Locita

Membela Rambut Gondrong

PERJALANAN selalu menyisakan kisah yang tak tuntas. Ada rasa ingin tahu yang belum terjawab, keinginan yang tak tercapai, atau tak adanya kesempatan mencicipi hal-hal baru. Namun, bukankah hal itu membuat perjalanan kita meninggalkan jejak kisah yang terasa menantang?

Seperti itu pula perjalanan saya beberapa waktu lalu di akhir tahun. Setelah berkeliling di Kota Solo, saya hendak menuju Yogyakarta menggunakan kereta api. Di stasiun Purwosari, Solo, saya bertemu dengan orang-orang yang juga ingin bepergian keluar kota. Di sana, saya sempat bercerita dengan salah satu anak muda.

Namanya Bambang, tinggal di Solo dan ingin merayakan tahun baru di Yogya bersama teman-teman komunitasnya. Dia duduk di trotoar dekat rel kereta api. Saya menghampiri, dan duduk di sampingnya karena sama-sama tak mendapat tempat duduk yang telah disediakan oleh pihak stasiun. Memang, pada musim liburan akhir tahun, stasiun selalu padat dengan penumpang yang hendak pergi liburan ke luar kota.

Dari penampilannya yang terkesan acak-acakan, rambut tak disisir, celana yang di bagian lututnya robek, dan beberapa gelang warna-warni menghiasi tangannya, Bambang adalah anak muda yang ramah. Berbanding terbalik dari sangkaan awal saya. Dia juga sempat menawarkan rokok kepada saya, namun saya menolak karena saya bukan seorang perokok.

Perbincangan saya dan Bambang tak terlalu lama, sebab kereta yang sama-sama kami tunggu telah tiba. Kami hanya berkenalan dan bercerita sedikit tentang aktivitas kami. Lalu, kami berpisah disana. Saya masuk ke gerbong kereta nomor dua dan dia masuk ke gerbong yang lain.

Namun sebelum saya berpisah, dia mengatakan sesuatu kepada saya. “Di Solo kamu bisa belajar banyak hal tentang Indonesia, nanti kalau kamu ke Solo lagi, kontak nomor HP saya, saya akan bawa kamu ke tempat bersejarah di sini”. Dia menceritakan pengalamannya hidup di Solo, dan ingin mengajak saya berputar-putar kota Solo di lain waktu.

Caranya bercerita sangat menarik dan tidak terkesan menggurui, saya hanya diam dan duduk mendengarkannya dengan baik. Dalam lingkungan sosialnya, Bambang adalah orang yang suka berbagi, entah itu ilmu, pengalaman, atau tempat tinggal ketika ada orang yang tak tahu harus tidur dimana ketika berada di Solo. Saya kaget ketika dia menyampaikan hal yang demikian. Saya baru bertemu dengan dia dan seolah-olah kami sudah sangat akrab dengan tawarannya untuk mengajak saya berkeliling kota.

***

Semua orang, saya yakin pasti menyimpan kebaikan dalam dirinya, bahkan untuk ukuran seorang penjahat sekali pun. Hanya saja, kita seringkali terlalu cepat menjatuhkan prasangka kepada orang yang baru kita kenal dengan asumsi awal yang tidak jelas alamatnya.

Ketika melihat penampilan orang yang urakan, kita malas bertukar sapa. Kita malah melakukan penghukuman atas sesuatu yang tidak kita ketahui, menganggapnya preman yang jahat, atau anak nakal yang tak jelas juntrungannya.

Bagi saya itu masalah kita bersama. Sejak awal, telinga kita yang lahir sekitar tahun 1990-an, kerap dibisikkan pesan oleh orang tua untuk tidak mendekat dengan orang-orang yang cara berpakaiannya serampangan. Kita hanya boleh bergaul dengan orang-orang yang rapi dan klimis. Kata mereka, para orang tua itu, orang baik dilihat dari penampilannya.

