Esai

Kutemukan Cinta Saat Riset di Nusa Penida

Dalam setiap perjalanan, saya seringkali menemukan cinta. Bahkan ketika melakukan riset di Nusa Penida, Bali, saya merasakan perjalanan spiritual yang kian meneguhkan makna cinta  dalam memahami hubungan antar agama dari pendekatan filsafat dan sufi. Di perjalanan ini, saya merasakan ada dualisme, antara riset pesisir-laut versus pengalaman spiritual dalam memahami teologi Hindu di ruang kedalaman spiritualnya.

Nusa Penida di Provinsi Bali menjadi lokasi riset kali ini, tepatnya komunitas adat yang mendiami Desa Ped. Komunitas ini membawahi tiga desa adat yang disebut dengan desa-desa pakraman. Mengingat lokasi riset ini di Bali maka aroma wisata dan traveling tidak bisa dipisahkan.

Nusa Penida dikenal sebagai destinasi wisata dalam beberapa tahun belakangan selain Kuta dan Sanur di daratan utama Pulau Dewata. Beberapa lokasi wisata yang terkenal, di antaranya Kelingking Beach, Atuh Beach, Crystal Bay, hingga Angel Billabong. Semuanya merupakan wisata alam yang eksotik, menawan, juga menantang. Cukup dengan menyewa sepeda motor 40.000 rupiah sehari maka seluruh lokasi ini dapat dijelajahi.

Masyarakat Nusa Penida memiliki tradisi dan kearifan lokal dalam menjaga dan memelihara alam dan lingkungan. Salah satu tradisi yang dijumpai di daerah ini adalah upacara Nyepi Segara yang dilakukan sebagai penghormatan terhadap Dewa Baruna sang penguasa lautan, juga penjaga dan pemberi karunia dari laut. Tradisi ini menjadi salah satu target riset dari Subdit Masyarakat Hukum Adat, Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan.

Pengalaman ini bermula dari kebutuhan pengumpulan data untuk tujuan identifikasi dan pemetaan masyarakat hukum adat di kawasan ini, telah mengantarkan saya untuk bertemu dengan Ketua Panitia Pengelola Pura Penataran Ped atau dalam bahasa lokal disebut dengan Jro Pemangku. Dialog ilmiah yang terjadi antara saya dengan narasumber perlahan bergeser ke dialog budaya, dan akhirnya masuk ke dialog teologi.

Saya mengajukan pertanyaan fundamental terkait asal usul tradisi Nyepi Segara yang tentunya berkaitan teologi Hindu. Pertanyaan ini dijawab dengan mengalir oleh Jero Wawa, Jero Pemangku atau Kepala Panitia Pengelola Pura Penataran Ped, salah satu pura agung di Nusa Penida Bali. Ia mengutip buku berjudul Purana Pura Penataran Ped, sebuah naskah yang menceritakan tentang asal-usul masyarakat Adat di Nusa Penida dan sejarah Pura Penataran Ped.

Dituturkan bahwa, “sebagai awal cerita, disebutkan pada jaman dahulu kala ketika belum ada apa-apa, belum ada matahari, bulan, bintang, bumi namun telah ada Sanghyang Embang Yang Maha Tunggal, Agung Alit, bebas dari keterikatan waktu, bebas dari noda, bebas dari perubahan, sangat sucilah beliau. Sanghyang Maha Tunggal berwarna tanpa warna, bebas dari segala keinginan/asmara, tidak terkena halangan, dan ada dimana-mana. Menurut Widhi Tatwa atau Purana Tatwa, seperti ini (0) rupanya dan dalam aksara yang maha suci bernama Windu. Berbadan Sanghyang Kawi, Widhi, berarti Embang, berarti kosong. Namun kosong (sunya) itu memenuhi seluruh tempat, tanpa awal tanpa akhir, tanpa batas, bersemayan didalam lingkaran alam kekosongan (cakra sunya), maha tahu (maha widya) beliau disebut Sanghyang Widhi, maha pengasih, maha pemurah, beliau kemudian mengadakan yadnya yoga. Dari yoga beliau muncul Sanghyang Licin bernama Sanghyang Eka Aksara, Ongkara”.

Untaian penjelasan di atas langsung membangkitkan nalar spiritual saya ke Alquran, kitab suci yang saya yakini kebenarannya sebagai seorang pemeluk Islam. Banyak terma yang tidak jauh berbeda dari kalimat-kalimat di atas. Beberapa kalimat Alquran yang sering dikutip oleh almarhum Nurcholis Madjid (Cak Nur) disebut sebagai Kalimatun Sawa.

Terma, Dia yang awal, Dia yang akhir, Dia yang Dzahir, Dia yang Bathin, Dia ada sebelum segala sesuatu ada, Dia meliputi segala sesuatu, Maha Pengasih, Maha Penyayang, merupakan dalil-dalil dasar dalam konsep ketauhidan Islam, sebagaimana dilafalkan dalam kalimat-kalimat asmaul husna.

