Esai

Kota Saranjana yang Hilang dan Cerita Mistik Nusantara

SAYA terkejut, tiba-tiba kota Saranjana, sebuah tempat yang hilang di kawasan Kotabaru, Kalimantan Selatan menjadi trending topic belakangan ini. Ditengarai, wisatawan kadang melihat gedung pencakar langit dari kejauhan namun apabila mendekat tidak tampak lagi. Tersiar juga cerita dari mulut ke mulut, bahwa buah di Saranjana lebih besar dari tempat lain, namun akan mengecil apabila dibawa keluar. Memang menarik, sekaligus membuat bulu kuduk berdiri.

Mistik memang tidak bisa dilepaskan dari kawasan Nusantara, khususnya Indonesia. Saya masih ingat lawatan saya ke beberapa provinsi di Indonesia dan mendapatkan “oleh-oleh” cerita gaib. Beberapa bulan sebelum tahun 2016 berakhir, saya melawat ke Singosari, Jawa Timur. Bertemu dengan seorang bapak yang diusir istrinya yang menganut sistem matrilineal. Dari ceritanya saya mendapat banyak hal.

Mulai dari ajaran manunggaling kawulo gusti ala Syekh Siti Jenar, nama Megawati Soekarnoputri yang diambil dari Sumber Awan, hingga Sendang (tempat pemandian) Ken Dedes. Tempat terakhir ini begitu segar dalam kenangan, karena tertarik dengan cerita si bapak saya mencoba nyebur ke sendang putri kerajaan tercantik pada masanya itu dengan teman saya.

Kami begitu deg-degan. Bagaimana tidak, bau kemeyan sudah tercium begitu memasuki area pemandian. Aura mistis begitu terasa. Ditambah lagi, di pojok pemandian yang kira-kira seluas 3×4 meter, terdapat cerukan yang pas untuk diduduki persis di bawah pancuran dengan kedalaman selutut. Seakan-akan ada yang akan mencolek saya dari dalam air kalau tidak ular yang keluar menjalar.

Di awal 2017, saya menghabiskan waktu di Sorong, Papua Barat. Di sana saya mendapatkan cerita mistik lagi dari seorang kawan baik yang tinggal di Fakfak. Dia sebetulnya berasal dari Pulau Seram namun masih mempunyai trah kebangsawanan Buton dari jalur kakeknya.

Saya ingat cerita seorang senior organisasi mengenai Buya Hamka yang terkejut di Pulau Seram. Ulama pengarang Tafsir Al Azhar itu, dikenal suka membawa kompas kemana-mana. Tujuannya untuk memastikan kebenaran arah kiblat. Namun, beliau terpaksa melongo akibat “keahlian” ulama Seram yang hanya menggunakan bambu untuk menentukan arah kiblat. Buluh bambu itu dijadikan teropong pas di mihrab mesjid dan Ka’bah langsung kelihatan.

Kembali pada kawan baik tadi, ia bercerita mengenai konflik kebatinan yang terjadi di rumahnya. Gara-gara di lemari bajunya terdapat kotoran yang entah dari mana datangnya. Konon “kiriman” dari orang yang tidak menyukai keluarganya. Tidak hanya itu, dia juga bercerita bahwa di keraton Buton terdapat tempat yang disebut gerbang neraka. Sebuah lobang dimana api yang akan membakar manusia tidak baik di akhirat nanti terlihat.

Selepas dari Sorong saya singgah di Makassar. Niat awalnya mengunjungi bibi yang sudah lama tidak bertemu. Namun, sebagai anak muda pengelana, mengeksplorasi tempat baru tentu menjadi menarik. Di Benteng Somba Opu, peninggalan Kesultanan Gowa, saya pun memperoleh banyak cerita mistik dari penjaga salah satu rumah adat di sana.

Rumah adat yang ia jaga konon ditunggui oleh seorang gadis. Dia hanya tersenyum dan tidak mengganggu sewaktu ia membersihkan tempat itu. Berikutnya ia juga bercerita mengenai orang tanpa jakun di suatu tempat di Sulawesi Tengah. Merasa senang karena saya tanggapi, dia juga menuturkan bahwa ada suatu kawasan di Kalimantan yang dari pagi hingga siang hutan belantara tetapi pada sore dan malam seperti kampung yang ramai. Apabila orang memasuki kawasan itu memakai baju kuning, maka sulit baginya untuk kembali ke alam manusia biasa. Merinding bukan?

Cerita berikutnya berasal dari Kalimantan Barat yang saya kunjungi selepas Ramadhan tahun lalu. Seperti halnya Saranjana, di kawasan Dinasti Kadriah pernah berkuasa itu juga terdapat kota yang hilang. Namanya terkenal dengan Padang Dua Belas. Konon daerah itu dihuni oleh jin dan tidak sedikit orang yang tersesat di dalamnya serta merasakan kemegahannya. Menurut sohibul hikayat, Rhoma Irama pun pernah konser yang ternyata dihadiri oleh para jin di kawasan itu. Ternyata jin pun suka dangdut kawan.

Cerita mistik tidak lengkap kalau saya tidak berkisah tentang mistik dari tanah kelahiran, Minangkabau. Kakak saya pernah bercerita pengalamannya sewaktu belajar silat. Sang guru menendangnya dan iapun nyungsep di pucuk pohon alpukat. Entah kekuatan apa yang melambungkannya setinggi itu. Kisah yang lebih tersohor sebenarnya mengenai seorang ulama yang terkenal dengan sebutan Buya Taram.

Alkisah sang ulama sedang mencukur rambut. Saat rambutnya baru tercukur sebelah, entah bagaimana beliau mendapatkan informasi bahwa Mekkah sedang kebakaran. Pergilah Buya Taram untuk memadamkan api yang menjalar di kota suci umat Islam itu. Beberapa waktu kemudian terkonfirmasi, bahwa memang ada orang yang berambut sebelah memadamkan kebakaran itu.

Kalau ditelusuri lebih jauh, saya yakin pasti lebih banyak lagi cerita mistik dari seluruh kawasan Nusantara. Karena itu, jika Auguste Comte, sang sosiolog Prancis, tempo hari melakukan riset di kawasan Nusantara, tentu dia akan merubah tiga tahap perubahan sosialnya itu. Setidaknya, alam teologis masih terus akan bertahan meskipun corak masyarakat sudah masuk ke dalam metasifika dan bahkan positif.

Akan halnya mengenai kebenaran beberapa cerita di atas, saya hanya bisa berkata wallahu a’lam bishawab.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Previous post

Jangan Bicarakan Dilan yang Khayali, Ada Zaadit Pemberani

Next post

KOHATI Dalam Membingkai 71 HMI