Locita

Kisah Baru tentang Asal Mula Manusia di Afrika

Fossil Florishbad

Ada sebuah cerita dari puluhan tahun lalu tentang asal mula spesies kita, bahwa kita terlahir dari sekelompok hominid yang tinggal di suatu tempat di Afrika sekitar 200.000 tahun lalu. Beberapa ilmuwan memperkirakan asal tersebut dari Afrika Timur; beberapa memperkirakan dari selatan.

Hominid nenek moyang tersebut, kemungkinan Homo heidelbergensis, pelan-pelan mengakumulasi fitur-fitur karakteristik spesies kita – tengkorak yag bundar, wajah yang kecil, dagu yang jelas, peralatan yang canggih, serta kultur yang rumit. Dari awal itulah kita lalu menyebar ke seluruh Afrika, dan akhirnya dunia.

Namun, kini beberapa peneliti berpendapat bahwa narasi buku teks ini salah dalam simplisitasnya, linearitasnya, serta geografinya. Ya, kita memang berevolusi dari nenek moyang hominid di Afrika, tetapi kita melakukannya dengan proses yang rumit – proses yang melibatkan seluruh benua.

Pikirkan tentang fosil kuno manusia dari goa Moroko bernama Jebel Irhoud, yang dideskripsikan tahun lalu. Tulang-belulang berusia 315.000 tahun ini merupakan fosil-fosil tertua dari Homo sapiens. Tulang-belulang ini bukan hanya memukul mundur perkiraan waktu terciptanya spesies kita, tetapi juga menambahkan Afrika barat laut ke dalam daftar situs asal potensial.

Penemuan ini juga menambah kombinasi aneh ciri khas, dengan memiliki wajah datar ala manusia modern dan tengkorak panjang dari spesies kuno seperti Homo erectus. Dari depan, mereka terlihat seperti kita, tetapi dari samping mereka tampak berbeda.

Perbandingan Jebel Irhoud dan manusia modern

Fosil dari seluruh Afrika memiliki ciri khas modern maupun kuno dalam kombinasi yang bervariasi, termasuk tengkorak Florisbad berusia 260.000 tahun dari Afrika Selatan, peninggalan berusia 195.000 tahun dari Omo Kibish di Ethiopia, dan tengkorak Herto berusia 160.000 tahun, juga dari Ethiopia. Beberapa peneliti berargumen bahwa peninggalan-peninggalan tersebut merepresentasikan subspesies berbeda dari Homo sapiens, atau bahkan spesies yang lain sama sekali.

Fossil Florishbad

Tetapi mungkin mereka semua benar-benar Homo sapiens, dan spesies kita benar-benar hanya jauh lebih bervariasi pada zaman dahulu dibanding sekarang. “Bila Anda melihat tengkorak, anda akan melihat banyak ciri khas berbeda dari manusia modern yang muncul di berbagai lokasi dalam waktu beragam,” kata Eleanor Scerri, arkeolog dari Universitas Oxford. Alasan untuk itu, ujarnya, adalah “kita merupakan spesies dengan berbagai asal Afrika”.

Ia dan yang lainnya berpendapat manusia berasal dari beberapa populasi beragam yang tinggal di seluruh Afrika. Terpisah dari satu sama lain oleh penghalang geografis, mereka berevolusi dalam isolasi, dan tiap kelompok membentuk beberapa ciri khas kita, namun tidak dengan yang lain. Tetapi pemisahan tersebut tidak konstan: sebagaimana iklim yang terus berubah ikut mengubah lanskap Afrika, padang pasir yang menghijau serta hutan-hutan yang mengering, manusia-manusia awal tersebut bergabung dan berpisah. Setiap mereka bertemu, mereka akan kawin dan bergabung, bertukar gen dan ide-ide dalam sebuah teko lebur sebesar benua yang akhirnya menghasilkan ciri-ciri yang sekarang kita tahu.

Teori ini, dikenal sebagai “multiregionalisme Afrika,” merupakan teori yang berbeda secara fundamental tentang bagaimana kita berasal. Teori ini menyatakan bahwa terbentuknya kita tidak berasal dari satu tempat atau satu populasi saja. Teori ini mengungkapkan bahwa buaian tempat asal manusia adalah seluruh benua Afrika.

Scerri akhir-akhir ini berkumpul dengan 22 orang antropolog lainnya, arkeolog, ahli genetis, dan klimatologis di London untuk mengkaji bukti-bukti teori multiregionalisme Afrika. Diskusi mereka dituangkan dalam tulisan yang diterbitkan hari ini, dan Mark Thomas, seorang ko-author, menyebutnya sebagai “panggilan-untuk-senjata”. “Kami berpendapat bahwa sangat tidak mungkin manusia berevolusi di satu lokasi lalu menyebar ke seluruh dunia,” katanya. “Nenek moyang kita harus mencapai banyak, banyak sekali sudut dari Afrika.”

“Ini adalah tulisan yang bagus dan saya sangat setuju,” kata Louise Leakey, yang sudah lama mempelajari fosil hominid di Afrika Timur. “Sejumlah penemuan yang sudah muncul dari situs-situs berbeda di Afrika [menunjukkan] sebuah tambal-sulam populasi berstruktur yang tinggal di seluruh benua.”

