EsaiFeatured

Mantan Presiden Yaman Meninggal: Perang Berlanjut?

SEKITAR jam delapan malam berita meninggalnya mantan presiden Yaman, Ali Abdullah Saleh, berseliweran di media Internasional. Di grup WhatsApp tertentu, foto menyerupai dirinya beredar. Bajunya putih memerah darah, kepalanya bersemburat luka seperti kena tembakan. Masih kontroversi mengenai kepastian akan kematiannya.

Situs Aljazeera memberitakan informasi yang diterimanya dari media kelompok Houthi bahwa Ali Abdullah Saleh memang terbunuh di Sanaa, ibukota Yaman. Disisi Saleh, kelompoknya membantah bahwa pemimpin mereka tidak seperti yang diberitakan dan masih memimpin kelompok bersenjata dalam bentrokan yang terjadi dengan Houthi.

Koresponden Telegraph Raf Sanchez menyatakan bahwa Saleh terbunuh setelah milisinya dan kelompok Houthi saling menembaki satu sama lain. Padahal sebelumnya, kelompok Saleh berjuang bersama-sama Houthi selama dua tahun. Mereka menghadapi pemerintahan Yaman yang diakui Internasional dan koalisi militer negara Arab yang dipimpin oleh Arab Saudi.

Situasi konflik di Yaman memang sangat naas sekali mengingat negaranya bertetangga dengan negara kaya seperti Arab Saudi . Yaman sendiri juga sebetulnya memiliki keuntungan secara geografis. Letaknya yang berada di ujung selatan dan menguasi celah yang dikenal dengan nama Babul Mandab. Sebuah jalur perdagangan internasional yang menghubungkan antara Afrika dan Asia.

Publik Indonesia memang tidak banyak mengetahui situasi yang berlaku di Yaman. Pemberitaan media arus utama biasanya seputar konflik di Rohingya, Palestina dan Suriah. Dan kalaupun memahami situasinya dipandang dengan cara teologis. Bahwa konflik yang berlaku di Yaman adalah konflik antara Sunni dan Syiah.

Setidaknya ada empat kelompok besar yang memainkan perannya dalam konflik di negara nenek moyang mayoritas Habaib di Indonesia itu. Yakni, kelompok Houthi, Kelompok Saleh., Al Qaeda, serta kelompok pemerintahan Abdurrabbuh Mansur Hadi yang mendukung penyerangan oleh Saudi. Situasi Yaman bergolak mengikuti Arab Spring yang lebih dahulu meledak di Tunisia, Libya dan Mesir.

Banyak pihak menuduh bahwa kelompok Houthi adalah proksi dari Iran karena sama-sama Syiah. Namun situasi itu sebenarnya terbantah atas dua fakta. Syiah di Iran, yakni Syiah Itsna Asyariyah (12 Imam) berbeda dengan kelompok Houthi yang merupakan Syiah Zaidiyah. Tahun 2014, sebagaimana diberitakan Huffington Post, Iran sebetulnya memperingatkan Houthi supaya tidak mengambil alih Sanaa. Namun, kelompok itu tetap menguasainya hingga kini.

Akan halnya penyerangan oleh kelompok Saudi ke negara itu disinyalir mempunyai hubungan dengan Amerika dan Inggris. Media berbasis di Inggris sendiri, The Guardian, mengakui hal itu.  Bahwa Menteri Luar Negeri Arab Saudi mengatakan bahwa pejabat Militer Amerika dan Inggris mempunyai akses terhadap daftar target penyerangan Saudi terhadap Yaman.  Dan Presiden Yaman yang diakui internasional, Abdurrabbuh Mansur Hadi mengasingkan diri di Saudi.

Ali Abdullah Saleh sendiri sebenarnya muncul kembali sebagai salah satu aktor kunci dalam konflik Yaman. Dia sebelumnya sudah mengundurkan diri dari politik menyusul protes yang berakhir pada konflik. Saleh meletakkan jabatannya yang kemudian diteruskan oleh Mansur Hadi. Analis Timur Tengah Faisal Edroos mengungkapkan bahwa aliansi antara Saleh dan Houthi pecah karena Saleh mencoba berhubungan lagi dengan Arab saudi.

Mantan pejabat Yaman, Mohamed Qubaty, mengungkap permainan politik Machiavellian ala Saleh. Awalnya dia mendukung kelompok Salafi. Setelah itu dia menyokong Houthi, lalu mengkhianatinya.

Kelompok Al Qaeda adalah bagian yang tidak boleh dilupakan dalam situasi Yaman. Bahkan kelompok ini yang lebih dulu memicu perseteruan semenjak awal tahun 2000-an. Jaringannya di Yaman di kenal dengan Al Qaeda in Arabian Peninsula (AQAP). Mereka semenjak awal tidak menyukai Saleh dan juga negara-negara barat. Perjuangan kelompok ini juga satu paket dengan jaringan kelompok ISIS di Yaman.

Kondisi banyaknya faksi pejuang dan milisi serta militer asing membuat kesulitan tersendiri untuk memahami konflik di Yaman. Ini belum lagi perhitungan ekonomi dan perebutan geopolitik kawasan Timur Tengah yang tidak bisa dilepaskan dari situasi miris itu.  Ceruk Babul Mandab yang dimiliki Yaman, dilalui lebih dari tiga juta barel minyak setiap harinya.

“Anda tidak akan memahami krisis dunia kalau tidak mengerti politik minyak”, ujar Michael Lind. Saya pun mencoba memahami Yaman dari perspektif ini. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Saudi yang telah merawat Mekkah dan Madinah, apa yang saya temukan cukup menyakitkan. Berita awal tahun ini di American Herald Tribune mengatakan bahwa Arab Saudi telah mengambil 63% minyak Yaman dengan cara ilegal, berkolaborasi dengan perusahaan Prancis.

Diberitakan juga bahwa negara Petro Dolar tersebut telah menandatangani perjanjian rahasia dengan Amerika untuk mencegah Yaman dalam menggunakan cadangan minyaknya selama 30 tahun terakhir. Padahal cadangan minyak Yaman lebih banyak bahkan jika cadangan dari seluruh negara teluk Persia dikumpulkan.

Sebagai suatu alternatif penjelasan, tidak salah apabila konflik yang telah memakan banyak korban dikatakan sebagai akibat perebutan penguasaan cadangan minyak.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Siasat Jokowi Kandangkan Panglima Gatot

Next post

Tahun Politik dan Masa Depan Ekonomi Kita