Locita

Maraknya Degenerasi pada Kita Kaum Muda

Ilustrasi (sumber foto: theweek.com)

KITA hidup di tengah-tengah kemodernan, semua yang ada telah ada, semua yang dulunya susah kini jadi mudah, semua yang lambat kini jadi cepat, semua yang dianggap jauh kini dianggap dekat.

Semua di sekitar kita berubah menjadi perubahanan untuk hidup manusia, tapi apakah pribadi kita tetap berkualitas dengan zaman modernitas?

Zaman modernitas hadir memberikan ruang dan waktu kepada seluruh pemuda di muka bumi ini untuk mencari, mengembangkan dan meningkatkan kualitas diri melalui segenap akomodasi instrumen oleh negara atau pemerintah melalui pendidikan, pelayanan, pemberdayaan, dan pembangunan.

Hak untuk mengembangkan pribadi menjadi hak istimewa, bagi pemuda Indonesia, bukan hanya itu hak asasi manusia masih banyak diatur oleh Negara kita, namun hak itulah yang menarik mengikuti perkembangan zaman.

Sekarang pengaruh zaman modernitas masuk merambah apapun yang ada dalam kehidupan, tiap hari yang dilalui selalu berbarengan dengan pengaruh-pengaruh modernitas seperti teknologi, doktrin, dan budaya modern.

Manakah yang cenderung anda gunakan, salah satunya atau seluruhnya. Namun, apapun yang berkaitan dengan di atas, yang terpenting gunakan apa yang sesuai dengan takaran yang lazim dan akseptabilitas terhadap masyarakat banyak.

Penciptaan teknologi yang semakin canggih, indah mengundang animo pemuda untuk memiliki sebagai bagian dari tuntutan kids jaman now, tetapi di balik keindahan dan kecanggihannya mengundang virus yang dapat mngehancuran kualitas pribadi sebagai insan generasi serta destruksi paradigma pemuda Indonesia.

Kecanduan Alat

Pendidikan yang ada di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi negeri atau swasta serta universitas. Semua telah hadir dengan berbagai macam bentuk pengembangan keilmuaan dan karakter melalui kegiatan akademik atau kemahasiswaan dengan sarana dan prasarana berupa organisasi ataupun komunitas.

Semua itu telah menjadi alat demi mewujudkan generasi yang handal dan unggul, akan tetapi apakah yang telah disediakan telah digunakan dengan baik dan benar, tentu itu masih menjadi pandangan subjektif

Interverensi teknologi dalam dunia pendidikan tidak dapat dipisahkan bahkan itu adalah keharusan dalam suatu lembaga pendidikan. Segala pelajaran atau materi disajikan dengan media teknologi, begitupun mencari atapun membuat materi berupa karya ilmiah semua bisa dilakukan dengan teknologi.

Namun, dampak teknologi yang positif terkadang mengikut dampak negatif. penggunaan teknologi yang keseringan akan mengalami kecanduan.

Segala sesuatu yang digunakan berlebihan mengakibatkan kecanduan, bahkan Sekolah Itu Candu buku Roem Topatimasang. Kata instan sekarang bukan hanya mie instan tetapi makalah instan bahkan mungkin saja skripsi instan atapun judul instan.

Bukan hanya itu, proses pembelajaran dalam kelas seperti diskusi atau presentasi, bertanya dan menjawab dengan mudah didapat dalam internet, maka dengan bangga bila dapat disajikan dengan cepat.

Jika itu mahasiswa mungkin bangga bisa menyelesaikan tugas dari dosen tersebut. Tapi perlu diketahui apakah itu bisa mewujudkan kualitas diri seorang generasi bangsa.

Jika itu terjadi selama 4 tahun mungkinkah kualitas meningkat, mungkinkah bersaing dalam dunia globalitas, tidak ada yang dapat mengatakan dengan jelas kalau mahasiswa produk 2016 apa jadinya ditahun 2020.

Akan tetapi apa yang anda lakukan hari ini adalah cerminan masa depan anda. Selain itu dampak negatif yang lebih parah lagi adalah cenderung membaca status dibanding membaca buku. Inilah yang harus diubah oleh generasi mudah Indonesia. Perbanyaklah membaca, perbanyaklah berpikir yaitu dengan belajar.

Salah satu cara untuk mewujudkan generasi emas adalah melalui jalur pendidikan karena dengan pedidikan akan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan juga ditanggung oleh pemerintah bagi yang serius ingin melanjutkan pendidikan melalui berbagai macam jenis beasiswa dengan klasifikasi tertentu. Maka dari itu, sebagai generasi tidak perlu takut terhadap biaya pendidikan yang mahal kerena pemerintah menjamin pedidikan warga negaranya.

