Locita

Masihkah Kita Mampu Berdamai Setelah Pilpres?

Barangkali ini mungkin bagian ini yang akan selalu terjadi dalam proses pemilihan umum (Pemilu). Seseorang atau kelompok yang berbeda pilihan, memasang pagar antara kelompok atau orang yang tak saling dukung.

Tak peduli jika orang itu adalah kerabat atau teman dekat. Menghargai perbedaan sungguh menjadi hal yang langka akhir-akhir ini. Fenomena yang sekaligus dapat menjadi isyarat bila kita belum mampu menerima konsep keberagaman yang kita miliki. Kecenderungan menjadi yang terbaik dan merasa paling benar-benar, amat berbahaya.

Beberapa kejadian terjadi, bahkan pada hubungan suami istri sekalipun. Mereka bercerai gara-gara beda pilihan. Salah seorang kawan saya dari Kalimantan Selatan, mesti dicerca oleh beberapa orang keluarganya lantaran berbeda pilihan.

Belum lagi di lingkaran yang lebih besar, di beberapa daerah para pendukung kerap bersitegang dan saling mencela hanya demi memperlihatkan pilihan terbaiknya. Hingga nyawa pun kadang dipertaruhkan.

Tentu terdengar ganjil. Tapi, manusia selalu punya keganjilannya masing-masing.
Di lingkup pemilihan calon legislatif, beberapa berita memperlihatkan para caleg yang gagal menuntut para pendukung. Beranggapan akan meraup suara yang besar setelah menggelontorkan dana habis-habisan, hal sebaliknya sering terjadi.

Semua ketegangan selepas pemilu, sekiranya dapat kembali dilenturkan dan bersama-sama belajar menerima kenyataan yang ada. Begitu mudah mencintai harapan, amat sulit menerima kenyataan yang berbanding terbalik dengan harapan.

Jelas saja, ini bisa menjadi perangkap. Sejauh mana kita mampu memaafkan diri sendiri hingga orang lain agar kembali menerima kenyataan yang ada?

Bagi seorang Sigmund Freud, jiwa manusia seperti gunung es. Bagian terluar yang nampak menjadi simbol atas kesadaran, sedangkan pada bagian terdalam menjadi ruang yang lebih besar atas ketidaksadaran. Perilaku kita kerap digerakkan oleh alam ketidaksadaran.

Pemaafan yang tulus, dapat menjadi jembatan antara ketidaksadaran dan kesadaran itu sendiri dalam membentuk perdamaian bagi diri pribadi hingga orang lain. Pemilu berlalu dan tampak seperti perang yang mengorbankan banyak hal di antara kita.

Dalam kajian psikoanalisis yang dijelaskan Freud, setiap individu sejatinya terus melakukan perlawanan antara struktur psikologis yang dimiliki. Hal itu menjadi sesuatu yang begitu sulit.

Tapi, dalam ruang kajian psikologi perdamaian, mereka percaya, jauh lebih mudah untuk belajar berdamai dibanding melakukan perlawanan atau perang. Mempelajari perdamaian dalam diri bukanlah sesuatu yang mudah dijelaskan, bagaimana pun jalan menuju perdamaian membutuhkan proses panjang dan berliku. Mereka – para peneliti perdamaian – masih meramu langkah untuk menciptakan perdamaian.

Selama ini, kita masih terus berperang dengan diri sendiri. Tak tuntas dengan diri sendiri, kita pun menyerang orang lain dengan cara yang disadari atau tidak disadari. Menghilangkan hal tersebut, para peneliti psikologi perdamaian berharap dapat mewujudkan lahirnya “social harmony”.

Kondisi di mana tiap kelompok yang ada di dalam struktur terjalin damai dan memiliki kesetaraan. Setiap individu memberi kontribusi untuk mewujudkan cita-cita luhur tersebut.

Di sekitar kita hari ini, setelah beban psikis sebelum dan sesudah pemilu, sebuah tantangan tersendiri untuk mewujudkan perdamaian itu.

Mengapa? Sebelumnya, ada pagar di antara kita yang menjulang tinggi, tebal, dan berdiri dengan sangat kuat akibat pilihan masing-masing. Bila tidak dilepaskan dalam waktu tertentu, bisa jadi itu akan menjadi bom waktu di masa depan.

Pemaafan akan sulit diberikan bila hal-hal semacam itu tak diatasi secepatnya. Kemungkinan terburuk, jika semua hal itu disimpan dalam ruang ketidaksadaran dan kita berpura-pura bahwa semua baik-baik saja.

Membayangkan tiap pemilu kita habiskan dengan peristiwa seperti ini yang berulang, dapat menjadi benalu guna menciptakan harmoni sosial. Perbedaan sekiranya dapat dirayakan dengan lebih dewasa.

Pemilu dapat menjadi salah satu pintu untuk memasuki cara kerja masyarakat kita hari ini. Kelapangan hati untuk saling menghargai masih menjadi PR kita bersama.

