EsaiFeatured

Masih Adakah Harapan untuk Partai Bulan Bintang yang Tidak Ngehits?

GUGATAN Partai Bulan Bintang (PBB) terhadap Komisi Pemilihan Umum (KPU) akhirnya berhasil. Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) memenangkannya melalui sidang ajudikasi. PBB pun sumringah. Di akun Twitter resminya tertulis, Alhamdulillah Bawaslu Kabulkan Permohonan partai Bulan Bintang. Takbir.. Allahu Akbar…! Allahu Akbar..!! Allahu Akbar..!!!

Keputusan ini mengulangi sejarah yang terjadi di pemilu tahun 2014. PBB dinyatakan tidak lolos pada awalnya, namun setelah melayangkan gugatan akhirnya resmi menjadi peserta Pemilu.

Dengan keputusan itu, PBB menjadi partai yang ke-15 sebagai kandidat pemenang Pemilu 2019. Sebelumnya sudah ada 14 partai yang disahkan oleh KPU. Tercatat beberapa partai baru ikut, PSI, Garuda, Berkarya dan Perindo.

PBB sebagai partai yang sudah ikut percaturan politik sejak 1999 memang mengalami pasang surut dan nyaris tidak pernah menjadi partai besar. Padahal partai besutan Yusril Ihza Mahendra itu mempunyai klaim, atau setidaknya dianggap sebagai penerus Masyumi.

Sebuah partai yang pernah menjadi partai besar di Indonesia. Kalau boleh berpikir simplistis, barangkali anak cucu kader dan simpatisan Masyumi belum bisa melihat partai ini dapat diandalkan untuk memimpin Indonesia.

Sebagaimana direkam oleh Tempo.co tahun 1999 PBB mendapatkan sekitar dua juta suara dengan 13 kursi di DPR RI. Pemilu berikutnya, PBB mendapat kenaikan suara menjadi 2,9 juta dengan 11 kursi. Pemilu 2009, PBB tidak mampu mendudukkan seorang wakilpun di DPR RI karena hanya memiliki 1,8 juta suara. Pada event 2014, sebagaimana dirilis KPU, suara PBB juga relatif stagnan sehingga tidak bisa melampaui parliamentary threshold.

Dengan catatan diatas dan kejadian dua kali nyaris tidak ikut pemilu sebenarnya agak mengherankan. Sebab nama PBB sebetulnya sudah dikenal masyarakat Indonesia. Apalagi dengan sosok Yusril sebagai ahli hukum kondang yang sering muncul di berbagai media. Bahkan bisa saja menjadi Presiden tahun 1999 seandainya tidak mundur dalam sidang MPR RI waktu itu.

Sebagai orang yang berinteraksi dengan politisi PBB semenjak kecil, saya melihat masalah ini merupakan masalah regenerasi di tubuhnya sendiri selain berpindah partainya beberapa kader utamanya seperti Fadli Zon dan Ali Mochtar Ngabalin.

PBB kekurangan anak muda yang loyal sebagai penggerak partai. Mulai dari urusan rekrutmen dan pembasisan hingga masalah elit partai dikuasai orang tua. Dan diakui atau tidak mobilitas mereka cukup terbatas seiring energi yang telah mulai menurun.

Pengaruh kurangnya anak muda ini sangat terlihat untuk menarik massa. Pada waktu kampanye, jika dibandingkan dengan partai Islam lainnya semisal PKS yang dipenuhi pemuda cerah dan pemudi jilbaber,  PBB kebanyakannya dihadiri oleh mereka yang sudah berumur. Sehingga terasa kurang semangat dan lesu.

PBB sudah saatnya merapatkan barisan anak muda untuk mendukungnya. Beberapa partai sudah memikirkan strategi ini dengan serius. Bahkan ada partai khusus didirikan untuk mengusung  tema “muda” seperti Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Dengan konsep yang populis, memainkan peran di media sosial dengan efektif, banyak anak muda yang bergabung. PSI pun lolos menjadi peserta pemilu 2019.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) juga mempunyai sayap muda yang dikenal dengan Taruna Merah Putih. Ketuanya Maruarar Sirait sering nongol di televisi untuk mengomentari berbagai persoalan yang terjadi. Pemuda potensial pun masuk menjadi anggotanya.

Urusan anak muda ini juga di pikirkan oleh partai yang diarsiteki Prabowo Subianto, Gerakan Indonesia Raya (Gerindra). Partai itu memiliki organisasi khusus untuk menarik pemuda yang disebut dengan Tunas Indonesia Raya (TIDAR). Meskipun tokohnya jarang muncul, aktivitas mereka kerap hadir disaksikan publik.

Adapun PBB dengan Pemuda Bulan Bintangnya hampir tidak terdengar aktivitasnya. Entah apa yang terjadi, segmen manusia energik dan bersemangat ini seakan-akan terlupakan. Padahal merekalah yang bisa diandalkan untuk memperkuat pengaruh partai.

Peluang PBB sebenarnya ada pada konsep partai Islam modernis yang diusungnya sendiri. Dengan model yang inklusif dan tidak terlalu menonjolkan simbol ke-Islaman membuka ruang bagi orang berbagai latar belakang afiliasi keagamaan untuk menjadi pemilihnya.

Sebagaimana yang dinyatakan sendiri oleh Yusril dalam disertasinya berjudul Modernisme dan Fundamentalisme Dalam Politik Islam (terjemahan Mun’im Sirry) bahwa bagi partai Islam modernis yang paling penting adalah bagaimana mentransformasikan nilai-nilai Islam kedalam hukum dan praktek penyelenggaraan negara. Selain itu, partai Islam modernis juga menerima demokrasi dan konsep trias politica.

Melalui pemikiran seperti ini, PBB harusnya bisa menggerakkan anak muda Muslim secara masif. Alasannya, mereka sudah capek dalam ruang tafsir ke-Islaman yang begitu banyak menonjolkan simbol dan perbedaan bahkan hingga mencela satu sama lain. PBB bisa menghadirkan wajah Islam politik yang khas, meskipun berbeda secara pandangan keagamaan, mereka bisa saling menghargai, minimal dalam politik mereka bisa bekerja sama.

Konsep diatas sekaligus bisa menjawab polemik khilafah yang senantiasa sering hadir dalam diskusi politik. Bagi anak muda Islam yang menganggap khilafah belum waktunya hingga kedatangan Imam Mahdi, PBB bisa jadi hadir untuk menjawab aspirasi politiknya.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Sasmita Cinta dalam Pot Bunga Plastik

Next post

Pemuda dan Transformasi Konflik