Locita

Mbak-mbak… Laki-laki Itu Hewan Yang Berakal Juga, Lho… Karena laki-laki dan perempuan itu sama-sama manusia

foto : brilio

Ditakdirkan menjadi seorang laki-laki itu ribet. Ngomong seksi ke cewek dianggap pelecehan, ngomong jelek kena body shaming, mau memprotes wacana dianggap patriarki. Apa cewek-cewek ini ngerti kalau laki-laki itu manusia? Yang namanya manusia itu, hewan yang berakal, lho. Kalau hewan itu adanya nafsu, tok, dan manusia plus akal dan nurani.

Persoalan kekerasan seksual makin hari makin banyak dibahas oleh kalangan aktivis, dan itu lebih ketimbang bahas halal haram tahun baruan, eh. Masalahnya, persoalan korelasi pakaian dan pelecehan seksual menuai pro dan kontra. Baru-baru ini Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) mengeluarkan hasil riset, bahwa sebanyak 18% korban pelecehan seksual menggunakan celana panjang, 16% seragam sekolah, 17% hijab, dan 14% baju longgar (tirto.id, 22 Juli 2019).

Keterangan yang bisa dikulik hanya sebatas jumlah responden yang tersebar di seluruh Provinsi di Indonesia. Jumlah totalnya, 62.224 responden terdiri dari 38.766 perempuan, 23.403 laki-laki, dan sisanya gender lainnya. Sementara detik.com menyebut jumlah responden perempuan sebanyak 32.341. Untuk korban yang berhijab, angka 17% itu terbagi dari hijab panjang dan pendek dengan rincian, 13,20% Berhijab pendek/sedang, 3,68% Berhijab panjang, Berhijab dan bercadar 0,17% (Detik.com, 23 Juli 2019).

Menurut pendiri kelompok perEMPUan, Rika Rosvianti, metode yang dipakai dalam penelitian ini menggunakan kuesioner via mailing list, dan media sosial. Ia menyebut tidak ada margin of error dan angka tingkat kepercayaannya pun tak dicantumkan. “Walaupun begitu, hasil surveinya tetap valid karena merupakan kisah nyata dari ribuan orang di Indonesia,” katanya (detik.com).

Dari sini saya tidak tahu apakah bisa dipercaya atau tidak model penelitian semacam ini, sebab, hasil riset ini menjadi salah satu acuan kesimpulan, bahwa pakaian dan kekerasan seksual tidak ada hubungannya. Melihat perdebatan ini, saya teringat pada suatu kaidah Fiqh yang simplenya begini, Hukum suatu perkara itu tergantung pada tujuannya. Contoh dari kaidah Fiqh ini adalah, hukum dasar Wudlu’ itu sunah, cuma ketika mau (tujuan) Salat wajib suci, maka hukum dari bersuci (wudlu) itu menjadi wajib. Apa kaitannya dengan menganalogikan ini?

Begini sekali lagi, laki-laki itu juga manusia yang terdiri nafsu dan nurani. Nah, sulit kiranya jika pakaian seksi tidak bisa membangkitakan gairah seksual (nafsu). “Seksi” menurut KBBI memiliki makna merangsang berahi, yang bisa jadi memang berasal dari suku kata seks. Lalu bagaimana ceritanya para kaum hawa ini ngomong, kalau cowok (maaf) sange melihat cewek berbaju seksi berarti otaknya memang mesum? Sementara pakaian seksi bermakna pakaian yang (bertujuan) menyebabkan bangkitnya berahi.

Sebelumnya pembaca yang budiman perlu saya garis bawahi, bahwa saya bukan hendak berlaku patriarki, tidak sama sekali. Tulisan ini tetap berada pada posisi tengah dengan tidak berpihak pada laki-laki maupun perempuan. Atas alasan apapun saya tetap menolak seluruh kekerasan seksual, baik kepada laki-laki maupun perempuan. So, kita sama-sama berusaha melihat persoalan ini secara adil dan menyeluruh, deal? Ok, lanjut…

Ada pepatah mengatakan, kelemahan laki-laki itu ada pada matanya (visual), sementara perempuan di telinganya (audio). Jika laki-laki bernafsu saat matanya melihat ‘keindahan’ terus dianggap otak mesum, kira-kira boleh gak kami menyebut perempuan yang klepek-klepek jatuh hati karena rayuan (audio), lalu nangis pas diputusin itu disebut bodoh karena telinganya sembarangan mendengar rayuan laki-laki? Pasti menolak dan menyebut itu menyakitkan, padahal kami juga merasakan sakit yang sama, mbak.

