Locita

Kita Memang Butuh Orang Gila, Seperti Nadiem Sudah banyak profesor atau ahli pendidikan namun tidak juga berhasil ketika menjadi menteri

Sebut saja S. Senior saya. Masih muda. Usianya baru menginjak awal 30 tahun. Bulan lalu ia terangkat sebagai sekretaris jurusan di sebuah kampus negeri. Ia terpilih karena ia memang dianggap akan membawa perubahan.

Ia pernah bersekolah di Amerika Serikat selama setahun. Ia pernah mewakili Indonesia di beberapa negara. Ia aktif mengkampanyekan pluralisme. Dan jurusan tempat ia diangkat sekarang terkait erat dengan isu-isu keagamaan.

Banyak yang menyelamatinya. Ucapan selamat berhamburan di sosial medianya. Saya termasuk menulis postingan khusus untuknya. Ia memang senior saya dan teman berbincang yang asik.

Sebagai seorang akademisi yang masih muda dan sudah punya jabatan (yang berarti juga punya kewenangan), banyak harapan di pundaknya sebagaimana banyak yang mengira bahwa posisi barunya itu akan membuatnya semakin mencetak karya. Ia sering menulis dan membawakan materi dalam acara seminar, talkshow, atau workshop dari bangku-bangku ruang kuliah hingga ruang warung kopi biasa di pinggir jalan.

Namun, yang apa yang terjadi? Saya bertemu secara tidak terencana minggu lalu, ia mengaku bahwa posisinya kini justru memendekkan langkahnya dan membuatnya tidak produktif.

Apa pasal, ia terjebak dengan urusan-urusan administrasi. Ia sibuk mengurusi data-data mahasiswa. Ia seringkali harus tinggal sampai tengah malam di kampus.

Waktunya tersita untuk mengurusi hal-hal birokrasi yang ribet. Suatu alasan yang jelas mengurangi produktivitasnya. Kita tidak perlu bertanya lagi apakah ia masih memiliki waktu untuk meneliti dan menerbitkan artikel di jurnal. Suatu tugas yang seharusnya wajib bagi setiap akademisi. Sebuah kewajiban yang seharusnya memang demikian jika ingin memajukan pendidikan bangsa ini.

Hal yang sama juga dialami beberapa teman saya yang baru terangkat sebagai dosen-dosen PNS (Pegawai Negeri Sipil). Dalam bincang-bincang santai, mereka mengeluhkan waktu mereka tersita untuk mengurus hal-hal administratif, alih-alih mereka membaca dan mempersiapkan materi untuk mengajar.

Cerita-cerita ini sama ribetnya dengan administrasi para guru dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah. Mereka lebih sibuk mengurus pemberkasan dan hal-hal tetek bengek lainnya daripada terus menguatkan kompetensi diri agar lebih maksimal mempersiapkan generasi bangsa.

Masalah ini adalah rahasia umum yang telah berlangsung dari tahun ke tahun. Presiden berganti. Menteri datang dan pergi. Setiap menteri datang, harapan itu pula datang untuk kemudian pergi. Para menteri itu adalah para akademisi yang dianggap punya latar belakang pedagogi. Ada yang mantan rektor atau bergelar profesor. Hasilnya? Kita tahu. Tidak banyak yang berubah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pendidikan Tinggi seolah masih jalan di tempat dan dipusingkan dengan hal-hal administrasi. Sistem yang ribet, rumit, dan ruwet.

Sistem seperti ini mungkin tidak akan pernah dialami Nadiem yang telah menempuh pendidikan di negara-negara maju. Mulai dari SMA di Singapura, S1 dan S2 di Amerika Serikat. Sependek pengalaman saya, pendidikan di luar negeri memiliki sistem pelayanan yang mudah, cepat, dan ramah. Data-datanya terintegrasi. Staf-stafnya responsif dan ramah.

Permasalahan-permasalahan sederhana seperti ini nyatanya tidak dapat diselesaikan oleh para ahli bahkan yang dianggap paling mengerti pendidikan sekalipun. Profesor memang memiliki keahlian dan kedalaman ilmu pada bidang tertentu namun belum tentu ia sanggup menjadi pemimpin orkestra.

Lagipula menjadi menteri bukan soal menjadi profesor yang harus memiliki kedalaman ilmu. Tetapi bisa jadi ia yang menjadi praktisi, terbiasa dengan sistem memudahkan namun efektif, dan punya pengalaman sistem akan tahu pada bagian mana ia harus memangkas. Para profesor mungkin tahu permasalahannya namun ide dan usulannya akan terkendala pada anggaran misalnya. Pak Menteri hanya perlu mengumpulkan para ahli, mempersilakan dan menampung usulan mereka, dan menyederhanakannya dalam bentuk kebijakan.

Sebagai seorang praktisi, Nadiem memiliki kemampunan untuk melihat hal rumit dengan cara sederhana. Ia akan menciptakan sistem sederhana yang dianggap menguraikan sistem yang rumit itu. Sebaliknya para akademisi biasanya sibuk merumitkan hal-hal yang seharusnya sederhana.

Jadi saya setuju dengan perintah Jokowi yang meminta Nadiem untuk merombak kurikulum besar-besaran. Anak-anak tidak perlu belajar yang tidak mereka perlukan di masa depan. Terlalu banyak materi pelajaran yang harus dijejalkan pada anaknya yang ukuran kepalanya masih kecil itu. Bahkan saya sering mendapati tas-tas ponakan saya yang masih SD jauh lebih berat daripada tas anak kuliahan. Kuliahnya sejak pagi sampai sore.

Nadiem (semoga) menjadi menteri yang tepat merombak sistem pendidikan kita yang ruwet dan bebannya luar biasa ini. Kita memang butuh orang Gila seperti Nadiem yang selalu punya ide-ide menyederhanakan daripada meribetkan. Sehingga pendidikan tidak sekadar menjadi formalitas dan rutinitas belaka. Sudah terlalu banyak energi dan materi yang kita habiskan untuk pendidikan namun tidak menuai hasil yang diharapkan.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.