Locita

Melihat Pidato Prabowo Melalui Pendekatan Noam Chomsky

Ilustrasi (sumber foto: Antara)
Ilustrasi (sumber foto: Antara)

POTONGAN video pidato Prabowo yang diunggah melalui akun facebook partai Gerindra menuai kontroversi.

Dalam potongan pidato tersebut, terlihat Prabowo dengan gaya pidatonya yang menggebu-gebu menyampaikan bahwa Indonesia diprediksi tidak akan ada lagi di tahun 2030.

Dalam pidatonya, Prabowo banyak menyoroti persoalan ekonomi Indonesia. Prabowo mengatakan bahwa sumber daya Indonesia telah dikuasai oleh asing. Kekayaan negara banyak yang dibawa ke luar negeri. Prabowo menganggap hal tersebut sebagai faktor yang merusak bangsa.

Tidak sampai disitu saja, Wakil Ketua Umum Gerindra kanda Fadli Zon menegaskan bahwa yang disampaikan oleh Prabowo merupakan peringatan. Menurut kandayya, jika cara memimpin Indonesia seperti sekarang, ya bisa kacau, sebagaimana yang dilansir di detiknews.

Bahkan Fadli mengambil Uni Soviet sebagai contoh. Salah satu negara adidaya dengan komposisi pemerintahan yang begitu kuat, ternyata hanya mampu berusia 70 tahun.

Menurutnya apa yang terjadi di Uni Soviet bisa saja terjadi di Indonesia. Apalagi jika pemerintah Indonesia salah langkah dalam persoalan penanganan hutang.

Menurut saya ini kita sudah banyak salah jalan ya masuk ke jerat utang dan lain,” ujarnya kepada detiknews.

Ungkapan-ungkapan kanda Fadli di media, kita wajarakan saja. Karena memang sudah menjadi kenyataan bahwa kritik terhadap pemerintah bagaikan sayur tanpa garam, jika kanda Fadli tidak ada.

Tapi saya tidak ingin mengomentari atau menguji fakta yang disampaikan oleh Prabowo. Karena data yang disajikan M.Farid Salman Alfarisi RM  melalui tulisannya Menyoal Pidato Prabowo, Indonesia Bubar 2030? di Locita sudah cukup menjadi jawaban atas sikap pesimisme Pak Prabowo.

***

Noam Choamsky bukanlah merupakan sosok yang baru dalam kajian-kajian kontemporer. Pemikiran-pemikirannya banyak digunakan sebagai pisau analisis dalam melihat konteks kekinian.

Ia dikenal sebagai tokoh yang melawan arus kemapanan (anti kemapanan). Choamsky sering memberikan perspektif yang berbeda terutama dalam hal kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika.

Di dalam bukunya Politik Kuasa Media, Choamsky menjelaskan cara pemerintahan Amerika dalam mengarahkan opini publik untuk mendukung setiap invasi yang mereka lakukan.

Pada dasarnya, penduduk Amerika adalah orang-orang yang tidak menginginkan peperangan. Mereka sama sekali tidak menemukan alasan untuk terlibat dalam peperangan.

Hanya saja melalui bangunan narasi yang tersistematis, masyarakat yang tadinya benci dengan peperangan berubah menjadi orang yang haus akan peperangan. Mereka menganggap bahwa mereka perlu terlibat dalam peperangan sebagai bentuk penyelamatan dunia.

Mei 1986, seorang bekas tawanan Kuba, Armando Valladers melalui memoir-nya menjelaskan tentang sistem penyiksaan Castro dalam menghabiskan musuh-musuh politiknya.

Sebagaimana yang diberitakan Washington Post dan New York Times Castro dilukiskan sebagai preman diktator. Dan intelektual barat digambarkan sebagai sosok yang bersedia untuk menentang Castro.

Di era kepemimpinan Goerge Bush, strategi yang sama dilancarkan. Saat itu Rusia tidak lagi bisa dikonstruk sebagai monster, karena posisinya sebagai musuh semakin meredup.

Rusia saat itu sudah tidak cukup mempesona untuk dijadikan sebagai kambing hitam. Oleh karena itu monster-monster baru perlu dimunculkan. Hal ini penting, agar publik senantiasa merasa keamanannya terancam sehingga mereka harus mempertahankan diri.

