Esai

Mabuk Amerika a la Bagong Kussudiardja

Seorang gadis belia, pemuja musik-musik Barat mulai dari generasi Kurt Cobain, Whitney Houston sampai Chester Benington, Beyonce, Ariana Grande, Taylor Swift, Katy Perry dan masih banyak lainnya justru asing sekali dengan nama Danilla. Siapa Danilla? Danilla Riyadi, penyanyi perempuan yang sedang moncer-moncernya di jagad permusikan tanah air.

Cholil Mahmud pernah mengatakan, Danilla ialah salah satu ‘unikitas’ yang ia gemari di tengah geliat musik Indie di Indonesia. Danilla ialah kekuatan yang berbeda. Tahun ini ia masuk nominasi Female Year of The Year dan Album of The Year dari Indonesian Choice Award 5.0 NET TV (meski tidak jadi pemenang).

Sementara gadis belia yang tersebut di awal tulisan sudah lebih dulu puas dengan selera musiknya,  menganggap barat sebagai yang adiluhung. Barangkali seperti yang pernah dialami begawan seni Bagong Kussudiardja pada hal ihwal tari: ia mabuk Amerika!

Bagong Kussudiardja juga pernah merasa demikian hebat sebab mabuk Amerika. Sepulangnya dari Amerika untuk visi kesenian Indonesia sekira tahun 1950an, Bagong kembali ke Yogyakarta dan mengadakan kelas-kelas yang ia beri nama Pusat Olah Tubuh di Ndalem Tejo Kusuman. Kepada murid-muridnya ia mengajarkan dasar-dasar olah tubuh yang mengadopsi gerakan balet dari Martha Graham. Struktur tubuh, posisi kaki, tangan para penari menyerupai teknik balet, termasuk kostum tari yang sudah sangat Amerika.

Tahun 1954 dan tahun-tahun setelahnya, Bagong benar-benar mabuk Amerika!. Hal ini bisa dilihat dari potret-potret perjalanan seni Bagong yang diperlihatkan oleh Djaduk Ferianto ketika diskusi tentang proses kreatif Bagong Kussudiardja di Rumah Banjarsari Solo (6/4/2018).

Pulang dari Amerika, Bagong mengganti nama tari ciptaannya dari Manupranggana menjadi tari Layang-layang. Perubahan tak sebatas nama, tetapi menjalar ke hal ihwal lain. Bagaimana tidak? Ketika bernama Manupranggana, penari menggunakan kerincing yang lekat sebagai aksesoris dalam tari-tarian di Jawa. Ketika berubah menjadi tari Layang-layang, penari tak lagi menggunakan aksesoris kerincing.

Kendati demikian, Pusat Olah Tubuh menjadi ruang kelas bagi penari-penari Yogyakarta dan Solo, untuk menyebut di antaranya Retno Maruti dan Sardono W. Kusumo. Dari Pusat Olah Tubuh, kemudian tahun 1958 muncul embrio Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja. Meski beberapa karya baru seperti tari Burung dalam Sangkar, tari Eksplorasi Tari Bima masih tak bisa dielakkan dari Amerikasentrisme Bagong.

Penari yang Pelukis

Bagong, mahasiswa angkatan pertama di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) yang saat itu lebih mirip sanggar akademi. Tidak ada seleksi masuk yang diberlakukan bagi calon mahasiswanya. Dari situ, ia bertemu dengan seniman-seniman seni rupa yang lambat laun mempengaruhi pikiran Bagong menjadi tak terbatas pada hal ihwal tari. Tahun 1961, ketika Pusat Latihan Tari Bagong Kussudiardja memasuki tahun ketiga, seorang penari balet asal Yogya menarikan tari Topeng dengan kostum lukisan Batara Lubis – kawan seniman Bagong di ASRI.

Pergaulan membangun ruang sosial dengan para perupa, satrawan, teaterawan, filmmaker, termasuk situasi politik tahun 60-an menyadarkan Bagong akan kekeliruannya selama masa itu mengagungkan Amerika. Segala kesangsian dan olok-olokan kawan-kawannya diganjar dengan karya-karya tari yang bersumber dari kesenian rakyat. Tari pertama yang diciptakan dengan semangat itu ialah tari Kuda Lumping. Pergaulan Bagong dengan orang-orang multidisiplin menambah kekuatannya dalam berkesenian.