Hal ini dapat menjadi konsep yang rumit untuk dicerna, karena kita terbiasa berpikir tentang garis keturunan dalam pohon keluarga, baik pohon keluarga yang menyatukan anggota-anggota klan atau sebuah pohon evolusioner yang menunjukkan hubungan antar spesies. Pohon memiliki satu batang besar yang menyebarkan cabang dengan rapi.

Konsep ini mengarahkan pemikiran kita ke satu titik asal. Bahkan jika manusia sudah menyebar di sepanjang Afrika 300.000 tahun yang lalu, pasti kita memiliki satu titik awal. Namun tidak begitu, menurut seorang pendukung teori multiregional Afrika. Mereka berargumen bahwa Homo sapiens berasal dari hominid tua yang sudah menyebar ke seluruh Afrika, dan telah terbagi ke dalam populasi-populasi terisolir.

Kami berevolusi dalam kelompok-kelompok ini, yang terkadang kawin-mawin antar satu sama lain, dan mungkin dengan beberapa hominid kontemporer seperti Homo naledi. Metafor terbaik untuk menggambarkan teori ini bukan pohon, melainkan kepangan sungai – sekelompok aliran air yang merupakan bagian dari satu sistem, tetapi saling terjalin ke dalam dan keluar tiap alirannya.

Sungai-sungai ini akhirnya bergabung dalam satu kanal besar, namun hal ini butuh waktu – ratusan ribu tahun. Dalam sebagian besar sejarah kita, kelompok manapun dari Homo sapiens cuma memiliki sebagian dari ciri khas lengkap yang kita gunakan untuk mendefinisikan diri kita. “Manusia waktu itu terlihat lebih berbeda satu sama lain daripada manusia zaman sekarang. Tetapi dulu ada tren selebar benua yang membentuk manusia modern sekarang.” Memang, orang-orang pertama yang memiliki seluruh ciri mungkin muncul sekitar 40.000 – 100.000 tahun yang lalu.

Perilaku kita juga kemungkinan besar terbentuk dari hasil tambal sulam tersebut. Dalam beberapa juta tahun, hominid membentuk banyak jenis baru kapak batu besar antara milenium satu ke milenium lainnya. Dari periode tersebut, arkeolog sudah menemukan kembali beberapa jenis baru alat batu khusus dan cukup rumit, seperti jarum penusuk dan ujung tombak.

Alat-alat yang disebut berasal dari Zaman Batu Tengah tersebut menunjukkan bahwa jiwa manusia modern juga berkembang pada kurang-lebih waktu yang sama dengan tubuh manusia modern. Mereka menunjukkan bahwa transisi ini terjadi dalam skala kontinen, misalnya alat yang sudah ditemukan di Jebel Irhoud di Moroko, atau Olorgesaillie di Kenya, dan Florisbad di Afrika Selatan, dengan perbedaan-perbedaan regional di tiap situs.

Ada satu masalah potensial dalam cerita multiregionalisme Afrika. Studi genetis tentang populasi Afrika terkini menunjukkan bahwa mereka bercabang dari satu sama lain antara 100.000 – 150.000 tahun lalu – jauh lebih baru dari teori asal mula benua besar yang ditunjukkan oleh tulang-tulang dan alat-alat. Awal yang dalam dan lebar tersebut mungkin benar, “tetapi bukan suatu hal yang sudah diuji secara formal oleh kami para ahli genetis,” kata Brenna Henn dari UC Davis, yang merupakan penulis terbitan ilmiah tersebut. “Kami telah mendiskusikan cara untuk melakukannya, tetapi belum ada tulisan ilmiah yang sudah diterbitkan mengatakan bahwa ada struktur populasi yang mendalam di Afrika.”

Namun, DNA orang Afrika hari ini dibentuk oleh pergolakan populasi yang lebih baru, yang telah merancukan apa yang terjadi 300.000 tahun lalu. Terlebih, studi yang menganalisis DNA modern sangat bergantung pada model populasi ala pohon keluarga dimana suatu keturunan tumbuh dari satu tempat – skenario yang persis dengan teori yang membantah multiregionalisme Afrika. “Dalam sains, kita menggunakan model-model sederhana untuk alasan yang baik, karena biasanya kita tidak punya data cukup untuk membuat model lebih kompleks,” kata Thomas, yang merupakan ahli genetis. “Tetapi ada perbedaan antara menggunakan model sederhana dan percaya kepadanya.”

“Kita baru sampai di titik awal dalam mencari tahu bagaimana memperbaiki teori baru ini,” kata Scerri. “Untuk tahu lebih lanjut tentang apa yang terjadi, kita harus mendapat data dari banyak celah di Afrika. Fosil Homo sapiens paling awal yang kami miliki berasal dari 10% benua Afrika, dan kami mengekstrapolasi 90% sisa benua. Sebagian besar benua tetap tak terjaah. Kita dengan efektif mengatakan bahwa tempat-tempat tak terjamah tersebut tidak perlu dilihat karena kita punya hasil dari 10% yang ada. Bagaimana kita bisa tahu tentang apa yang terjadi sesungguhnya?”

=====

Artikel ini diterjemahkan dari “The New Story of Humanity’s Origins in Africa” yang ditulis oleh Ed Yong dan diterbitkan di theatlantic.com

tanjunglarasati

Tentang Penulis

tanjunglarasati

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.