Pertanyaan genit muncul dalam hati, apakah benar adanya ajaran teologi (Hindu) seperti yang dituturkan di atas? Saya terlanjur mengetahui dan mempercayai doktrin teologi Hindu yang selama ini saya baca dan dengar dari berbagai sumber tentang kepercayaan terhadap tiga dewa utama, yakni Brahma, Wisnu, dan Syiwa yang dikenal sebagai trimurti.

Kalaupun ada Sanghyang Widhi atau Sanghyang Tunggal sebagai entitas spiritualitas tertingg, namun belum pernah saya dengar adanya pensifatan pada hakikat-Nya. Menengok ke makna teologis penjelasan Jero Wawa, terus terang akan sulit dipahami dan diterima jika tidak menyelami filsafat dan tasawuf. Jelas, bagi para pembelajar filsafat Islam, narasi di atas bersinggungan dengan filsafat emanasi atau paham wujudiah (Wihdatul Wujud) dari seorang teolog besar Islam Syaikh Muhyidin Ibnu Arabi.

Sebagai pengagum pemikiran Cak Nur, tentunya pengalaman ini menjembatani kegelisahan intelektual saya selama ini tentang konsep kalimatun sawa yang menjadi salah satu magnum opus pemikiran Cak Nur. Selama ini saya hanya memahami pemikiran Cak Nur dari buku tanpa berupaya untuk melakukan falsifikasi secara langsung dalam dialog-dialog konstruktif sebagai media pencerahan.

Saya hanya berdiri di pantai pemikiran Cak Nur, tanpa mengikuti jejaknya melanglang buana di seantero jagat membangun dialog dan dialektika antar umat beragama.

Ceceran pemikiran Cak Nur dalam beragam buku, jurnal, dan makalah nyatanya hanya coretan ditepi pantai yang memang tidak mampu menampung seluruh pengalaman spiritual yang beliau peroleh dari lautan pengalaman dan pengetahuan. Cak Nur hanya menandai tonggak di tepi pantai, seraya berkata, “kalian harus menyelam agar memahami”.

Pada tingkat penyelaman terdalam, akan ketemu formula yang disampaikan oeh Budi Munawar Rahman,  “Cak Nur dan kalimatun sawa’, keyakinan bahwa semua agama, pada tingkat transenden, bertemu dalam satu ultimate concern, sementara pada tingkat imanen dalam keprihatinan etis.”

Getaran spiritualitas saya semakin tersulut saat hendak berpamitan kepada pemilik bungalow tempat kami menginap. Kami ingin agar beliau bersedia menemani kami ke pelabuhan untuk mengamankan tiga unit sepeda motor mereka yang kami sewa selama melakukan kunjungan lapangan. “Mas, silahkan jalan saja bertiga dengan motor-motor itu. Nanti begitu sampai di pelabuhan, motor-motornya taruh di pelabuhan. Kuncinya tidak usah dilepas dari motor, disini aman kok tidak ada yang mencuri”. Kesadaran spiritual Jero Wawa ternyata tidak melekat sebagai sebuah ego pribadi, namun menjalar sebagai ego kolektif dalam kesadaran spiritual manusia Hindu di Nusa Penida.

Pengalaman ini meyakinkan saya tentang legenda Ratu Shima penguasa Kerajaan Kalingga. Ia seorang penganut Hindu yang taat dan terkenal ketegasannya dalam menegakan hukum. Kemasyhuran ini mengundang cobaan dari seorang raja yang ingin menguji kepatuhan rakyat dan ketegasan sang ratu dalam menegakan hukum di wilayahnya. Konon, sang raja mengirim mata-matanya untuk meletakan barang-barang berharga di lokasi-lokasi strategis, dan selama berbulan-bulan tidak hilang bahkan tidak tersentuh.

Sampai akhirnya barang tersebut disentuh secara tidak sengaja oleh anaknya, Narayana yang juga putra mahkota Kalingga. Apa dikata, hukum harus tetap ditegakan, kaki sang putra mahkota harus ditebas untuk membayar mahal taruhan tegaknya hukum. Artinya, Hindu dengan segala nilai dan keyakinan teologisnya punya landasan sejarah tersebut.

Kondisi di atas sekali lagi menggugah nalar intelektual saya, yang selama ini begitu mudahnya menerima ‘doktrin’ romantisme desa, sebuah adagium yang sering menjadi buah bibir di kalangan sosiolog pedesaan di IPB bahwa masyarakat desa yang jujur, baik, guyub, amanah, dan tidak sombong itu sudah tidak ada lagi di Indonesia. Itu juga terjadi di Nusa Penida, yang  bukan lagi sebuah kawasan pedesaan tradisional, yang terisolir, jauh dari peradaban, dan menolak modernitas seperti Suku Badui di Banten.

Ternyata menengok ke kedalaman pengetahuan dan pengalaman empirik, sejatinya merupakan pintu-pintu hikmah yang akan membawa kita ke pemahaman yang utuh tentang hakikat spiritual dari agama-agama besar dunia, demi menegakkan kalimatun sawa melalui dialog kebudayaan dan keagamaan. Sehingga percikan konflik yang disulut oleh kebencian, hasutan, dan fitnah oleh sekelompok orang yang berkemah dipinggiran pantai dapat di redam.

