Locita

Memahami Mahasiswa yang Mengeluhkan Kuliah Online

Kedatangan virus corona –yang namanya mirip dengan merek sebuah minuman beralkohol itu—mengubah banyak hal. Lebih tepatnya sih memaksa kita berubah, bagi yang belum terbiasa. Salah satunya ya proses belajar-mengajar yang dulunya tatap muka kini harus daring alias online.

Perkuliahan online tentu melibatkan seperangkat teknologi, mulai dari yang paling dasar berupa laptop, tablet, handphone, penggunaan internet, memakai aplikasi tertentu sampai menggunakan fitur-fitur. Dalam dunia yang makin modern namun begitu direpotkan dengan makhluk kecil bernama corona ini, kemampuan menggunakan teknologi menjadi salah satu simbol kemajuan.

Nah saya pikir, alih-alih mengutuk si corona, situasi ini adalah momentum kampus-kampus membuktikan dirinya sebagai ‘world class university’.

Sebuah tagline yang biasanya diusung untuk mempromosikan kampus. Jangan ngakulah ‘world class university’ kalau menggunakan online learning saja masih tidak tahu.

Tetapi apa boleh buat, kenyataannya memang seperti itu. Banyak kampus yang tidak siap dengan perubahan cepat dari pembelajaran offline ke online. Yah memang sih membuat tagline kampus masa depan tidak semudah dalam praktiknya.

Awalnya saya menduga hanya beberapa dosennya saja yang mengeluh dan tidak terbiasa dengan perkuliahan berbasis online. Ya apa boleh buat memang masih banyak dosen yang pikirannya tidak seprogresif perubahan zaman.

Umumnya mereka dosen tua yang juga dulunya diajar dengan sistem tradisional. Apalagi kalau kampusnya memang tidak menggenjot dan tidak memberikan pelatihan kalau-kalau suatu saat pembelajaran harus dialihkan ke online.

Tetapi ternyata bukan cuma dosennya saja yang dibuat repot dengan perkuliahan online ini. Mahasiswa-mahasiswa –yang mengaku milenial itu—juga kerepotan dengan sistem daring ini. Kuota? Iya tapi nanti dulu kita bahas ini.

Mahasiswa jaman now tidak semelek yang saya bayangkan, atau dalam sistem perkuliahan online ini, tidak seperti yang saya harapkan.

Meskipun mereka memiliki mungkin semua jenis sosial media dari Facebook sampai Instagram, bahkan mungkin kini punya akun TikTok, tidak semuanya serta merta cakap membuat akun pada aplikasi belajar online. Setidak-tidaknya ini pula pengalaman mengajar saya saat meminta mahasiswa membuat akun.

Ada mahasiswa yang masih bingung login meski username dan
password sudah diaturkan oleh admin IT kampus. Ada yang belum tahu cara meng-submit tugas meski di bawahnya sudah tersedia folder untuk submit tugas.

Ada yang kebingungan membuat username karena berkali-kali ditolak sistem. Padahal namanya hanya perlu diberi variasi angka atau karena tidak boleh diberi spasi. Ada pula karena namanya terlalu umum sehingga sudah digunakan orang lain. Sistem menolak namanya. Berkali-kali ia mencoba nama baru yang juga nama pasaran dan telah digunakan, berkali-kali itu pula ia gagal sampai sendiri merasa bosan dan ndumel.

“Yaelah masa gitu aja dak bisa paham.”

Barulah pada usaha kesekian baru berhasil. Ada pula yang karena
tidak dapat membuat akun, maka saya mengundangnya lewat email. Dalam email tersebut terdapat sebuah menu dengan tulisan tebal, kapital, dengan warna khusus dalam kotak “ACTIVATE ARIFUDDIN’S INVITATION”.

Sudah tentu, kita hanya perlu menekan tombol tersebut saja. Tapi mahasiswa itu justru kebingungan lalu meng-skrin shut lalu mengirimkan ke saya sambil bertanya dengan polos.

“Kak (iya dong mereka panggil kak), setelah ini diapain?”

