Locita

Melepaskan Bangsa dari Endapan Korupsi

Ilustrasi : mediaindonesia.com

PAKAR geologi dan vulkanologi dunia mengakui bahwa Indonesia merupakan pusat dari deretan gunung api yang membelit bumi. Sabuk pasifik dan sabuk mediterania yang menjadi rangkaian cincin api dunia bertemu tepat di jantung Indonesia. Tidak heran, jika gempa vulkanik dan letusan gunung berapi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.

Disisi lain, para ahli hukum dan keuangan dunia juga berspekulasi bahwa Indonesia telah menjadi pusat dari kejahatan korupsi. Melibatkan aktifitas keuangan lokal maupun global.

Rentetan kasus korupsi dari Sabang sampai Merauke yang berhasil dibongkar oleh lembaga anti rasuah (KPK) dalam satu dekade terakhir menjadi catatan penting tentang bahaya besar kejahatan kerah putih tersebut. Para pelaku korupsi telah mewabah dalam berbagai level dan melibatkan berbagai aktor dari pejabat tinggi hingga pegawai rendahan.

Dan lihatlah, kini gelegar erupsi Gunung Agung di Bali bergelindang dengan peluit pemberantasan korupsi oleh KPK, dan berhadap-hadapan dengan tokoh-tokoh penting dan terhormat. Negeri ini telah menjelma menjadi episentrum korupsi dan gunung api, lalu apa hubungan antara korupsi dan gunung api?

Konon, Niccolo Di Bernardo Machiavelli seorang filosof dari Italia mengembangkan narasi hubungan antara korupsi dan gunung api dalam naskahnya, Discorsi Di Niccolo Machiavelli, Citadino, et Segretario Fiorentino, Sopra La Prima Deca Di Tito Livio, a Zanobi Buondelmonti, et a Casimo Rucellai (Percakapan Niccolo Machiavelli, Kanselir, dan Sekertaris Dewan Republik Firenze, dengan Sepuluh Buku Pertama karya Titus Livius untuk Zanobi Buondelmonti dan Casimo Rucelai). Disingkat Discorsi alias Politik Kerakyatan.

Ia menggali sejarah Romawi dan Yunani kuno. Diantaranya dialog antara Alexander Agung dengan arsiteknya Deinocrates. Sang arsitek menyarankan kepada Alexander agar membangun kota untuk mengabadikan kebesarannya di atas gunung Athos di dataran tinggi Salonika yang gersang dan strategis sehingga bisa menjadi pertahanan alami dan mudah dipertahankan. Alexander lantas bertanya, “lalu bagaimana dan dari mana rakyat dapat hidup?”.

Alexander Agung lalu membangun kota baru tersebut di dataran rendah lembah nil yang subur dan sampai saat ini dikenal sebagai Kota Aleksandria. Hampir seluruh peradaban besar dunia dibangun di daerah subur seperti peradaban Aztec dan Inca di Amerika, mahenjo Daro dan Harappa di India, Peradaban China, juga Peradaban Romawi di Tepi Sungai Tiber.

Machiavelli, lebih jauh masuk ke kehidupan msayarakat Kota Pompei di kaki Gunung Vesupius yang makmur dan sejahtera sebagai lokus inspirasinya.  Menurut Machiavelli, membangun kota di daerah subur untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat, rentan dirusak oleh sifat manja, malas, tamak, lalu berakhir ke praktek suap dan korupsi.

Bagaimana dengan Indonesia? Negeri ini mendapatkan berkah gunung api yang membawa lahar dan material vulkanik yang menyuburkan lahan pertanian dan perkebunan. Lalu, perlahan berkah itu juga membawa petaka malas, manja, tamak, juga korupsi pada rakyatnya. Korupsi telah mengakar sebagai budaya yang membelit akar rumput sampai ke puncak kepemimpinan.

