Esai

Kini Papa Minta Saham Aramco & Freeport

PADA 1939 silam seorang diplomat Jepang, Masayuki Yukoyama diutus Kaisar Hirohito berangkat ke Riyadh, Arab Saudi. Diplomat yang sebelumnya bertugas di Kairo, Mesir, itu mengemban sebuah misi khusus.

Tiba di ibukota Arab Saudi yang terik, Yukoyama segera disambut Sheikh Yusuf Yasin, orang kepercayaan Raja Abdulaziz Al-Saud.

Pertemuan kedua utusan guna membahas kemungkinan Jepang mendapat hak eksplorasi minyak di Arab Saudi. Kandungan minyak yang terdapat di dalam perut wilayah Timur Arab itu dinilai mampu mencukupi setengah kebutuhan minyak dunia masa itu.

Konon, sepanjang bulan-bulan berikutnya perundingan antara Jepang dan Arab Saudi pun nampak akan menemui titik terang. Arab Saudi, kerajaan kaya di Timur Tengah itu melunak dan memberi isyarat akan menyerahkan konsesi pengelolaan minyak mereka kepada negeri matahari terbit.

Jepang nyaris mengeksplorasi tambang yang terletak di di Distrik Al-Ahsa, Arab Saudi timur itu dan mengelola cadangan minyak paling melimpah di dunia. Sebelum akhirnya Perang Dunia II yang dimulai pada September 1939 membuyarkan impian mereka.

Amerika Serikat yang tidak terlibat utuh pada Perang Dunia I, justru turun gelanggang pada Perang Dunia II. Jepang yang terlibat dalam Perang Dunia II sebagai pihak lawan, menerima serangan bertubi-tubi dari militer negara Adidaya itu. Jepang pun harus menelan kenyataan pahit kalah perang, sekaligus melupakan keinginan mereka mendapatkan konsesi minyak terbesar Arab Saudi.

Dan seperti diketahui, konsesi pengelolaan cadangan minyak tersebut akhirnya dimiliki Amerika Serikat dengan mendirikan perusahaan yang kelak bernama Arabian American Oil Company (Aramco).

Awalnya Aramco didirikan oleh Standard Oil of California (kini bernama Chevron) dan diberi nama the California Arabian Standard Oil Company (CASOC). Hingga pada 1980, pemerintah Saudi berhasil membeli seluruh sahamnya dan berganti nama Saudi Aramco.

Serupa dengan cadangan minyak, pengaruh geo politik dan ekonomi di kawasan Timur Tengah memang tak pernah lepas dari hegemoni Amerika Serikat berpuluh-puluh tahun lamanya bahkan hingga sekarang.

Kini, setelah 75 tahun setelah perebutan ladang minyak itu. Perebutan kekayaan Arab Saudi kembali terjadi. Seolah de javu Jepang dan Amerika Serikat kembali berada di dalam arena. Kali ini bukan konsesi minyak, tetapi perebutan pencatatan saham milik Arab Saudi, Aramco, yang akan melakukan  penawaran saham perdana (IPO) tahun 2018.

Berapa harga saham yang ditawarkan oleh perusahaan ini? Tidak ada penjelasan pasti. Namun, jika mengikuti perhitungan yang dilakukan untuk memperkirakan harga saham dunia. Nilai Rp 1.336 triliun diyakini sebanding dengan potensi dari kepemilikan saham perusahaan minyak berlimpah tersebut.

Nilai perusahaan ini memang fantastis, Majalah bisnis Forbes pernah menobatkan Saudi Aramco sebagai perusahaan minyak dan gas terbesar di dunia dengan pendapatan sekitar Rp 13,3 triliun per hari.

Harga penjualan sahamnya pun, berkali-kali lipat dengan penawaran saham perdana milik Alibaba Group dan Facebook. Penjualan kedua saham perusahaan itu berturut-turut masih tercatat sebagai IPO terbesar di dunia namun akan segera dipecahkan Aramco.

Pada 2012 saham Facebook dibanderol ‘hanya’ US$ 5 miliar atau Rp 45 triliun adapun saham milik Alibaba dilepas Rp 333,4 triliun pada 2014.

Nilai IPO Aramco juga berarti separuh APBN milik Indonesia. Estimasi penjualan lima persen sahamnya yakni Rp 1.336 triliun, hanya kalah sedikit dibanding kas belanja pemerintah pusat sebesar Rp 1.366 triliun. Belanja inilah dipakai membayar gaji seluruh pegawai negeri sipil, sebesar Rp 343,3 dan penggunaan dana desa sebesar Rp 766,3 triliun setahun kedepan.

***

Minggu (12/11/2017)  CEO Aramco, Amin H. Nasser mengungkapkan pemilihan listing saham 5 persen Aramco telah mengerucut pada empat lokasi selain Jepang juga Amerika Serikat. “Studinya sedang kami rampungkan. Opsinya antara New York, London, Tokyo, dan Hong Kong,” ujar Nasser seperti dikutip Reuters.

Lantas siapa yang paling terdepan mendatkan konsesi ini? Jepang nampaknya akan menelan pil pahit sekali lagi setelah beberapa bulan lalu Deputi Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammad bin Salman, bertemu Presiden AS Donald Trump di Washington DC. Mohammad menyebut Amerika Serikat sebagai teman sejati. Pertemuan ini dimaknai sebagai lobi tingkat tinggi AS untuk menggagalkan lobi para pemimpin negara lain yang sebelumnya telah bertemu raja Arab Saudi.