Monster baru yang diciptakan di era George Bush adalah Saddam Husein. Sosok Saddam Husein ditampilkan untuk menakut-nakuti publik. Saddam ditampilkan ke publik sebagai sosok yang begitu ambisius untuk menguasai dunia. Dia siap menjarah apa saja.

Hal tersebut dipercayai oleh publik Amerika. Pada titik ini, Bush membangun sentiment Kita harus menghentikannya sekarang juga.

Namun ada hal yang tidak terpikirkan oleh publik. Bahwa bagaimana mungkin sebuah negara dunia ketiga tanpa industri bisa menjelma menjadi kekuatan besar ?

Terlebih lagi, fakta menunjukkan bahwa Irak telah berperang dengan Iran selama delapan tahun yang hasilnya tidak dimenangkan oleh Irak. Tentu pertanyaan yang muncul, bagaimana mungkin sebuah negara yang tidak menang dalam sebuah perang teluk, tiba-tiba ingin menguasai dunia ?

***

Ada kesan kekhawatiran dan ketakutan yang dibangun dalam pidato Prabowo. Hal tersebut dipertegas dengan argumentasi Fadli Zon di atas yang cenderung mendramatisir keadaan bahwa seolah-olah Indonesia akan benar-benar bubar di tahun 2030.

Bagi orang-orang yang kontra dengan Gerindra, mereka akan melihat bahwa politisi Gerindra sedang berusaha menggiring publik untuk tidak percaya pada rezim Jokowi.

Hal ini akan menggerus elektabilitas Jokowi yang tentunya memberikan keuntungan bagi kandidat yang akan diusung oleh Gerindra pada pilpres mendatang.

Statement Ferry Julianto turut mempertegas narasi yang hendak dibangun pada pidato Prabowo tersebut. Ferry berpendapat bahwa Indonesia memang sedang menjadi rebutan negara lain.

Secara De jure Indonesia bisa saja masih ada, namun secara de facto, sudah bukan kita lagi.

Ia kemudian melanjutkan bahwa Gerindra sebagai partai politik juga memiliki tanggung jawab untuk persoalan keberlangsungan negara. Ferry menekankan bahwa Gerindra adalah alat perjuangan politik kita semua untuk menghadapi soal itu.

Narasi yang dibangun oleh Gerindra identik dengan pola narasi Amerika sebagaimana yang dijelaskan oleh Choamsky. Pemikira public dikonstruk untuk khawatir dengan hal-hal yang sifatnya abstrak.

Rezim yang sedang berkuasa dicitrakan sebagai pemerintahan yang gagal dan dapat menjerumuskan negara dalam kehancuran, namun tidak melihat fakta-fakta yang ada secara detail.

Setelah itu, Gerindra menawarkan diri sebagai alat perjuangan politik publik untuk menghadapi kekhawatiran tersebut.

Sepertinya Prabowo lupa melihat data IMF pada tahun 2016 yang menempatkan Indonesia di peringkat 8 dengan total produk domestik bruto (PDB) USD 3028 miliar.

Bahkan Pwc memprediksi ekonomi Indonesia akan berada pada peringkat 5 besar di tahun 2030.

Sebagai partai oposisi, semestinya Gerindra menawarkan alternatif kebijakan di tengah kemelut persoalan dalam negeri. Bukan justru berputar pada isu-isu yang bernuansa primordial sebagaimana yang disebutkan oleh Raja Julie Antoni.

Namun, terlepas dari pro-kontra pidato tersebut, sebagai publik kita hanya bisa memberikan interpretasi sesuai dengan kapasitas pengetahuan kita.

Karena hanya Prabowo, Gerindra dan Tuhan yang tahu pasti maksud dari pidato tersebut.

Akhir kata, meminjam kalimat Pak Prabowo pada pidatonya “Tidak enak kita bicara, tapi sudah tidak ada waktu untuk kita pura-pura lagi”.

A.Achmad Fauzi Rafsanjani

Ketua Umum Rumpun Pemuda Wajo yang nongkrong di Lingkar Mahasiswa Islam Untuk Perubahan (LISAN) Cabang Makassar. Sedang berjuang mengenakan toga di Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Add comment

Tentang Penulis

A.Achmad Fauzi Rafsanjani

Ketua Umum Rumpun Pemuda Wajo yang nongkrong di Lingkar Mahasiswa Islam Untuk Perubahan (LISAN) Cabang Makassar. Sedang berjuang mengenakan toga di Politeknik Negeri Ujung Pandang.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.