Locita

Membaca Kesehatan Mental Pekerja Kreatif

PERKEMBANGAN peradaban, salah satunya ditandai oleh kemajuan teknologi. Pekerjaan yang pada masa lalu harus dikerjakan banyak orang, sekarang sudah bisa digantikan dengan mesin. Manusia karena itu hanya berfungsi sebagai operator ataupun penjaga, supaya mesin dapat berkembang dengan baik.

Tidak hanya itu, teknologi juga menghadirkan beragam jenis pekerjaan baru. Kesemua pekerjaan baru tersebut bertumpu pada kecerdasan manusianya. Ini alasannya mengapa istilah pekerja kreatif menjadi populer. Misalnya, orang yang bekerja sebagai designer, creative writer dan web developer. Di samping harus menguasai skill tertentu, mereka harus dan dipaksa menemukan ide-ide baru supaya terdapat kekhasan dalam setiap karya.

Skill dan kreatifitas saja tidak cukup. Dalam ekonomi pasar yang berkembang, karya yang dihasilkan juga harus sesuai dengan permintaan konsumen, atau sesuai dengan kebutuhan mereka. Minimal, membuat populasi target merasa butuh akan karya mereka.

Tuntutan tidak berhenti disitu. Setelah karya mulai beredar dan dinikmati konsumen, para pekerja kreatif mesti menemukan ide baru lagi. Hal ini untuk memenuhi karakter khas manusia, tidak pernah puas. Mereka harus bisa memanjakan konsumen, supaya terus menikmati karya. Dengan begitu perjalanan perusahaan dimana mereka bekerja akan stabil dan mendapatkan profit yang banyak.

Situasi sedemikian rupa tentu sudah lazim diamati oleh manusia modern sehari-hari. Namun, satu masalah sering dilupakan, kesehatan mental para pekerja kreatif. Serikat Pekerja Media dan Industri Kreatif untuk Demokrasi (SINDIKASI) termasuk kelompok yang serius menyoroti hal ini melalui Worklife Balance Festival-nya.

Kalau karyawan kantoran yang biasa menjalankan administrasi atau mengurusi mesin, mereka sudah memiliki prosedur dan sistem yang baku. Kondisi pekerjaan yang dihadapi dari waktu ke waktu relatif sama. Akan halnya pekerja kreatif berbeda sama sekali. Mereka menghadapi pekerjaan begitu kompleks.

Seperti yang disinggung di awal tulisan setidaknya mereka menghadapi beberapa hal: skill yang  mumpuni, ide kreatif dan kesesuaian ide dengan target pasar.

Misalnya saja seorang web designer. Dia harus mengatur komposisi warna supaya sebuah situs enak dipandang. Selain itu dia juga harus memastikan tampilan website tersebut berbeda dengan yang lain. Plus, juga harus mengatur sedemikian rupa, supaya bisa dipakai dengan mudah oleh pengguna (user friendly).

Bisa dibayangkan bagaimana stresnya seseorang dalam situasi diatas. Apalagi terkadang harus bekerja hingga dini hari, supaya sepi menghidangkan inspirasi dengan damai.

Kompleksitas ini riskan terhadap kesehatan mental para pekerja kreatif. Mereka terpaksa sendirian dalam waktu yang lama. Akibatnya, kemampuan adaptasi mereka menjadi berkurang. Sebuah efek jangka panjang karena kurangnya intensitas bersosialiasi dengan orang lain. Apalagi, di zaman komunikasi yang serba virtual, bertatap muka dan memandang gestur tubuh lawan bicara sudah berkurang frekuensinya.

Efek sosialnya, perilaku terkadang tidak sesuai lagi dengan konteks dan lawan bicara. Meski ada kemungkinan asik di dunia maya, ternyata begitu pendiam ketika bertatap muka. Tutur kata menjadi tidak efektif dan membahayakan proses sosialiasi itu sendiri.

Dampak jangka panjang dari pekerjaan berbasis kreatifitas ini sebetulnya bisa dicegah. Bagi perusahaan, pekerja kreatif harus disediakan lingkungan kerja yang sehat. Tata letak ruangan harus bisa membuat para pekerja dapat berinteraksi dengan mudah. Senyum kolega setidaknya dapat menyegarkan mata yang lelah menatap monitor.

Budaya perusahaan yang nyaman juga suatu keharusan. Ini dibutuhkan supaya ada keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dengan motivasi eksternal.

Marahnya supervisor atau bos, sudah menjadi kelaziman dalam pekerjaan. Namun apresiasi, sekedar berkomentar “bagus” atau “terima kasih untuk hari ini”, menjadi hal penting ketika seseorang menyelesaikan pekerjaannya. Kelihatannya sederhana, namun terkadang ini menjadi faktor untuk menjaga kesejahteraan psikologis (psychological well- being) pekerja. Dan hal itu di luar upah yang dibayar oleh para bos.

Meskipun digaji dua digit untuk suatu proyek programming, alangkah tidak nyamannya ketika majikan menampakkan raut muka tidak senang setiap bertemu. Apalagi hanya menuntut supaya pekerjaan segera diselesaikan tanpa mengapresiasi, sekedar menawarkan sebatang rokok apalagi secangkir kopi.

Bagi individu pekerja kreatif menjaga mentalitas bisa dilakukan melalui peer group. Yakni, teman-teman dekat yang bisa berbagi keluh kesah. Mereka bisa bercengkrama untuk membahas topik-topik diluar pekerjaan. Meninggalkan gadget selama ngobrol lebih baik untuk menjaga proses interaksi yang efektif.

Bergabung dengan komunitas hobi juga pilihan yang patut dipertimbangkan. Komunitas kebugaran, pecinta alam dan organisasi sosial dapat memberikan intervensi terhadap tekanan yang dihadapi selama pekerjaan. Berada dalam situasi kelompok, seseorang akan dapat merasakan situasi orang lain. Ada orang yang lebih nyaman sekaligus ada juga yang lebih menderita dari pada dia.

Kesehatan mental para pekerja kreatif ini sangat penting diperhatikan. Teknologi tidak boleh membuat manusia mengalami proses dehumanisasi secara perlahan. Sulit untuk diterima apabila manusia, akibat bekerja di dunia digital secara intensif, menjadi kehilangan kepekaan dan empati terhadap sesamanya.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Add comment

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.