Locita

Punahnya Majalah Musik, Matinya Para Generasi Muda? Sebuah Obituari untuk Rolling Stone Indonesia

MUSIK adalah racun di hidup saya. Rolling Stone adalah pelengkap racun itu. Lebih dahsyat dari racun yang paling memabukkan jenis apapun. Majalah yang dikampungnya sana dikenal sebagai pelopor New Journalism ini, juga membawa pembaruan bagi saya dalam melihat dunia dan manusia.

Saat saya SMA dulu, majalah Rolling Stone adalah salah satu rujukan terbaik untuk musik dan pengetahuan. Di era itu, Makassar adalah kota yang kurang fasilitas piknik. Tergolong sulit untuk mengakses informasi tentang musik terbaru ataupun perkembangan skena.

Hadirnya majalah-majalah ibukota membuat kami (para pembaca) mengerti bagaimana perkembangan dunia showbiz dan budaya. Sebelum membaca Rolling Stone, saya terlebih dahulu adalah pembaca Hai, Trax, dan Ripple. Di situ saya merasa beruntung, saya sempat merasakan era tulisan-tulisan musik yang tidak sebatas tulisan pendek dan gosip.

Hingga saya dibuat terpesona oleh majalah besutan Adib Hidayat ini. Dengan majalah ini, saya bisa mengenal Dara Puspita, Guruh Gipsy, The Doors, Arcade Fire, Ucok AKA, dan Harry Roesli. Edisi yang monumental dari Rolling Stone Indonesia adalah bertajuk “150 Album Indonesia Terbaik”, “50 Greatest Indonesian Singers”, dan “150 Lagu Indonesia Terbaik”. Dengan sampul berwarna merah dan tajuk yang besar, dia mantap menarik mata. Bagi saya itu adalah sebuah upaya untuk menggali khazanah musik di Indonesia dengan serius. Melibatkan orang-orang yang tepat pula.

Ulasan-ulasannya tiap album akan album, setidaknya memberi pembanding kepada saya terhadap apa yang saya dapatkan di televisi (saat itu didominasi oleh acara musik dengan penonton berbayar). Salah satu yang paling tidak saya lupakan adalah bagaimana ulasan The Potter’s,

“Dengan suara vokalis yang nyaris tanpa testosteron….”. Ulasan itu diikuti dengan satu bintang yang berarti sangat buruk. Keberanian lainnya majalah ini adalah memberikan lima bintang yang berarti nyaris sempurna untuk album Maliq & D’Essentials untuk album Musik Pop, sekalipun album ini tidak terlalu terkenal.

Di majalah ini pula saya banyak belajar isu-isu politik dan kemanusiaan lewat kolom “National Affair”-nya, sesuatu yang sangat jarang diperoleh di media-media musik saat itu. Di sana saya menyadari bahwa musik bukan hanya soal bebunyian, tapi secara tidak langsung tersangkut persoalan sosial, politik, dan ekonomi.

Di mana lagi kita mendapati seorang Menteri Agama, Lukman Saifuddin bicara soal The Beatles serta fatwa haram musik? Di mana lagi, seorang hipster dapat membaca Filep Karma dalam sebuah majalah musik? Di mana lagi kita dapat membaca isu lingkungan dalam halaman yang berseberangan dengan wawancara band Sore?

Beberapa politisi harusnya berterima kasih dengan majalah ini. Anies Baswedan, Jokowi, dan Ahok utamanya. Di majalah ini, kita dapat mengenal pikiran mereka, sekaligus membuat kesadaran bahwa politik membutuhkan kesadaran anak-anak muda. Palagan Pilpres 2014 dan Pilkada Jakarta 2016 adalah bukti bahwa Rolling Stone Indonesia bukan sekedar majalah yang setali dengan hedonisme.

Setidaknya dengan membaca halaman per halaman majalah yang didirikan Jan Wenner di Negeri Paman Trump ini, saya bisa memiliki bahan diskusi sekaligus sedikit pembeda dari rekan-rekan saya di kampus.

