dan gunjingan.

Akurat

Al-Qur’an menekankan untuk tidak menyampaikan informasi yang berdasar pada dugaan dan perkiraan semata, melainkan disampaikan dengan jelas dan akurat, sehingga hasilnyapun tidak membingungkan masyarakat. Setiap berita yang kemudian kita dengar atau baca tidak harus disampaikan secara langsung.

Proses klarifikasi mengenai kebenaran tersebut adalah hal penting untuk menjaga keakuratan informasi. Begitu juga pengurangan, penambahan atau berita yang membuat masyarakat salah kaprah sebisa mungkin untuk dihindari. QS. Al-Hujurat ayat 6 memberikan peringatan kepada kita untuk mengklarifikasi setiap informasi yang kita dapatkan sebelum kemudian kita sebarkan ke kerabat kita.

Begitu juga dalam QS. Al-Isra ayat 36 dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.

Motif yang lurus

Al-Qur’an mengajarkan kepada kita untuk terus memperbaiki niat atau motif dalam setiap aktivitas kehidupan kita, tidak terkeculi dalam memberikan kabar atau berita.  Informasi semestinya dijadikan sebagai motivasi berbagi manfaat kepada sesama, bukan malah menjadi ajang untuk saling mencela, merugikan orang lain dan memopulerkan diri sendiri.

Atau bentuk pemberian informasi tersebut didasari atas kecintaan terhadap Tuhan, sehingga informasi yang kemudian kita sampaikan, tidak hanya baik, akurat dan jujur,  melainkan didasari atas rasa keikhlasan kepada Allah swt.

Dari beberapa uraian di atas, jika kemudian kita coba relasikan dengan hoax yang awalnya kita maknai sebagai berita atau informasi yang tidak didasari atas kejujuran dan keakuratan informasi, kendati sebenarnya memiliki motif baik, maka saya menyimpulkan bahwa sulit untuk mengatakan ada yang disebut dengan hoax membangun.

Karena memang Islam mengajarkan, niat yang baik sebaiknya dilaksanakan atau diaplikasikan dengan baik. Niat membangun semestinya juga dilakukan dengan cara yang baik pula, bukan malah membohongi publik.

Karena berita hoax yang kita anggap membangun dengan penyandaran kebohongan, pada dasarnya tidak membangun, malah akan menjadi petaka untuk kita sendiri.

Akhirnya berita yang baik adalah berita yang berdasar pada kejujuran dan objiktifitas komunikator, disertai dengan akurasi dan kualitas berita dan metode penyampaiannya, serta dilandaskan atas rasa keikhlasan dan memberi manfaat kepada sesama manusia. Wassalam.

Ahmad Tri Muslim HD

Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddun Makassar dan PP Al Urwatul Wutsqaa, Benteng, SIDRAP

Add comment

Tentang Penulis

Ahmad Tri Muslim HD

Alumni Tafsir Hadis Khusus UIN Alauddun Makassar dan PP Al Urwatul Wutsqaa, Benteng, SIDRAP

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.