Orang tua yang menyisipkan pesan seperti itu dalam hidup kita, kemungkinan besar adalah orang tua yang hidupnya dibesarkan oleh televisi dan tradisi Orde Baru. Dalam buku Dilarang Gondrong (2010) garapan Aria Wiratma Yudhistira, orang-orang yang berpenampilan tak rapi atau tidak sesuai dengan standar etik-estetik pemerintah, dianggap sebuah tindakan yang subversif. Orang berambut gondrong, misalnya, dianggap Onverschillig alias acuh tak acuh. Lelaki yang memanjangkan rambutnya dianggap efek dekadensi moral yang menimpa anak muda.

Anggapan itu berawal dari merebaknya berita di surat kabar yang mengidentifikasi pelaku kriminal dari gaya rambutnya. “Dua orang lelaki gondrong memperkosa gadis SMA”. “Perampokan toko Emas oleh gerombolan gondrong”.

Padahal di sisi lain, identitas itu sangat cair. Kita tak bisa melekatkan satu ciri saja terhadap tindakan seseorang. Kita juga tidak tahu, variabel identitas apa yang mendorong seseorang melakukan sesuatu. Bisa saja bukan karena rambutnya yang gondrong, tetapi karena persoalan sosial-ekonomi.

Oleh karena itu, kita tidak bisa tiba-tiba jadi hakim untuk memutuskan seseorang itu baik atau tidak hanya dengan menggunakan pengetahuan indrawi semata. Namun Orba memang beda. Atas dasar tuduhan-tuduhan dari surat kabar itulah rezim Orba melakukan “penertiban” terhadap lelaki berambut gondong, yang dicap sebagai biang keladi tindak kriminal.

Kesalahan rezim totaliter Orba adalah melakukan over-generalisasi terhadap orang berambut gondrong. Padahal tidak semua orang berambut gondrong adalah para kriminal, sebaliknya tidak semua orang yang berpenampilan rapi dan klimis adalah orang baik yang harus dipuja-puji. Kita bisa menyorot bagaimana para pejabat pada masa Orba memiliki penampilan yang sesuai dengan standar moral pemerintah, namun tetap melakukan KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme).

Bahkan dalam persentasenya yang sungguh sangat kurang ajar tingginya.  Hal ini adalah salah satu diantara pembodohan publik yang dilakukan Orba secara struktural dan sistematis. Dengan mencitrakan orang berpenampilan rapi selalu baik, dan yang tidak rapi adalah jahat.

Permainan semiotik itu ternyata cukup berhasil untuk menipu banyak orang. Hasilnya, orang tua kita di rumah terkena efek buruk itu, sehingga membuat mereka terjebak pada kesalahan berfikir. Dari fenomena itu pula, kita mungkin baru menyadari betapa pentingnya belajar logika agar tak mudah ditipu dan jatuh pada kedunguan.

Perjalanan saya dari Solo menuju Yogya dengan kereta api dan bertemu Bambang di stasiun Purwosari, telah memperkuat keyakinan saya bahwa pada dasarnya semua orang adalah baik. Kita tidak boleh dengan enteng menjatuhkan prasangka berdasarkan asumsi tidak jelas.

Bahkan, lebih baik menguburnya sedalam mungkin. Dalam bergaul, kita hanya perlu mengontrol cara pandang kita terhadap orang lain dan menjaga cara kita berkomunikasi, agar orang yang kita temui juga bisa memberikan tanggapan baik kepada kita.

Kisah-kisah itu memberi saya pelajaran dan pengalaman baru dalam berinteraksi dengan orang yang baru dikenal. Perkenalan yang tak tuntas itu menantang saya untuk bertemu kembali dengan Bambang jika ada kesempatan lagi untuk berkunjung ke Solo. Menelusuri sejarah Indonesia yang dijanjikannya dan bercakap dengan pengalaman baru yang tak terduga, bagaimana kisah-kisah yang akan dihasilkannya.

Mario Hikmat

Mahasiswa FKM UNHAS. Belajar di LISAN Cab. Makassar, sedang cari pengalaman kerja di Dialektika Coffee and Bookshop. Buku perdana: Jalan Panjang Tanpa Nama, 2017

Add comment

Tentang Penulis

Mario Hikmat

Mahasiswa FKM UNHAS. Belajar di LISAN Cab. Makassar, sedang cari pengalaman kerja di Dialektika Coffee and Bookshop. Buku perdana: Jalan Panjang Tanpa Nama, 2017

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.