Untuk meraih gelar generasi emas tidak dapat dicapai secara instan, segala pencapaian yang besar berawal dari usaha yang kecil. Realita yang terjadi sekarang, tidak banyak diantara kita memperhatikan sesuatu dari usaha yang kecil.

Selalu melihat hal besar yang terjadi sekarang. Singkatnya hanya memerihatikan pencapaiaanya bukan usahanya. Sebagai generasi bangsa mulailah hal kecil untuk pribadi yang besar karena kualitas.

Seperti usaha untuk percaya diri, terkadang sebagian generasi Indonesia tidak percaya dengan potensi yang dimiliki, minder jika melihat sesuatu yang lebih darinya, takut terlihat salah, takut menjadi bahan tertawaan.

Inilah sebagian penyakit dari generasi kita. Seharusnya mereka percaya diri dengan potensi yang mereka miliki, kita lahir karena perbedaan, Indonesia berdiri karena keanekaragaman, kita negara kemajemukan dalam ikatan Bhineka Tunggal Ika yang menghargai perbedaan.

Jika kita berpandangan demikian, maka tentu kita dihargai dan dihormati oleh orang lain serta tidak merasa minder dengan orang lain. Selain itu, iman dan takwa, sikap jujur dan moral baik harus tertanam dalam jiwa pribadi seorang generasi, karena bila ada generasi dengan kepintaran luar biasa akan tetapi berperilaku buruk, maka kepintaran tersebut tidak berguna, begitupun dengan kepintaran tanpa iman maka akan menyesatkan.

Seorang generasi sudah tentu lebih mendahulukan kepentingan umum dibanding kepentingan pribadi, menjadi pembela dan pemersatu kebijakan pemerintah bukan menjadi pemberontak terhadap pemerintah.

Keadaan sekarang banyak generasi indonesia justru melawan pemerintah secara anarkisme, menganggap bahwa cara merekalah yang paling benar dan menuntut dengan jalan kekerasan.

Jika ada cara yang paling benar maka dibicarakan dengan benar dan etika yang benar melalui cara-cara dari ideologi bangsa indonesia yaitu musyawarah.

Itulah cara seorang generasi ideal untuk bangsa indonesia, membangun indonesia melalui gagasan ilmiah yang beradab bukan biadab. Melihat kepentingan umum sebagai hal terpenting dalam hidupnya, bersedia mengabdikan diri untuk menyelesaikan ketimpangan-ketimpangan yang terjadi di dalam masyarakat karena seorang generasi adalah sebagai agent of change, agent of social control, and iron stock.

Sebagai generasi bangsa harus memilih dan memilah antara yang baik dan buruk, tidak terkilas oleh arus zaman modernitas tetapi mampu menyeimbangkan perkebangan zaman dan tujuan hidup yang sesungguhnya dalam berbangsa dan bernegara.

Generasi adalah roh bagi bangsa Indonesia, tanpa generasi maka Indonesia akan mati. Oleh karena itu harus memperlihatkan eksistensinya sebagai generasi yang berguna untuk nusa dan bangsa, ibarat emas yang bernilai jual tinggi karena berharga dengan kualitasnya.

Terpenting adalah generasi harus mampu beradaptasi dengan lingkungan modernisasi yang dapat membuat generasi menjadi degenerasi.

Generasi emas selalu mengisi semua luang waktunya dengan kegiatan yang berdampak positif terutama kepada masyarakat. Mengasah kapabilitas dan mengembangkan kapasitas yang tersirat dalam dirinya kelak akan berharga dimasa depan.

Potensi yang ada dalam diri pemuda generasi bangsa tidak hanya menyangkut upaya dalam mengisi waktu dengan hal positif. Adakalanya dalam mengembangkan potensi dirinya, tidak jarang menuai cobaan dan halangan, itu bukan berarti gagal, melainkan itu suatu terpaan sebelum ia terjun kedalam kehidupan pengabdian kepada masyarakat secara nyata.

Itulah sosok pemuda cerdas bangsa, tabungan bangsa untuk Negara Indonesia. Pemuda bangsa yang diharapkan oleh indonesia. Harapan bangsa ini bukan hanya kepada sosok pemudanya, melainkan juga kepada pemuda yang intelektual, dan memiliki mentalitas yang kuat.

Bila pemuda bangsa telah memiliki jiwa seperti itu, maka harapan Indonesia menuju Indonesia revolusi mental telah tercapai dengan gemilang.

SUL FIKAR

Add comment

Tentang Penulis

SUL FIKAR

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.