Kalau pakaian seksi diciptakan tidak untuk membangkitkan gairah seksual, ngapain coba cewek-cewek yang (mau) dijadikan objek foto majalah pria dewasa menggunakan pakaian seksi? Kalau laki-laki dituntut tidak bernafsu melihat tubuh seksi perempuan, ngapain pasangan (maaf) telanjang saat hendak berhubungan seks? Sepakat-kan, kalau itu momen terseksi? Memang kata Raditya Dika, cewek menilai cowok kalau gak brengsek ya homo.

Kalau boleh mengulik dikit riset di atas, benar bahwa perempuan berhijab tidak luput dari pelecehan seksual. Tapi saya pribadi tidak tahu, berjilbabnya yang gimana. Kita pasti masih ingat dong istilah jilbob? Itu lho cewek-cewek berjilbab tapi bajunya transparan, itu juga berjilbab. Riset di atas juga menunjukan korban pelecehan seksual ‘hanya’ 0,17% yang menimpa perempuan berjilbab dan bercadar. Memang ada, tapi ‘hanya’ nol koma.

Sampai sini jelas saya tidak sedang berkampanye syar’i – syar’ian macam mbak-mbak hijrah, toh tak semua orang yang gak berjilbab terlihat seksi. Jadi poin yang saya soroti adalah pakaian seksi, semoga paham, lah, ya. Kalau gak paham juga, itu kayak Mbak Najwa Shihab gak berljibab apalagi bercadar, dan saya yakin secara umum laki-laki tidak akan sange, paling pengen memiliki tapi gak mungkin bisa tercapai. Secara dia perempuan elegan plus cerdas, lagi.

Menurut seorang teman perempuan yang menjadi aktivis organisasi Cipayung bilang, perempuan bercantik ria (termasuk juga berseksi ria) itu agar terlihat paling cantik di antara yang lain. Mungkin pernyataan itu perlu dikaji lebih lanjut benar dan tidaknya. Kalau itu benar justru aneh, sebab, apa standarnya perempuan paling cantik dari yang lain? Pasti keterpikatan laki-laki, kecuali mbak-mbaknya anu…

Itu repotnya jadi laki-laki tulen macam saya ini, ngomong cantik dibilang genit-lah, peres-lah, ngomong seksi malah divonis mesum. Giliran nyebut padanan kata jelek macam “gendut” kena-deh body shaming.

Memang sih laki-laki disuruh menundukan pandangannya, dan dalil itu sering dijadikan pembenaran. Cuma kan, mbak-mbak juga harus menjaga badannya. Laki-laki itu manusia, yang namanya manusia hewan yang berakal. Kalau disenggol kelemahannya (mata), bisa jadi sifat hewaninya yang muncul, sebelum fungsi nuraninya bisa mencegah atau tidak perbuatannya.

Kata bang Napi di RCTI OKE, kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat dari pelakunya, tapi juga karena ada kesempatan, waspadalah… waspadalah..!!! Ibarat motor kalau ditinggal beserta kuncinya, orang yang awalnya tidak mau mencuri jadi kepingin mencuri. Tapi kalau motor sudah dikunci setir tapi masih dicuri, itu baru namanya bangsat. Setuju?

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Tentang Penulis

Addarori Ibnu Wardi

Addarori Ibnu Wardi

Orang biasa yang lahir dari orang tua petani dengan mimpi yang mengalir. Untuk melihat kesehariannya, bisa dicek di Facebook Addarori Ibnu Wardi, twitter @ibnu_wardi, Instagram @ibnuwardi, Youtube Channel Addarori Ibnu Wardi. :)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.