Sambil tersenyum kecut, ingin saya sekali saya membalasnya,

“Terus diterawang sampai Indonesia masuk piala dunia.”

Tentu saja hanya dalam hati dan saya tidak benar-benar bermaksud demikian. Kan saya jadi tidak enak kalau dia baca tulisan ini.
Tetapi saya mengerti dan berusaha paham. Memang adakalanya saya menyadari bahwa ekpektasi saya sebagai dosen, yang pernah dimanjakan dengan teknologi saat berkuliah di luar negeri, membuat saya terlalu berharap tinggi. Saya lupa bahwa sistem negara kita belum sebaik negara maju.

Tentu saya tidak bisa berharap sama bahwa semua mahasiswa memiliki kemelekan yang sama, sekalipun mereka mengaku sebagai generasi paling maju. Tidak semua dari mereka memiliki akses ke teknologi. Ada dari mereka dari daerah yang sebelum kuliah lebih sibuk membantu orang tua daripada bermain mobile legend. Oh ternyata bijak sekali saya ini.

Maka sadar saya juga pernah demikian dan tidak semua hal juga saya tahu, saya bersedia mengarahkan mereka. Saya tidak keberatan jika mereka menghubungi lewat WhatsApp atau DM di Instagram sekalipun. Ini hanya soal pembiasaan. Teknologi sama seperti itu. Kemelekan pada teknologi tidak melulu soal siapa yang lahir belakangan maka ia akan lebih update daripada yang lahir lebih dahulu. Ini hanya soal kemauan dan pembiasaan saja. Toh banyak orang tua yang bisa jadi lebih melek teknologi daripada mahasiswa itu sendiri.

Keluhan mahasiswa lainnya dan tampaknya ini keluhan yang serius adalah kuota internet. Saya mendapati –dan tersebar di sosial media—selebaran tuntutan dari mahasiswa kepada kampus dan dosen untuk tidak memberikan tugas terlalu banyak. Tugas-tugas itu membuat mereka pusing. Apalagi jika setiap mata kuliah juga memberikan tugas yang banyak. Tentu mereka tidak bisa lagi berlama-lama menonton YouTube atau main game sesuka hati.
Sekali waktu saya meniadakan tugas rutin pada saat kuliah offline agar tidak merepotkan dan mereka bisa fokus pada tugas utamanya. Nyatanya sama saja.

Saya jadi ingat teman saat kuliah di Amrik yang dengan pedenya datang memprotes ke profesor kami karena terlalu banyak tugas.
“Kalau kamu mau yang mudah-mudah saja, semua orang juga bisa kuliah master dan selesai.”

Teman saya itu pulang dengan muka merah dan hati penuh dongkol. Ada satu pantangan saya saat setiap mata kuliah di Amrik –yang sebagian besar penuh dengan tugas itu meskipun bukan kelas online—yaitu pantang mengeluh ke dosen lain jika dosen lain juga memberikan tugas. Sebab dosennya bisa merasa tidak dihargai dan merasa kuliahnya tidak dianggap lebih penting.

Lagipula saya sering penasaran sebanyak apa tugas mereka. Saya kadang curiga jangan-jangan adek-adek mahasiswa mengira karena perkuliahan tatap muka di kampus ditiadakan lantas mengira libur.

Helllooo…

Perkuliahan hanya dialihkan dalam bentuk online. Dengan begitu perkuliahan tetap berlangsung dan tugas tetap berjalan.

Mahasiswa pada protes. Mereka meminta uang SPP dikembalikan karena tidak mendapatkan ilmu apa-apa lewat perkuliahan online. Padahal kuliah online tinggal di rumah atau kosan. Bisa sambil rebahan. Baju boleh atasan saja yang rapi. Celananya boleh cukup pake boxer. Makan bisa di rumah. Hemat uang jajan dan bensin.

Jika kuliah online ini dikeluhkan dan dianggap tidak penting, apa kabar sistem kerja sekarang yang kini semua mengarah pada sistem online? Saya jadi ragu generasi seperti ini mampu bersaing setelah wisuda yang siapa tahu wisudanya juga wisuda online.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.