Locita

Memaklumi Kengototan Najwa Shihab dan Berbelit-belitnya Anies Baswedan

“IZINKAN saya selesaikan dulu.” Ekspresi keberatan ini akhirnya terlontar dari Anies Baswedan. Mungkin beliau tidak akan menyangka bahwa acara talkshow Mata Najwa yang sudah berkali-kali dia hadiri akan berlangsung “sepanas” itu. Najwa Shihab sang pembawa acara nampak sangat bersemangat. Beliau tidak segan-segan mencecar orang nomor satu di Jakarta ini dengan pertanyaan dan tanggapan. Tidak puas sampai disitu saja, Najwa Shihab bahkan menginterupsi Anies saat berbicara.

Beberapa warganet pun berseloroh dengan mengatakan bahwa talkshow yang bertemakan 100 hari kerja Anies-Sandi lebih mirip ujian sidang tesis. Mereka mengibaratkan Anies Baswedan sebagai mahasiswa dan Mbak Nana (sapaan akrab Najwa Shihab) sebagai pengujinya.  Yah, seperti pada umumnya, penguji kadang punya banyak stok pertanyaan yang sulit untuk dijawab dan si mahasiswa akan membela diri dengan memberikan jawaban berbelit-belit agar tetap terlihat pintar.

Analogi ini mungkin kurang tepat karena Mbak Nana tidak dalam kapasitas sebagai penanggap yang bertugas mendebat narasumber. Beliau hanya pembawa acara yang seharusnya menggali informasi dari narasumber. Sesekali memberikan pertanyaan nakal untuk menghibur penonton itu sudah lebih dari cukup.

Tapi seiring perkembangan waktu, semua itu berubah. Ketatnya persaingan di industri talkshow menuntut program Mata Najwa untuk berinovasi. Kesimpulan berharga ini datang dari ajang penghargaan Panasonic Gobel Awards 2017 yang lalu. Meskipun mendapatkan rating yang bagus, Program Mata Najwa terbukti masih kalah dengan program Rumah Uya. Program reality show yang dipandu oleh Uya Kuya ini keluar sebagai pemenang acara talkshow terfavorit mengalahkan 9 program talkshow lainnya.

Tak peduli apa kata orang. Mau dibilang acara tidak mendidik kek, hasil rekayasa kek, peduli setan! Toh pada kenyataannya masyarakat kita menyukainya. Karena sesungguhnya talkshow jaman now tidak lagi bergantung pada sisi edukasi atau kebaruan informasi belaka. Publik kita haus akan sensasi.

Pertanyaannya, bagaimana caranya membuat sensasi jika narasumbernya sekaliber Anies Baswedan? Rekam jejaknya sebagai public speaker yang sakti mandraguna tentu jadi ancaman yang nyata bagi Mata Najwa. Kelas Anies Baswedan tentu jauh berbeda dengan Frederich Yunadi ataupun Angel Lelga. Latar belakangnya sebagai akademisi dan mantan rektor tentu membuatnya dengan mudah untuk menjelaskan suatu gagasan dengan sistematis. Selain itu beliau juga mantan juru bicara tim sukses Jokowi-JK yang terlatih untuk menyampaikan pesan politik dengan jelas dan meyakinkan. Hari ini kita akan sangat sulit mencari sosok yang menandinginya. Setelah Ahok tidak ada, Anies Baswedan praktis tidak punya lawan yang sepadan.

Jadi tidak ada pilihan lain bagi Mbak Nana untuk tidak naik pangkat dari pembawa acara menjadi lawan debat. Setidaknya reputasinya sebagai presenter kondang yang berhasil menjatuhkan wibawa banyak politisi atau pejabat publik yang terbiasa bermain simbol dan retorika tidak boleh tercoreng. Lagi pula Mbak Nana juga tidak boleh abai dengan para haters Anies yang dengan sabar menjaga semangat agar terus berkarya. Minimal ada amunisi baru untuk nyinyir. Karena yakin dan percaya bahwa tanpa mereka linimasa kita terasa hampa.

Di sisi lain, Najwa Shihab tentu paham betul dengan celah dari pola kebijakan pro poor yang dijalankan pemerintahan Anies-Sandi di mata sebagian rakyat Jakarta. Pola pembangunan seperti ini bisa dikatakan antitesis dari kultur pemerintahan Jakarta yang identik dengan kebijakan pro growth yang cenderung developmentalis. Kelas menengah kita belum siap dengan tema-tema pemberdayaan masyarakat miskin, pengentasan kemiskinan, ataupun pembangunan partisipatif.

Kontroversi pengelolaan Tanah Abang misalnya. Anies memutuskan untuk menutup jalan dan memberikan ruang bagi pedagang kecil untuk berdagang. Mbak Nana menanggapi dengan menunjukkan kelemahan dari kebijakan tersebut. Beragam isu kontra kemudian diangkat mulai dari demo supir angkot, keluhan dari pedagang grosir, ketidaksepakatan dari pihak kepolisian serta praktek pungli.

Secara tidak langsung persepsi kita dikonstruksi untuk menafsirkan bahwa kebijakan tersebut tidak direncanakan dengan baik. Bukannya memperbaiki, kebijakan ini malah menambah kemacetan dan kesemrawutan. Bahkan mungkin tidak sedikit dari kita yang menganggap bahwa kebijakan menggusur pedagang PKL merupakan satu-satunya solusi untuk Tanah Abang.

Anies juga tidak bisa berkutik. Ideologi kebijakan pembangunan yang dipilih menuntutnya untuk mengakomodir seluruh kepentingan yang ada. Beliau tidak bisa merasa paling pintar dan menganggap bahwa apapun yang dia lakukan sempurna dan menjawab seluruh permasalahan yang ada. Tidak ada jalan lain selain mengatakan bahwa temuan Najwa Shihab merupakan feed back yang baik bagi kebijakan yang terus menerus diperbaharui.

Jadi ada baiknya untuk kita memaklumi keduanya. Ini cuma tuntutan peran yang harus dijalani. Anies Baswedan kini adalah seorang Gubernur yang tidak boleh mengulangi kesalahan para pendahulunya. Dia diikat oleh janji politik kepada konstituennya yang banyak berasal dari kalangan miskin perkotaan. Dia tak boleh asal menertibkan, tidak boleh asal gusur.

Mbak Nana pun demikian. Beliau cuma seorang operator dari industri media. Bukan malaikat yang tak pernah salah.

 

Alhe Laitte

Founder & CEO Locita.co

Add comment

Tentang Penulis

Alhe Laitte

Founder & CEO Locita.co

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.