Rekan-rekan yang khatam Murtadha Muttahari, Karl Marx, atau Pramoedya Ananta Toer. Setidaknya, bacaan saya cocok dengan rekanan yang membaca culture studies. Tanpa harus menjelaskan teori njelimet dan berbelit-belit.

Menyelami Rolling Stone Indonesia, membuat saya mencintai dunia tulis menulis, salah satunya adalah lewat kolom editorial dan liputan-liputannya. Di sini saya kemudian menelusuri hingga ke tanah asalnya. Mengenal Lester Bangs, Tom Wolfie, dan Hunter S. Thompson, yang merupakan punggawa New Journalism. Kelak saya mengetahui itu setelah ikut salah satu pelatihan jurnalistik.

Setiap bulan saya selalu meluangkan uang saku dengan risiko rela tidak makan dan jajan selama dua hari. Kebiasaan membeli majalah ini terus saya lakukan hingga Desember ini, tepat edisi terakhir mereka terbit.

Sewaktu di bangku kuliah, lewat majalah ini, saya terinspirasi untuk menerapkan pola serupa (layout, content feature, dan rubrik resensi berbintang). Majalah internal BEM Fakultas Kedokteran Gigi UNHAS, yang saat itu dipercayakan kepada saya.

Salah satu penulis panutan saya adalah Wendi Putranto, dia mampu menulis dengan baik dan blak-blakan. Terlebih wawancaranya bersama Ari Lasso yang menggali sisi-sisi banal secara jujur dan berani.

***

Di sebuah warung kopi di daerah Tanah Abang menjelang November 2017, saat itu saya bersama dua orang wartawan musik. Salah satu yang sempat kami bahas adalah tulisan Soleh Solihun, “Menunggu Matinya Majalah Musik”.

Di satu kesempatan salah seorangnya, berujar, “Tidak lama lagi itu Rolling Stone Indonesia itu gulung tikar”.

Saat itu saya hanya tertawa, seperti tidak percaya. Mengingat media ini sudah menggarap full pasar pembaca fisik majalah musik. Saat itu saya hanya menganggapnya selayak ramalan Jayabaya dan Nostradamus.

Tiada sangka, ramalan itu lebih cepat terjadi, beberapa bulan setelah pembicaraan itu, sebuah informasi mengabarkan bahwa majalah tersebut tutup—setelah kabar pengunduran diri wartawan seniornya, Wendi Putranto, Adib Hidayat, dan Ricky Siahaan.

Benar kata Bre Redana, senjakala media cetak kini menghantam perlahan-lahan dan kejam. Senjakala itu menggelapkan majalah musik garda terakhir, Rolling Stone Indonesia. Hari ini tuntas semua majalah musik di Indonesia. Musik mungkin memasuki masa gelapnya kembali. Tempat kurasi dan apresiasi para ahli ataupun pengkaji.

Rolling Stone terakhir edisi Desember 2017 (foto: Dhihram Tenrisau)

Memang ada benarnya kata Soleh Solihun yang menyadur ucapan Frank Zappa, “Most rock journalism is about people who can’t write interviewing people who can’t talk for people who can’t read.” Mungkin adagium itu yang tepat untuk matinya majalah musik di Indonesia. Rendahnya apresiasi para pembaca akan informasi seni budaya yang berkualitas, berujung pada menurunnya oplah dan penjualan.

Kini media musik beralih ke online, tempat di mana musik hanya sebatas Ayu Ting Ting dan gosip. Tempat di mana tulisan mendalam sepanjang 1500-an kurang diapresiasi dibanding kata tulisan sependek 300-an kata dengan judul bombastis. Tempat di mana Efek Rumah Kaca dan Sore tidak akan dinaikkan karena traffic-nya rendah.

Beruntunglah yang pernah hidup di masa Rolling Stone Indonesia. Sial bagi yang tidak. Karena saya percaya, cerminan kemajuan budaya suatu bangsa terletak pada apresiasinya terhadap produk seni dan budaya.

Di hadapan nisan majalah itu, saya menabur bunga. Bukan hanya untuk sebuah majalah yang penting di zaman ini, tapi semoga ada untuk generasi selanjutnya.

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Add comment

Tentang Penulis

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.