Esai

Membuka Kran Wacana Keagamaan

ADE Armando melalui ceramah umum yang disampaikan dalam Malam Penganugerahan Pemenang Lomba Esai “Intoleransi dan Ekstremisme di Indonesia” di Jakarta lalu (9/3/2018) sepakat dengan keputusan Rektor UIN Sunan Kalijaga untuk melakukan pendataan dan pembinaan yang baik dan adil bagi mahasiswi bercadar.

Ada 41 mahasiswi bercadar di UIN Sunan Kalijaga yang ingin diketahui dengan pasti bahwa keputusan mereka bercadar murni atas kesadaran diri akan pengalaman religius dan bukan merupakan bentuk afiliasi terhadap gerakan radikal.

Dalam wawacaranya dengan beritagar.id, jawaban-jawaban Rektor UIN Sunan Kalijaga menampakkan kekhawatiran apabila warga sivitas akademikanya tercatut dalam gerakan radikal kontra persatuan.

Sudah sejak lama, sosok Yudian Wahyudi dikenal sebagai intelektual yang begitu peduli terhadap persatuan NKRI. Kepedulian yang dalam tentu menimbulkan kekhawatiran yang dalam pula terhadap berbagai gerakan radikal yang berpotensi merongrong persatuan bangsa.

Hal yang melatarbelakangi munculnya imbauan rektor terhadap para dekan salah satunya merupakan imbas dari ditangkapnya seorang dosen UIN Sunan Kalijaga akibat tergabung dalam kelompok penyebar berita hoaks beberapa waktu silam.

Yudian Wahyudi yang merupakan lulusan Harvard Law School Amerika Serikat ini bukan tidak mungkin tak paham apa yang akan terjadi atas keputusannya memperlakukan mahasiswi bercadar. Kendatipun demikian, lebih penting lagi untuk membaca gejolak yang melatarbelakangi rektor mengetuk palu atas keputusannya itu. Bukan sekadar mencibir sebab keputusan tersebut melukai kebebasan berekspresi orang lain.

Pro kontra yang muncul toh akhirnya membuat ia mencabut kebijakannya ihwal cadar pada Sabtu (10/3/2018) seperti dituliskan oleh beritagar.id pada 12 Maret 2018.

Pernyataan dukungan Ade Armando atas keputusan Rektor UIN Sunan Kalijaga menjadi pintu masuk bagi pembahasan ihwal intoleransi agama pada malam itu. Vice Indonesia merilis hasil wawancara dengan beberapa peserta Women March Jakarta. Nampak dua peserta (satu berjilbab, yang lain tidak) berpose dengan membawa tulisan “Berjilbab oke. Gak berjilbab juga kece”.

Foto menunjukkan implementasi toleransi yang paling mendasar: hormat-menghormati cara berpakaian. Foto yang demikian jelas menarik bagi yang bercita-cita menegakkan tiang toleransi termasuk publik yang hadir malam itu.

Toleransi yang Ideal

Isu Natal terus mengemuka setiap tahun. Antara kaum puritan dan kaum yang berpandangan bebas sibuk menyuarakan pandangannya masing-masing. Belum lagi yang marak belakangan ialah ihwal larangan mendayafungsikan sarana ibadah umat pemeluk agama/aliran keyakinan yang berlainan dengan mayoritas masyarakat sipil di suatu lingkungan.

Toleransi bukan semata urusan hormat-menghormati antara perempuan berjilbab dan yang bukan. Konflik antar-agama yang terjadi di Ambon pada1999-2000 merupakan imbas dari intoleransi. Konfik Ambon, penyerangan terhadap beberapa pemuka agama di dunia nyata, penyebaran berita hoaks di media sosial, penolakan pelaksanaan praktik ibadah merupakan bukti bahwasanya kita belum mencapai cita-cita toleransi yang ideal.

Menyitir perkataan Ade Armando, toleransi yang ideal ialah ketika setiap dari kita mampu menerima segala implikasi dari apa yang orang lain yakini. Masalahnya sekarang ini, apakah kita sudah demikian? Apakah kita sebagai muslim katakanlah mampu menerima dengan hati lapang ketika dua kilometer dari rumah kita dibangun gereja?

Almarhum Cak Nur (Nurcholis Madjid) menyatakan bahwasanya pertemuan keberagama(a)n dalam masyarakat bukannya membiasakan masyarakat menghargai perbedaan tetapi justru menimbulkan perbenturan. Di situlah titik temu intoleransi. Masyarakat intoleran biasanya tidak bersedia kompromi dengan pandangan lain dan cenderung mengagungkan eksklusifitas.