Sepertinya Amerika Serikat telah berhasil mengambil hati putra mahkota kerajaan Arab Saudi itu. Anak sulung dari pernikahan ketiga Raja Salman ini tidak hanya akan memegang kendali Arab Saudi tapi seluruh sistem di negara Petro Dollar itu.

Beberapa hal mengonfirmasi ini, Pangeran Mohammad adalah otak dari penangkapan 11 pangeran dan beberapa pebisnis utama Arab Saudi dengan tuduhan korupsi. Serta arsitek Visi Arab Saudi 2030, dan rencana penjualan saham Aramco. Adakah hubungan antara AS dengan kekacauan di Arab Saudi? Hmm, tentu Anda sudah bisa menerka.

Saham Freeport dan Papa yang Sakit Lagi

Selain saham Aramco yang bakal menjual sahamnya di awal tahun 2018. Saham perusahaan milik Amerika Serikat di Indonesia, Freeport juga tengah bersiap-siap melepasnya ke pemerintah Indonesia sebagai syarat mendapatkan ijin usaha. Perundingan pun telah memasuki babak baru.

Jurus Terakhir Setya Novanto

Pada September lalu Kementerian ESDM menyampaikan Freeport telah sepakat menjual sahamnya kepada Indonesia untuk mencukupi 51 persen saham kepemilikan pemerintah sehingga menjadi pengendali perusahaan. Tapi Freeport sekonyong-konyong membantah hal ini. Freeport beralasan Indonesia belum menyepakati keinginan mereka untuk menjual sahamnya berdasarkan cadangan yang ada di tambang tersebut.

Jika melihat dari laporan keuangannya, sesuai keinginan Freeport, maka harga yang harus dibayar Indonesia untuk membeli saham perusahaan tersebut sebesar US$ 15,9 miliar, atau setara Rp 134 triliun. Sementara, jika tanpa cadangannya maka Indonesia bisa membeli lebih murah yakni seharga US$ 5,8 miliar atau setara Rp 50 triliun.

Tapi tunggu dulu, perundingan  ini tentu juga akan melibatkan pemerintahan adidaya itu. Perusahaan yang bermarkas di Phoenix, AS ini memiliki kisah serupa dengan Aramco diperebutkan dengan darah dan air mata bernama perang. Amerika Serikat dan tentu presidennya yang ‘gila’ itu punya cara tersendiri agar makan siang gratis mereka tidak lenyap begitu saja.

Jika sejenak melihat ke belakang, kasus Papah Minta Saham serupa dengan kondisi saat ini. Freeport juga sedang dalam keadaan terdesak karena terancam tidak bisa melanjutkan ijinnya di Indonesia setelah Januari 2018.

Kasus Papa Minta Saham 2015 lalu mampu menutupi proses negosiasi kontrak hingga akhirnya Freeport diberi ijin melakukan ekspor. Dan seperti kita ketahui Papa pun berhasil terlepas dari Mahkamah Kehormatan Dewan serta pencatutan nama Presiden Jokowi.

Saya beranggapan, kisah Papa Hilang serta Papa Sakit Lagi sengaja dibuat untuk menutupi negosiasi penjualan saham Freeport kepada Indonesia, mungkin saja pemerintah akan membeli lebih mahal saham Freeport dari harga pasar dunia saat ini. Apalagi Freeport tidaklah sekaya dulu dan tak memiliki potensi sefantastis Aramco.

Mengingat tenggat negosiasi kontrak perusahaan itu sebentar lagi selesai mungkin kita akan kembali ‘amnesia’ seperti pada 10 Oktober lalu, ketika negosiasi antara pemerintah Indonesia dan PT Freeport mentok. Alhasil, Kementerian ESDM memperpanjang status izin usaha pertambangan khusus (IUPK) Freeport hingga tiga bulan ke depan yang berarti Freeport kembali bisa melakukan ekspor hingga 10 Januari 2018.

Padahal dalam kontrak sebelumnya, status ijin diberikan kepada Freeport pada 10 Februari hanya hingga 10 Oktober 2017. Tenggat itu sekaligus menjadi batas akhir negosiasi dengan pemerintah Indonesia. Namun, mengapa ijin ekspor Freeport kembali keluar? Bukan hanya saya yang bingung tapi harusnya Anda masyarakat Indonesia. Ada apa dengan pemerintah kita?

Patut waspada, Amerika Serikat tentu akan menggunakan segala macam cara agar Freeport bisa terus bercokol di Indonesia. Jika lobi tingkat tinggi gagal, maka salah satu cara ialah menggerakkan orang-orangnya di Indonesia. Mungkin saja isu tentang Papa salah satu bidak yang tengah dimainkan Paman Sam.

Apakah kali Ini ‘sang Belut’ akan memainkan perannya terhadap perundingan tersebut. Mari kita tunggu hingga tenggat perundingan 10 Januari 2018.

Semoga tidak ada guncangan hebat, serupa perang yang membuat Jepang harus kehilangan hak konsesi minyaknya di Arab Saudi 73 tahun lalu. Apalagi jika Papa ternyata benar berpihak di ‘seberang’ sana. Mungkinkan Papa juga sudah meminta saham Aramco?

Aco Pamatte

Aco Pamatte

Penyintas yang menyukai kecap dan literasi.

Previous post

Taruna Ikrar Menjawab Tuduhan Kebohongan Publik

Next post

Mengenal Tafsir Qur’an Unik: Lintas Mazhab Sunni dan Syiah