Skandal ini telah melibatkan puncak elit seperti para menteri, pimpinan lembaga tinggi negara (ketua DPR dan DPD RI), para gubernur, bupati, hingga pegawai rendahan semacam Gayus Tambunan.

Dalam hikayat Discorsi, Machiavelli lebih jauh menuliskan bahwa jika korupsi hanya terbatas pada level kepemimpinan. Sementara rakyat belum terkena wabahnya, maka masih dapat diobati dengan syarat pucuk kepemimpinan harus ditebas. Ini yang terjadi pada Republik Roma yang masih bertahan 500 tahun pasca digulingkannya Raja Tarquin yang korup pada tahun 509 SM.

Sebaliknya, jika wabah korupsi telah menjalar pada semua sendi kehidupan melibatkan pemimpin dan rakyat. Sulit untuk mempertahankan sebuah republik. Itu juga yang terjadi pada Republik Roma yang dilanda korupsi sejak era Julius Caesar sampe menuju keruntuhannya.

Korupsi memang kejahatan luar biasa yang membutuhkan penanganan yang juga luar biasa. Kepemimpinan yang kuat dan tegas adalah prasyarat utama bagi pemberantasan korupsi, terutama terhadap keluarga dan kalangan pejabat dalam lingkar kekuasaan. Inilah yang dapat ditiru dari gaya kepemimpinan Ratu Shima (648-674 M) di Kerajaan Kalingga, berani menghukum anaknya sendiri yang ketahuan mencuri.

Sebaliknya, ditangan penguasa berwatak lemah dan rakus, korupsi menjadi praktek legal dan liar. Beroperasi dalam bentuk upeti dan persembahan dikalangan aristokrasi untuk tujuan-tujuan tertentu seperti promosi jabatan. Hal ini bisa dilacak dalam sejarah Mataram Kuno sampai Mataram Islam dalam rentetan berbagai wangsa yang berkuasa di Mataram dari era Kediri, Singosari, Majapahit, hingga Demak.

Disini, berkah Gunung Merapi dan lingkaran pegunungan api di tanah jawa kembali menjadi musabab munculnya sifat malas, manja, tamak, dan korupsi.

Akhirnya, rentetan erupsi Gunung Api sepanjang dua sabuk cincin api mulai dari Gunung Merapi, Krakatau, Gamalama, Sinabung, hingga Gunung Agung seakan menyiratkan pesan bahwa negeri ini makin dekat dan akan terus menjadi sarang korupsi, hingga datang Sang Ratu Adil dari kawah candra dimuka untuk membebaskan Indonesia dari wabah korupsi.

Teori kausalitas “gunung api dan korupsi” lahir dari pemikiran seorang filosof dan pemikir politik klasik – Niccolo Di Bernardo Machiavelli – yang sering disalahpahami dan terlanjur diasosiasikan dengan karakter politik antagonis ala machiavelian.

Machiavelli bukan pengusung teori politik kekuasaan menghalakan segala secara, sebagaimana ditulis dalam salah satu karya terkenalnya Il Principle. Narasi-narasi antagonis tentang cara merebut dan mempertahankan kekuasaan dikemukakan apa adanya berdasarkan pengalaman sejarah.

Nyatanya, Machiavelli lebih memilih sistem republik sebagaimana telah ditegaskannya dalam karyanya yang lain, Discorsi. Ia menegaskan: “Kita tahu yang baik itu apa, tetapi kita sering tidak mampu melakukannya. Salah satu yang baik dan dapat dilakukan adalah sistem pemerintahan republik!”.

Kejernihan pilihan moralnya ini sejalan dengan jernihnya ia menarasikan hubungan antara korupsi dan gunung api. Sebuah kebenaran yang ditemukab pada arena korupsi di Republik Indonesia jaman now.

Ahmad Mony

Ahmad Mony

Baca, Diskusi, Tulis

Tentang Penulis

Ahmad Mony

Ahmad Mony

Baca, Diskusi, Tulis

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.