Kepada juniornya Wirata, Bagong mulai berani memberi semacam nasihat agak klise. Alasannya, supaya yang diajaknya bicara itu tak mabuk Amerika. Ia mengaku punya pengalaman amat buruk akibat terlalu mengagungkan Amerika dan lupa pada wilayah sosiologis-geografis tempatnya hidup: Yogyakarta, dan lebih umum Indonesia. “Semua yang kamu dapatkan dari Amerika bukan satu-satunya kebenaran. Kamu harus menggunakan tafsir dan mengolah dengan citarasamu sebagai orang Indonesia apalagi Jawa, lalu keluarkan dengan dirimu. Ora blereng Amerika, ora mabuk Amerika”. Kira-kira begitulah Bagong mewanti-wanti.

Gelisah Kini

Yang disebut Bagong sebagai mabuk Amerika salah satunya ialah ketiadaan rasa atawa ruh. Bagong pada masa sebelum 60an mengalami masa-masa pamer teknik ala Amerika. Dia  lekas insyaf bahwa yang demikian kurang isi, kurang rasa, kurang ruh. Hal senada kian mencuat di dunia tari masa kini. Tari-tari semakin getol memasuki dimensi ekonomis seperti yang ditayangkan stasiun-stasiun televisi. Penari-penari masa kini mendapat kecurigaan kosong rasa sebab memburu jadwal panggung, atau dalam istilah agak nakal disebut peye, payon. Asal job manggungnya lancer saja!.

Sebelum berpulang pada 2004, Bagong sempat melontarkan wacana kegelisahan: jangan-jangan anak-anak sekarang bicara tubuh tetapi tidak mengerti apa sejatinya tubuh. Pengetahuannya, wacananya tentang tubuh memang bagus. Tetapi tidak nampak dari ketubuhannya sendiri. Kegelisahan Bagong barangkali ada benarnya. Kendatipun sangat mungkin dibantah oleh para praktisi tubuh para penari.

Maka, kiranya cukup mendesak untuk dilakukan penelitian mengenai perjalanan tari di Indonesia yang tak cupet menyoroti kebertubuhan sahaja, melainkan menjalar ke sisi-sisi hal ihwal politik, ekonomi, dan juga sosial. Supaya tubuh tidak terbatas pada tubuh itu sendiri.

Mau tidak mau kita musti mengingat masa gilang-gemilang dunia kepenarian di tahun 50an sampai 70an. Ketika begawan-begawan tari di Yogyakarta begitu aktif menggagas sanggar tari juga diimbangi dengan diskusi-diskusi mengenai hal ihwal tari. Ketika Sukarno seperti dikisahkan dalam buku berjudul: Calling Back The Spirit: Music, Dance, and Cultural Politics in Lowland South Sulawesi (2002) karya R. Anderson Sutton, 5-6 tahun setelah kemerdekaan Indonesia. Begitu getol menggagas pusat-pusat kebudayaan di Jakarta.

Lalu, bagaimana?

Sukarno menggunakan tari sebagai medium politik kebudayaan. Ia bersikeras mempertemukan tari-tari berlainan etnis dan tak sabar melihat ‘benturan-benturan budaya’ dari etnis berlainan untuk kemudian menganggapnya sebagai kebudayaan Indonesia yang sesungguhnya.  Kebudayaan Indonesia merupakan sumbangsih dari kelestarian kebudayaan di daerah-daerah. Begitu misi politik kebudayaan ala Sukarno.

Sementara kita juga tak bisa memandang enteng lengsernya Hamengku Buwana VII yang bukan karena meninggal tetapi lengser “keprabon”, ditekan oleh Belanda karena ada keberpihakan terhadap pribumi. Di masa kepemimpinan HB VII lah, tari ndalem keraton mulai diajarkan kepada masyarakat umum di luar keraton. Tsah!

Jadi,tari bukan sekedar tari dan olah tubuh. Setiap seni tari memiliki ruh. Seniman (tari) jangan pula mabok Amerika dan melupakan keaslian dan asal muasal kesenian (tari) Indonesia!

Rizka Nur Laily Muallifa

Rizka Nur Laily Muallifa

Pembaca tak khusyuk. Mengeja kata di Diskusi Kecil Pawon, Kisi Kelir, dan Bentara Muda Solo.

Previous post

Negeri Para "Pembela Tuhan"

Next post

3 Komik Fenomenal Penista Agama