Pesisir dan laut bukan hal baru dalam tradisi Islam. Kisah mistis perjalanan spiritual Nabi Musa dan Khidir menjadi contoh bagaimana dialektika pengetahuan itu ada dalam kitab suci. Allah SWT menubuatkan kepada Nabi Musa tentang ujung pencarian salah satu manusia penerima Hikmah Langit, yakni Nabi Khidir yang ditandai dengan hidupnya ikan yang dibawa sebagai bekal di tepi pantai yang diapit oleh dua lautan.

Dan, perjalanan itu pula yang menandai pertarungan pengetahuan ala pantai dan laut. Nabi Musa menyaksikan sendiri secara langsung bagaimana sang guru hikmah merobek-robek syariat yang dibawa Musa tanpa tendeng aling-aling.

Jika dari sisi syariat, Musa melarang membunuh manusia tanpa alasan yang hak, maka Nabi Khidir memperlihatkan pembunuhan seoarang anak kecil tanpa doa. Jika syariat Musa melarang merampas dan merusak hak milik orang lain, maka Khidir mempertontonkan aksi perusakan perahu seorang nelayan yang baru saja mengantar mereka ke seberang.

Khidir, seakan ingin menyampaikan bahwa jika anda (Musa) masih berkemah di pantai dan hanya menikmati uap air laut yang dihembus oleh angin, jangan menjadi pongah dan sombong sebagai pemilik klaim kebenaran.

Mereka yang berada di pinggir pantai adalah kelompok manusia yang tidak suka menantang badai dan ombak, serta tantangan bawah laut untuk menemukan keindahan-keindahan dan pengalaman baru disana. Dalam keterlenaan di tepi pantai, mereka berupaya melampaui kedalaman laut dan ketinggian langit  dengan membangun simbol-simbol kebenaran mutlak, sembari terus menyalahkan kelompok yang berupaya menyelami kedalaman laut.

Jangan hanya terpaku di tepi pantai, menyelamlah ke kedalaman laut yang dalam, dingin, hening, dan gelap. Banyak keindahan yang akan diperoleh dari sekedar bayangan dan imajinasi spiritual yang terhalang oleh tembok-tembok ‘syariat’ yang membatasi.

Selami laut, ambilah mutiara dan marjan yang ada didasar laut. “Dia membiarkan dua laut mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. (QS Al-Rahman: 19-22)”.

Jangan menjadikan hakikat kemanusiaan ini menjadi sekedar monumen mati dalam belenggu-belenggu keagamaan yang kaku dan eksklusif, yang berpotensi memicu konflik dan perang. Hakikat manusia dan kemanusiaan kita adalah keagungan ilahiah yang tidak dapat digadaikan oleh sentimen keagamaan sempit untuk memuluskan skenario setan yang rendah yang terus menggiring manusia agar saling memfinah, membenci, menumpahkan darah, dan tergeleincir ke status hakikat yang lebih rendah dari binatang.

Inilah pesan yang disampaikan oleh Ibnu Abi Malik, seorang ‘gila’ dari Kota Kufah sebagaimana diriwayatkan dalam Kitab Uqalaa al Majaanin atau Kebijaksanaan Orang-Orang Gila:

Wahai Abu Khlaid!

Engkau perenang yang menyelam di masa kecil

Tapi setelah dewasa, engkau hanya berkemah di pinggir pantai

Seperti kucing Abdullah yang dijual dengan satu dirham saat kecil,

Tapi setelah dewasa hanya dijual dengan satu qirath

Kembali ke Nusa Penida dan narasi pengalaman di atas, tentu tidak sebanding dengan apa yang dialami Elizabeth Gilbert menemukan puncak spiritualitasnya di Tanah Bali yang kemudian ditulis dalam Eat, Pray, and Love. Kisahnya telah difilmkan dengan judul yang sama dan dibintangi oleh Julia Roberrs. Namun, kalimatun sawa dari dua cerita ini bahwa selalu ada keindahan, keluhuran, dan keagungan dalam pencarian kedamaian jika kita semua mau menyelam ke dalam lautan agama lain.

Riset kali ini menjadi pembelajaran bagi saya bahwa selalu ada hal unik dan menarik yang dapat dipetik dari lapangan riset jika kita mau menjadi manusia pembelajar. Artinya, jangan lewatkan kegiatan riset dilapangan hanya sekedar meneliti apa yang menjadi obyek kajian. Kaji dan dalami penomena lain yang muncul dari riset yang dilakukan. Sekali meriset, dua tiga tulisan dapat dihasilkan!

Ahmad Mony

Ahmad Mony

Baca, Diskusi, Tulis

Previous post

Apa yang Tersisa dari Agama?

Next post

Mengapa Palestina Harus Dibela dan Diperjuangkan?