Locita

Membela Dilan yang “Terciduk” Syiah

Ilustrasi (Kolase foto Locita.co. Diolah dari berbagai sumber)

GARA-GARA Dilan semuanya menjadi berat. Tidak hanya bagi perindu, bagi kawan mahasiswa kedokteran hal yang berat itu ko-asisten alias Koas. Lain lagi bagi para pejuang rakyat, yang berat itu bagaimana kemiskinan bisa diatasi secara struktural. Bagi teman yang sedang berusaha meminang gadis pujaan hati, modal nikah jauh lebih berat daripada rindu.

Ternyata Dilan membawa “keberatan” dimana-dimana. Termasuk kelompok Muslim Syiah. Poster Ayatullah Khomeini yang dipasang di dinding kamar Dilan ternyata memicu isu Syiah muncul lagi. Mereka terusik, sebagian orang menganggap Dilan terciduk Syiah. Hal itu didasari dari oleh salah satu halaman novel Dilan yang menggambarkan bahwa Milea diajak masuk oleh ibunda Dilan, dan di sisi kamar Dilan terpasang poster ulama Iran itu.

“Ternyata Dilan punya poster & mengidolakan Khomeini. Dilan juga merayakan Hari Raya Idul Ghodir nya Syi’ah juga kah @pidibaiq?” tanya salah satu pengguna Twitter kepada Pidi Baiq pada tanggal 31 Januari lalu. Setelah ditelusuri, sang pengarang novel Dilan, Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 itu, tidak me-reply pertanyaan tersebut.

Screenshot cuitan tersebut tersebar di media sosial. Publik menjadi ramai, orang ragu, benarkah Dilan Syiah?

Jawaban atas pertanyaan itu kemudian diunggah di laman instagram penulis novel Dilan, Pidi Baiq pada tanggal 5 Februari. Pada salah satu poinnya Pidi Baiq menuliskan jawaban Dilan, bahwa dia berpaham Ahlussunnah wal Jamah.

“Mengenai adanya tuduhan itu, saya langsung bertanya kepada Dilan, apakah benar kamu seorang penganut Syiah? Dilan meresponnya dengan ketawa. ‘Saya ini Aswaja,’ katanya. Saya ini Ahlussunnah wal jamaah yang menghormati agama dan keyakinan orang lain. Lakum Diinukum wa Liya Diin. Bagimu agamamu bagiku agamaku. Justru jika agamamu kuat, kamu akan menghargai agama orang lain. ‘Betul’,” tulis Pidi.

Di poin lainnya, Pidi Baiq juga menjelaskan bahwa memang ketika itu Ayatullah Khomeini sedang populer sehingga posternya beredar dimana-mana, sebab Revolusi Iran yang dipimpinnya berhasil menumbangkan Shah Reza Pahlevi.

Revolusi Iran tahun 1979 itu memang legendaris dan berpengaruh. Tidak lama setelah itu, 1984, Amien Rais menerjemahkan buku cendekiawan Iran Ali Syariati yang berjudul Tugas Cendekiawan Muslim. Pembahasan buku tersebut mencakup pandangan dunia, dinamika intelektualitas, hingga tanggung jawab intelektual sebagai penggali identitas masyarakat supaya lebih maju.

Tidak hanya secara akademik, pengaruh revolusi itu juga ke ranah kultural. Seorang kawan di Sulawesi, diberi nama oleh Ayahnya, Khomeini. Sebuah nama yang langsung terinspirasi dari sang pemimpin revolusi. Di Sumatera, ada kawan yang lain bernama Ali Hasymi Rafsanjani. Akbar Hashemi Rafsanjani merupakan Presiden Iran keempat yang baru wafat awal tahun lalu. Sebelum menjadi Presiden, Rafsanjani adalah Ketua Parlemen Iran semenjak peristiwa revolusi. Dan penting untuk diketahui kedua teman saya itu Aswaja, bukan Syiah.

Artinya tidak hanya Dilan yang terpengaruh akan revolusi Iran tersebut di Indonesia. Harus dipahami konteks revolusi yang membahana. Efeknya Ayatullah Khomeini dan juga para tokoh Iran lainnya menjadi idola. Khususnya bagi orang yang menginginkan perubahan sosial politik ketika itu.

Pertanyaan pengguna twitter kepada Pidi Baiq di atas bagi saya cukup tendensius terhadap preferensi keagamaan seseorang. Apalagi dengan ungkapan apakah Dilan ikut Idul Ghadir atau tidak. Idul Ghadir merupakan hari yang diistimewakan kelompok Syiah. Sebab menurut tradisi keilmuan mereka, hari itu adalah momen dimana Sayyidina Ali diangkat sebagai pemimpin pengganti Nabi Muhammad SAW.

Seandainya Dilan seorang Syiah apa masalahnya? Pilihan beragama bersifat individual dan juga akan dipertanggung jawabkan secara individu di akhirat nanti. Hal terpenting sebenarnya adalah bertanggung jawab terhadap pilihan itu dan menghormati orang yang mempunyai preferensi keagamaan lain.

Terpampangnya poster Ayatullah Khomeini di kamar Dilan mestinya bisa dimaknai secara berbeda. Jauh sebelum internet dan media sosial berkembang seperti saat ini, seorang Dilan ternyata sudah mengikuti perkembangan situasi dunia. Kalau tidak, tentu poster tersebut tidak akan mungkin hadir di kamarnya.

Dilan yang ungkapannya membuat baper nasional barangkali ketika itu mempunyai cita-cita revolusi juga, terinpirasi dari sang Ayatullah. Bisa jadi dia sudah mengamati celah yang harus diperbaiki ketika dia besar. Dilan yang mencintai Milea ketika itu telah bermimpi menjadi pemimpin besar.

Bagi seorang anak SMA, kondisi itu juga luar biasa. Sebab di luar kelaziman yang dilakukan para remaja. Alih-alih hanya pemain sepak bola atau artis, Dilan juga memasang poster intelektual, politisi sekaligus ulama.

Pada titik inilah seharusnya sisi Dilan itu patut diteladani. Tidak hanya kata-katanya yang kaku, meski romantis. Semenjak remaja dia sudah dekat dengan sosok intelektual pembawa perubahan meski tidak lepas dari kehidupan romantika masa mudanya. Setidaknya dia sudah mengetahui bahwa individu mampu melahirkan kontribusi besar bagi negaranya.

Berkaca dari ini seorang pendidik dan para orang tua bisa mengevaluasi anak didik mereka. Siapakah idola mereka? Ini penting untuk mengetahui siapa figur yang mereka teladani dan menjadi inspirasi. Sejauh apa mereka dekat dan kenal dengan para tokoh, baik intelektual maupun politisi.

Jadi, tidaklah penting apakah Dilan seorang Syiah atau bukan. Poin hebatnya adalah Dilan yang mengharu biru jatuh cinta ternyata punya idola seorang tokoh besar. Di tengah kegalauannya dengan Milea ketika itu, karena Ayatullah Khomeini yang dia lihat, mestinya membuat Dilan mengadukan kegalauannya itu pada Tuhan.

Meskipun rindu itu berat, namun karena tokoh tersebut menginspirasinya dekat dengan Tuhan, semuanya akan baik-baik saja.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

4 comments

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.