Locita

Lulusan 2020, Kalian (Tetaplah) Istimewa

Tidak ada ujian nasional. Tidak ada ujian akhir semester. Tidak ada acara perpisahan. Tidak ada foto-foto perpisahan. Tidak sempat mencium tangan guru-gurunya. Tidak sempat memeluk sahabatnya yang akan melanjutkan ke sekolah atau kampus yang berbeda, atau bahkan ke tempat yang lebih jauh. Tidak mudah menerima semua kenyataan tersebut. Tetapi demikianlah yang terjadi.

Covid-19 datang untuk mengajarkan satu pelajaran penting bahwa apapun yang terjadi hidup harus tetap dilanjutkan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada yang menduga jika pandemi ini begitu setia bukan hanya dengan membatalkan ujian nasional tetapi sampai tidak mengizinkan para lulusan bahkan sekadar menyampaikan selamat jalan kepada para guru dan sahabatnya.

Teknologi –bagaimana pun canggihnya- tidak dapat menggantikan sepenuhnya. Jarak dapat dilipat. Waktu dapat disatukan. Tetapi perasaan tetap tidak dapat dibohongi. Ada jenis-jenis perasaan emosional: tatapan, sentuhan, deru dan helaan nafas yang berdekatan tidak dapat diwakilkan sepenuhnya oleh layar. Layar tidak kuasa menangkap segala gerak rasa yang terjadi pada setiap pertemuan langsung. Layar hanya menampilkan sebagiannya. Tak ada perasaan dan emosi yang utuh sanggup disampaikan teknologi. Tentu, dengan tanpa meminggirkan kebaikan teknologi yang setidak-tidaknya telah membantu melewati ujian ini.

Ujian pandemi ini bisa jadi lebih berat dari ujian sekolah. Ujian sekolah hanya berlangsung tiga hari. Sedangkan ujian pandemi entah sampai kapan berakhir. Bersamanya pula menyertai ujian kesabaran menunggu musibah ini berakhir, ujian ketaatan mematuhi protokol kesehatan agar jangan sampai menjadi korban, ujian kerinduan kepada sahabat-sahabat, ujian beradaptasi dengan keadaan. Pada akhirnya dari semuanya adalah ujian terhadap cita-cita (dan mungkin juga cinta). Betapa rindu telah membekap dada mereka yang diam-diam menaruh perasaan pada satu dan yang lainnya.

Pandemi ini adalah ujian ketahanan terhadap ejekan. Ejekan sebagai angkatan atau lulusan corona. Ejekan yang lulus tanpa tes. Ejekan karena tiada acara perpisahan. Tidak ada perayaan. Tidak ada pidato pesan-pesan dari para orang tua atau guru di sekolah. Dan di saat yang bersamaan, mereka para lulusan itu harus tetap melangkahkan kaki tanpa tepukan semangat dari bapak guru di pundak masing-masing. Ikhtiar meraih cita-cita harus tetap dilanjutkan.

Lulusan 2020 adalah pelaku sejarah. Untuk pertama kali setelah berpuluh-puluh tahun mereka menjadi angkatan tanpa tes ujian nasional. Saya menyebut tes ujian nasional sebab dibalik itu tes yang mereka hadapi justru jauh lebih berat, seperti yang telah saya sebutkan di atas. Namun, mereka dapat melewati ujian ini.

Dibandingkan dengan mahasiswa, para siswa SMA (dan SMP serta SD) tidak menduga apa yang tiba-tiba mereka akan lakukan ketika seketika ada kebijakan untuk melarang ke sekolah. Mahasiswa dapatlah diduga mereka akan pulang kampung. Sedangkan para siswa yang hampir setiap hari bertemu dengan teman-temannya secara tiba-tiba, mendadak, tidak dibolehkan ke sekolah. Belum menyebut ketika mereka tiba-tiba harus belajar online. Pada mulanya mereka mungkin menyenanginya tetapi lambat laut kebosanan akhirnya muncul. Kejenuhan hadir mengikis psikis mereka. Semangat dan mental mereka bisa menjadi menurun.

Ada serangan mental secara internal dalam dirinya mereka dan juga ada serangan mental dari luar seperti halnya ejekan-ejekan tidak sah lulus karena tidak ada perasaan, seperti tahun-tahun sebelumnya. Tentu biasanya mereka yang meledek seperti adalah mereka yang kehilangan empati dan simpati.

Lulusan 2020 yang tanpa ujian nasional dan tanpa perayaan atau acara perpisahan bukan hanya terjadi pada satu dua sekolah, di satu dua kota, di Indonesia tetapi bahkan di luar negeri pun banyak sekolah yang tidak dapat melaksanakan tradisi seperti yang sudah-sudah. Pandemi adalah ujian global. Jika Anda lulus 2020 tanpa perayaan, ketahuilah bahwa Anda bukan satu-satunya. Dan itu bukanlah masalah.

Ujian ini akan membentuk pribadi dan mental mereka harus lebih kuat. Mereka telah melewati ujian ini dengan sebaik-baiknya. Ujian kehidupan ke depan akan lebih berat skala ujiannya. Bersyukurlah mental mereka telah ditempa dengan pandemi ini.

Lulusan 2020 adalah generasi yang akan membuktikan bahwa tanpa ujian nasional pun mereka akan berjaya dan gilang gemilang. Mereka akan menunjukkan bahwa sungguh pun ujian nasional bukanlah ukuran keberhasilan.

Lulusan 2020 tetaplah generasi emas yang siap menyongsong masa depannya. Mereka siap melangkah kaki dengan gagah. Corona telah mempersiapkan mental mereka untuk lebih kuat dari para seniornya. Dan mereka akan membuktikan dalam waktu yang tidak lama.

Lulusan 2020 tetaplah istimewa, tetaplah keren.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.