Locita

Konflik Yerusalem Bukan Perjuangan Agama

Ilustrasi (Sumber foto: rand.org)

SEJAK Abraham meninggalkan Babilonia, tanah yang berada di sekitaran lembah Sungai Eufrat dan Tigris ini menjadi lahan konflik tersubur dalam sejarah. Wilayah ini pun telah menjadi saksi bisu berbagai peristiwa sejarah, mulai eksodus yang dilakukan Abraham, perang Salib, dan konflik yang masih berlangsung hari ini, yakni penyerobotan wilayah yang dilakukan oleh Israel terhadap Palestina.

Konflik yang terus silih berganti di wilayah ini, khususnya Yerusalem, tak lepas dari fungsi kota ini sebagai pusat sejarah agama-agama. Mulai dari Islam dengan Masjidil Aqsanya, Kristen dengan tempat sucinya Betlehem, hingga Yahudi dengan Tembok Ratapan. Yerusalem pernah menjadi kiblat bagi Muslim sedunia. Kota ini bersejarah sehingga wajar jika diperebutkan di masa kini.

Saat ini, kondisi Yerusalem masih dekat dengan konflik. Di antaranya adalah perseteruan antara Israel dan Palestina. Perebutan Jalur Gaza menjadi salah satu poin penting bahwa konflik yang tumbuh di wilayah tersebut selain memiliki motif perjalanan sejarah agama-agama Abrahamik yang saling berbeda narasi, melainkan lokasinya yang sangat strategis bagi jalur distribusi barang dari Asia ke Eropa, Eropa ke Afrika ataupun sebaliknya.

Hal tersebut semakin membuat kondisi di Yerusalem semakin tidak menentu. Logika pasar menyebutkan, distribusi adalah salah satu kunci keberhasilan mekanisme siklus kapital. Ini menyebabkan negara-negara lain yang tidak berada didalam wilayah tersebut ikut andil konflik di dalamnya. Naik turunnya tensi politik internasional tentang Yerusalem pun tak hanya terjadi satu dua kali.

Dukungan negara-negara kapitalis tua seperti Amerika Serikat dan Inggris terhadap Israel sudah ditunjukkan sejak pasca perang dunia kedua. Palestina sebagai negara berdaulat yang seharusnya mengambil sikap tegas atas invasi yang dilakukan Israel terhadap wilayahnya justru melembek. Perlawanan muncul dari Hamas yang tegas menolak invasi Israel atas Yerusalem, saat ini justru di cap sebagai kelompok teroris oleh dunia.

Baru-baru ini pun telah terjadi kontroversi tentang Yerusalem. Donald Trump, Presiden Amerika Serikat, mengeluarkan statement akan rencananya memindah kedutaan besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem. Berdasar pada UU Kongres AS di tahun 1995, Trump mengeluarkan kebijakan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Pengambilan kebijakan yang oleh tiga presiden pendahulunya (Clinton, Bush, Obama) selalu ditolak dengan menggunakan hak keberatan presiden, kali ini Trump justru melakukan sebaliknya. Dorongan komposisi pendukung setia Trump sejak masa kampanye dimana komunitas etnik yahudi yang mengimani zionisme mendominasi dalam tim.

Sikap politik Amerika Serikat ini semakin mempertegas posisinya kembali sebagai ruler of the world sekaligus menunjukkan tidak bergunanya Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai organisasi Internasional.

Reaksi negara-negara di dunia tentang sikap Amerika Serikat atas Yerusalem mulai bermunculan. Negara-negara Eropa pun telah mengeluarkan statement seperti Perancis dan Jerman bahkan Uni Eropa. Namun pernyataan ini justru terkesan tidak tegas, yakni “menyayangkan“ dalam pengertian yang sebenarnya.

Hanya Turki melalui Presidennya, Erdogan,  menyampaikan bahwa sikap politik Amerika Serikat sudah berlebihan dan Turki siap memfasilitasi perjuangan untuk merebut kembali Yerusalem. Sedangkan organisasi seperti OKI ataupun negara-negara dengan latar belakang Islam belum memberikan pernyataan secara gamblang.

Amerika serikat, melalui kebijakan kontroversialnya atas Yerusalem, justru semakin mencerahkan komunitas-komunitas dunia. Jatuhnya Amerika Serikat dalam krisis semenjak 2008, yang bergelombang hingga ke Eropa menjadi salah satu kondisi yang tidak bisa di indahkan dalam mengkaji permasalahan di Yerusalem.

Trump di tengah kondisi ketidakstabilan ekonomi yang terjadi di Amerika Serikat berusaha untuk mengarahkan pusat kebijakan-kebijakan politik luar negerinya. Ia tahu betul bahwa Amerika Serikat saat ini harus dipersatukan untuk membangun kembali sendi-sendi ekonomi bangkrut di sana. Mulai dari bersitegang dengan Rusia hingga Yerusalem, tidak terlihat satu kebijakan penting dalam urusan luar negeri Amerika Serikat selain penangguhan jaminan kesehatan dalam rangka pengetatan anggaran.

Amerika Serikat pada saat ini berposisi sebagai pelempar umpan. Seperti pada orang sedang memancing, ia menunggu ikan mana yang akan memakan umpan tersebut. Dengan kata lain, Amerika Serikat memang bertujuan untuk memanaskan kembali kondisi di timur tengah. Negara-negara dunia seharusnya tidak terpancing dengan mengeluarkan pernyataan siap perang seperti Turki, bukan pula hanya bersikap simpati terhadap Palestina.

Sejak tahun 1967, penjajahan telah dilakukan Israel terhadap wilayah Palestina. Seharusnya, penjajahan ini telah mendapatkan sanksi dari dunia internasional. Namun fakta berkata lain, PBB sebagai organisasi yang dibentuk pada tahun 1948 langsung mengakui deklarasi negara Israel. Ini menunjukkan keberpihakannya, meskipun menetapkan Yerusalem sebagai kota internasional.

Negara-negara yang mengecam sikap Amerika Serikat ini haruslah lebih tegas lagi. Penutupan kedutaan besar di negara bersangkutan, pengurangan duta Amerika Serikat ataupun embargo ekonomi menjadi pilihan yang lebih logis di banding sekedar pernyataan simpati atau ajakan perang. Upaya ini perlu untuk menunjukkan kepada Amerika Serikat bahwa dunia ini perlahan telah berganti.

Penting untuk digarisbawahi jika di Palestina maupun di Israel penduduknya juga beragam agama, baik Islam, Yahudi, Kristen maupun lainnya. Persoalan Yerusalem bukan merupakan perjuangan agama melainkan perjuangan mengenai keadilan bahwa segala dan semua bangsa berhak merdeka serta segala ketidakadilan maupun penindasan harus dihapuskan dari seluruh muka bumi ini.

charis subarcha

nomer Hp : 08213971998 . Seorang pembelajar yang akan belajar selama hidup untuk menyelami lautan ilmu.

Tentang Penulis

charis subarcha

nomer Hp : 08213971998 . Seorang pembelajar yang akan belajar selama hidup untuk menyelami lautan ilmu.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.