Di kesempatan lain, barangkali saja kita patut membangun komunitas perdamaian yang lebih besar. Sebuah institusi penting yang bertugas merajut harmoni dalam pertikaian yang tercipta.

Tujuannya untuk mencapai terwujudnya harmoni sosial di Indonesia, terlebih lagi setelah terpecah belah akibat perbedaan pilihan yang ada atau beberapa hal yang mungkin memicu perpecahan.

Masih kurangnya kajian perdamaian di Indonesia, mungkin saja menjadi salah satu sebab kurangnya perhatian kita pada sejumlah isyarat perpecahan. Cepat atau lambat, kita penting untuk mewujudkan harmoni sosial, yang sebenarnya dapat menjadi penjabaran dari sila kelima “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” tapi, selalu ada tetapi.

Kita perlu kembali melakukan refleksi lebih mendalam, masihkah kita mampu berdamai setelah pilpres? Steven Pinker, salah seorang psikolog kognitif, juga menitipkan pertanyaan dalam beberapa bukunya, “Apa yang mampu menciptakan kedamaian?”

Wawan Kurniawan

Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wnkurn

27 comments

  • If some one desires expert view about blogging and site-building after that i advise him/her to pay a quick visit this webpage, Keep up the good job.
    Maglia Lazio

  • Spot on with this write-up, I truly assume this website wants much more consideration. I抣l in all probability be again to learn far more, thanks for that info.

  • After research just a few of the weblog posts in your website now, and I truly like your method of blogging. I bookmarked it to my bookmark web site listing and shall be checking again soon. Pls check out my web site as effectively and let me know what you think.

  • I discovered your weblog web site on google and check a number of of your early posts. Continue to maintain up the excellent operate. I just further up your RSS feed to my MSN News Reader. Searching for ahead to reading extra from you in a while!?

  • I used to be more than happy to seek out this web-site.I wished to thanks for your time for this glorious learn!! I definitely enjoying every little little bit of it and I’ve you bookmarked to take a look at new stuff you blog post.

  • air jordan 11

    I enjoy you because of your whole labor on this web page. Gloria takes pleasure in conducting investigation and it’s really easy to see why. Most people notice all regarding the dynamic form you give simple steps by means of your website and in additi…

  • Hi there, I found your site by means of Google at the same time as searching for a related subject,
    your website got here up, it appears great. I have bookmarked
    it in my google bookmarks.
    Hi there, simply became aware of your blog via Google, and found
    that it’s truly informative. I’m gonna watch out for brussels.
    I’ll appreciate should you proceed this in future. Lots of
    other folks will be benefited out of your writing. Cheers!

  • Great work! This is the type of information that should be shared around the net. Shame on the search engines for not positioning this post higher! Come on over and visit my website . Thanks =)

  • Your mode of telling all in this paragraph
    is actually good, every one can effortlessly know it, Thanks a lot.

  • Hey there! Would you mind if I share your blog with my myspace group? There’s a lot of folks that I think would really enjoy your content. Please let me know. Thanks

  • Thank you for some other informative blog. Where else may I get that type of info
    written in such an ideal method? I’ve a challenge
    that I am simply now operating on, and I have been on the glance out for such
    info.

  • An impressive share! I’ve just forwarded this onto a
    friend who was conducting a little homework on this.
    And he in fact ordered me dinner due to the fact that I found it for him…
    lol. So let me reword this…. Thank YOU for the meal!! But yeah,
    thanx for spending some time to talk about this matter here on your website.

  • We’re a group of volunteers and starting a new scheme in our community.
    Your web site provided us with helpful information to work on. You have performed an impressive process and our entire community shall be grateful to
    you.

  • After I initially commented I seem to have
    clicked the -Notify me when new comments are added- checkbox and
    now every time a comment is added I get four emails with the
    exact same comment. Is there an easy method you can remove me
    from that service? Cheers!

  • Fantastic site you have here but I was curious if you knew of any user discussion forums that cover the
    same topics discussed here? I’d really like to be a part of community where I can get
    suggestions from other knowledgeable individuals that share the
    same interest. If you have any suggestions,
    please let me know. Thanks a lot!

  • My brother recommended I might like this web site. He was once
    totally right. This submit truly made my day. You cann’t imagine simply how a lot time I had spent for this information! Thank you!

  • Currently it appears like Movable Type is the top blogging platform available right now.
    (from what I’ve read) Is that what you’re using on your blog?

  • Great site. A lot of helpful info here. I am sending it to a few pals ans
    additionally sharing in delicious. And naturally, thanks for your sweat!

  • I am not sure where you’re getting your info, but great topic.
    I needs to spend some time learning more or understanding more.
    Thanks for great information I was looking for this info for
    my mission.

  • Really no matter if someone doesn’t know after that its up to other people that they will help, so here it takes place.

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wnkurn

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.