EsaiFeatured

Lawan Penyebar Hoax dengan Cinta, dan Denda Tujuh Miliar

UPAYA pemerintah untuk membendung penyebaran hoax dengan aturan yang ada patut diapresiasi. Namun, hal itu serasa kurang. Ada saja kabar-kabar hoax yang bermunculan dan sangat mengkhawatirkan kita sebagai bangsa. Celakanya, pemerintah sibuk menangkapi masyarakat yang menjadi pelaku, negara lupa bahwa ada platform yang harus diseret pula untuk bertanggungjawab, seperti yang diterapkan Jerman dan Prancis.

                                                             ***

Lampu jalan tampak temaram di jalan Pegangsaan Barat, Jakarta. Hanya sesekali kendaraan mobil dan motor lalu lalang. Jalan beraspal yang terletak di dekat stasiun Cikini ini seolah mematung sepi. Di bahu jalan, lelaki paruh baya dengan gerobak nasinya menggumam seorang diri. Bunyi pletok terdengar beberapa kali, ia mengaduk wajan yang kosong.

Sambil mengamati lokasi sekitar, saya melangkah masuk ke halaman gedung DPD Golkar yang berada di sisi barat jalan ini. Gedung berlantai dua itu berbentuk segi empat, letaknya sekitar 200 meter dari stasiun Cikini. Jarum jam menunjukkan pukul 19.00 WIB ketika puluhan orang, mulai memasuki halaman gedung yang didominasi cat berwarna putih, serta dipenuhi tanaman merambat berwarna kuning. Lampu kuning yang berpendar dari dalam menambah kepercayaan bahwa gedung ini milik Partai Beringin.

Malam itu, Rabu (28/2/2018) akan ada acara di di lantai dasar. Sebuah disusi mengenai persoalan bangsa, persoalan yang kian menjadi-jadi ketika di muka musim kampanye.

Penyelenggara acara ialah sebuah lembaga yang konsen pada masalah-masalah anak muda. Kebetulan saya diundang hadir oleh seorang kawan. Saya datang karena merasa tertarik dengan temanya, tema ini pas di tengah penangkapan beberapa orang di Bandung akibat akun-akun penyebar hoax. Mereka membuat kabar tentang ulama diserang PKI atau pemerintah benci islam hingga memprovokasi muslim untuk anarkis.

Setidaknya polisi sudah mengamankan 18 pelaku kemarin, tak hanya di Bandung, adapula di Garut dan beberapa daerah lain. Kekhawatiran kita terhadap hoax memang wajar, sebab mendekati tahun politik 2019, produksi konten mulai dari berita bohong sampai ujaran kebencian akan memenuhi ruang berita kita.

Kembali ke acara ini, tema diskusinya cukup ringan yakni Membendung Hoax dengan Cinta. Menghadirkan Kepala Badan Siber dan Sandi Negara Djoko Setiadi, Alhe Laitte dari Locita.co, dan Nuran Wibisono, jurnalis tirto.id.

Di muka acara seorang perwakilan dari lembaga berpidato bahwa acara ini diselenggarakan untuk mengantisipasipasi merebaknya kabar hoax di Tanah Air yang membuat sebagian pemuda Indonesia turut terlibat bahkan menjadi produsen. Katanya talk show ini sesuai visi mereka untuk melawan hoax tanpa kekerasan.

“Kekhawatiran kita terhadap hoax memang wajar, sebab mendekati tahun politik 2019, produksi konten mulai dari berita bohong sampai ujaran kebencian akan memenuhi ruang berita kita.”

Facebook Bisa Dituntut

Selanjutnya, acara ini untuk memberi masukan kepada pemerintah melalui Badan Siber dan Sandi Negara untuk membendung hoax. Ketua lembaga yang baru dibentuk itu juga turut hadir.

Djoko Setiadi yang mengenakan batik coklat malam itu mengamini permintaan sang penyelenggara acara. Djoko mengatakan bahwa peserta diskusi bisa memberi masukan kepadanya. Ia lantas melanjutkan betapa bahayanya hoax hingga diperlukan kontribusi dari semua elemen bangsa karena berpotensi memecah belah.

Ia mencontohkan misalnya, hate speech kepada pemuaka agama tertentu yang membuat kelompok pro daan kontra saling berhadap-hadapan tidak hanya di dunia maya.

Namun, jawabannya atas pertanyaan saya membuat kecewa, sampai saat ini pemerintah belum bisa memberi sanksi kepada perusahaan media sosial yang menjadi medium hoax beredar, seperti Facebook dan Twitter.

Padahal di Jerman sanksi terhadap Facebook telah mulai diterapkan. Terhadap satu item berita hoax, perusahaan milik Mark Zuckerberg ini akan didenda Rp7 miliar. Di Prancis mereka menemukan cara menangkal hoax jelang pilpres tahun lalu, Perusahaan Facebook dan Google diminta bergabung dengan organisasi pers di Prancis. Lantas mereka meluncurkan alat pemeriksa fakta untuk membasmi berita bohong.

Dilansir Reuters, Facebook bekerja sama dengan delapan agensi berita Prancis. Media tersebut di antaranya ialah Agence France-Presse (AFP), saluran berita BFM TV, serta surat kabar L’Express dan Le Monde. Mereka akan memperkecil risiko munculnya berita bohong.

Nantinya, para pengguna tinggal menandai berita yang diduga sebagai berita bohong. Setelah itu, fakta dari artikel akan diperiksa oleh organisasi mitra yang tergabung dan diberikan tanda.

Facebook juga mendukung cara berbeda yang diluncurkan oleh Google yang disebut “CrossCheck”. Kita bisa mengirimkan link situs agar konten di dalamnya dapat diselidiki. Sudah sebanyak 17 kantor berita yang bergabung dalam proyek ini. Di dalamnya termasuk AFP dan masyarakat penyiar televisi nasional Prancis.

“Nantinya, para pengguna tinggal menandai berita yang diduga sebagai berita bohong. Setelah itu, fakta dari artikel akan diperiksa oleh organisasi mitra yang tergabung dan diberikan tanda.”

Djoko hanya memberi beberapa tips untuk menghindar menjadi korban hoax dengan saring sebelum sharing. Setiap kabar harus diklarifikasi ke beberapa media lain, kemudian Nuran yang merupakan jurnalis bidang musik dan film di Tirto.id mengatakan bahwa di dunia hiburan seperti hasil risetnya, sudah sejak lama hoax terjadi, tak hanya artis dalam negeri, paling sering ialah artis dari luar, khususnya tentang kematian.

Alhe dari Locita menyampaikan pandangannya sebagai anak muda, agar pikirannya tetap positif maka selalu menggunakan mekanisme cek dan ricek terhadap setiap kabar. Menurutnya saat ini sangat banyak opsi untuk mengklarifikasi kebenaran sebuah berita di medsos misalnya, dengan mencari gambar yang diragukan kebenarannya di Google Image.

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Previous post

Inilah Nama Pemenang Sayembara Surat Cinta untuk Jokowi

Next post

PSI, Cari Topik Lain untuk Mendulang Suara