Tanpa mengebiri masyarakat tertentu, kita bisa membayangkan seorang anak lahir sebagai muslim turunan yang sejak kecil hidup di perumahan khusus muslim. Dari PAUD sampai kuliah selalu berada di pendidikan formal berbasis Islam. Organisasi yang diikuti baik di pendidikan formal maupun di lingkungan perumahan berbasis Islam eksklusif.

Kita dengan mudah menerka si anak kecil hendak tumbuh dewasa dengan sikap yang bagaimana. Tentu saja ia susah melepaskan diri dari jerat eksklusifitas islam. Lingkungannya tak pernah membuka akses terhadap pandangan yang lebih bebas selain pandangan-pandangan Islam eksklusif.

Pertemuan antar kaum yang berpandangan eksklusif sangat mungkin bagi lahirnya gerakan radikal yang mengebiri keberagama(a)n. Belum lagi apabila ada muatan unsur politik yang menyokong gerakan-gerakan radikal tersebut. The Clash of Civilization (1996) karya Huntington menjadi kian meyakinkan. Akar konflik dalam kehidupan bermasyarakat ialah budaya, dan lebih spesifik lagi Huntington menyebut agama. 

Laku Beragama

Keyakinan seseorang atas agama menentukan perilakunya. Pertanyaan yang sempat dilontarkan Ade Armando kepada publik yang hadir di Amoz Cozy Hotel Jakarta ialah “Apakah betul agama (Islam, pen) tidak mengajarkan penghargaan atas perbedaan?”.

Dalam benak masing-masing publik yang hadir tentu berebut gegas untuk menyatakan bahwa agama Islam jelas mengajarkan penghargaan terhadap perbedaan. Tetapi keyakinan publik yang hadir tak boleh berhenti di titik itu.

Musyawarah Nasional VII Majelis Ulama Indonesia di antaranya menghasilkan fatwa yang mengharamkan pluralisme, sekularisme, liberalisme. Lahirnya wacana penolakan pluralisme, sekularisme, liberalisme menurut intelektual muslim Jerman kelahiran Suriah, Bassam Tibi merupakan  wujud mental defensif yang terutama ditandai oleh sikap curiga atas serbuan modernisasi dan westernisasi (M. Dawam Rahardjo: 2005).

Ade memaparkan ayat-ayat dalam Al Quran yang disinyalir menjadi dasar gerakan kaum puritan-ekslusif. Ada sumber-sumber dalam AlQuran yang mendukung pembenaran perilaku mereka. Q.S Al-Maidah: 51 misalnya, melarang orang muslim berteman karib dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Tafsir ayat Allah seperti Q.S. Al-Maidah dan ayat-ayat lain secara literal menjadi pendukung bagi suburnya intoleransi antar-umat. Kaum puritan-eksklusif cedera di sini. Asbabun nuzul atau sebab-musabab turun ayat dikesampingkan. Mereka entah benar-benar tidak tahu atau sengaja menutup mata atas ayat lain yang sarat akan penghargaan terhadap keberagama(a)n.

Salah satu ayat penetralisir atas tafsir literal Q.S. Al-Maidah:51 ialah Q.S. Al-Mumtahanah: 8 yang menegaskan bahwa Tuhan tidak melarang seorang muslim membangun interaksi sosial yang baik dengan golongan di luar Islam, dengan catatan bahwa mereka tidak memerangi atau melakukan permusuhan terhadap kaum muslim.

Ayat ini turun sebagai respon atas hubungan baik yang ingin dijalin Asma binti Abu Bakar dengan Qatilah yang non muslim. Maka pemahaman terhadap ayat tidak pernah menjadi pekerjaan sederhana. Perlu ada pembacaan dan penafsiran ulang terus menerus supaya sesuai dengan konteks kehidupan mutakhir.

Di sinilah pentingnya pertarungan wacana. Kaum-kaum moderat tidak peduli apapun agama atau aliran keyakinan yang dianutnya perlu bersinergi untuk mempengaruhi tafsir terhadap agama atau aliran keyakinan supaya ada interpretasi ulang.

Hal ini tidak lain ialah upaya nyata menyuburkan pokok-pokok kedamaian. Meskipun kita sama-sama mafhum, tidak mudah mempengaruhi orang atas sesuatu yang baru. Kendatipun demikian, teori psikologi komunikasi memberi usul supaya kita secara intensif melakukan upaya pertarungan wacana atas tafsir keagamaan.

Melalui cara demikian, perlahan akan membuat publik sedikit demi sedikit bersedia mempertanyakan ulang nilai-nilai eksklusivitas keagamaan yang selama ini diyakininya.

 

Rizka Nur Laily Muallifa

Rizka Nur Laily Muallifa

Tertarik dengan isu seputar perempuan, lingkungan, dan seni-budaya

Previous post

Sanggupkah Kita Menderita Demi Orang Lain

Next post

Puisi yang Mengoyak Sukma