Locita

Kiarasari: Petani Milenial dan Petani Masa Lalu

ilustrasi (foto: https://teguhalkhawarizmi.files.wordpress.com)

KAMIS, 4 Januari 2018, berjalan lambat. Lumbung ingatan tidak merampungkan alasan pemberangkatan ke desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Bogor. Pikiran berusaha meminang ide-ide yang tenggelam dari rutinitas yang saru, tesis yang jenuh, dan akhir tugas semester yang mengapung.

Sungguh, ini perjalanan yang lanjut. Lamat-lamat kecamuk batin tenggelam dalam hamparan sawah terasering di sela payudara pegunungan dan lereng bukit.

Aku menghujat pikiran yang brengsek ini, berpura-pura jadi orang kota. Betapa tidak, aku melihat diriku bukan anak petani, bermukim di tengah stepa kekayaan kota, berpakaian najis, dan sepatu pantofel.

Aku melihat sisi hidupku dua puluh tahun yang lalu di sepanjang jalan desa Kiarasari. Kini, tujuh tahun sudah meninggalkan debu-debu pedesaan, aroma lumpur, topi caping, dan sebilah parang di punggung. Impresi ini mengembalikan aku masa kanak-kanak: menjamah sawah, memanen padi, membahu hasil panen, dan menangkap jangkrik di pematang sawah. Petani, desa, adalah tampung kenangan yang bajingan, membangunkan aku dari tidur panjang. Hidup di desa itu menyenangkan, mengharukan, dan eksotis di mata orang kota.  Rasanya ingin pulang.

Paradoks Eksistensi

Aku adalah satu dari sekian banyak pemuda yang ingkar dari rahimnya, petani dan desa. Dua tahun lalu, bapak memberikan pilihan jalan hidup, bertani atau bersekolah. Bertani, kamu melanjutkan rintisan usaha keluarga dan menambah luas tanah. Jika kamu bersekolah, kamu akan rampungkan hidupmu, mengejar keinginanmu sendiri, dan meninggalkan kami. Pilihan itu, jatuh pada bersekolah.

Bersekolah adalah pilihan eksistensial atas gengsi, harkat, dan martabat di mata orang-orang bertani. Pandangan ini keliru. Kita menempatkan posisi bertani pada profesi kelas bawah dan tidak punya masa depan, ini salah.

Justru, keberlangsungan hidup manusia dari kelihaian tangan-tangan petani, pakaian lusuh, dan tatapan mata bahagia mereka. Walau suatu saat nanti, tenaga-tenaga mereka tergantikan dengan kecerdasan artifisial.

Pada akhirnya mereka kehilangan masa depan serupa, sekolah menyerabut anak-anak petani dari rahimnya. Anak-anak sekolah bergantung pada welas asih negara: jadi PNS, TNI, polisi, dan karyawan. Profesi-profesi itu lebih menjanjikan.

Pemuda-pemuda desa berbondong-bondong meninggalkan desa dan ogah jadi petani. Masih lekat diingatan kita, bertani profesi kelas bawah dan kurang menguntungkan. Mentalitas ini adalah dosa warisan kolonial. Pejabat dan pegawai adalah pekerjaan orang kulit putih dan kaum bangsawan.

Terhormat ketika seseorang berpangkat. Maka orang tua kita menginginkan anak-anaknya berpangkat meniru orang kulit putih. Mental ini dipelihara oleh orde baru dan tertanam hingga kini. Para orang tua pun melepaskan anak-anaknya dari tanah mengejar kehormatan.

Imbasnya, petani kehilangan sumber-sumber produksi, tanah dan pemuda. Tanah beralih fungsi lahan menjadi lahan mukim, terjual ke tangan investor dan unsur haranya kian ranggas.

Sisanya, kemiskinan. Di tahun 2016, di dominasi petani, 13,96 % kemiskinan bercokol di pedesaan. Tanah yang mereka kuasai tidak lebih 0,5 hektar. Usia petani kita antara 40 sampai 60 tahun. Lalu, kita menempatkan petani sebagai ujung tombak masa depan. Ini tidak adil.

Generasi petani, aku yang muda yang tidak bertani. Generasi ini, adalah generasi milenial yang berpikir maju, cepat, inovatif, santai, dan berpendidikan. Pertanian dipikirkan sebagai serba teknologi dan muda serupa pekerjaan kantoran.

Generasi ini mengandalkan startup memasarkan dan mendistribusikan hasil-hasil pertanian. Corak dan cara bertani dikemas dalam bundel aplikasi: cara berbudi daya cabe, tomat, pisang, pala, dan padi. Mereka tidak sedang berbudi daya. Petani milenial petani tanpa wangi lumpur, debu jalan, sepat keringat. Bermimpi. Petani sudah seharusnya beraroma tanah, bukan parfum.

Kiarasari Mengurai Mimpi

Langkah-langkah progresif desa dapat dipotret dari Kiarasari dalam menyelesaikan paradoks eksistensi desa dan pertanian Indonesia. Kepala Desa Kiarasari menyadari perubahan yang berlangsung cepat dan beban masa depan rakyatnya. Ia mengurai perkembangan pengetahuan dan teknologi.

Ia juga mencacah persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakatnya dalam motto, “Desa Kiarasari Manis”. Manis berarti Mandiri, Agamis, New System, Inovatif, dan Sehat dan Sejahtera. Motto ini bukan berarti menyerabut petani dari akarnya. Pemerintah desa menguatkan akar petani.

Penghayatan terhadap moto juang ini, Kepala Desa Kiarasari selalu menyampaikan,“Aku ingin membangun desa sebagaimana desa yang rindang nan subur.”

Ungkapan ini dapat disaksikan dari hamparan sawah di lereng dan sela bukit. Mengunjungi Desa Kiarasari, mengunjungi petani masa lalu. Di pintu gerbang desa Kiarasari, kita dapati padi yang telah menjadi pocong bergelayut di atas bambu, melintang di antara dua tiang penyangga.

Pocong-pocong padi yang menyambut adalah ihwal masa lalu yang punah di beberapa desa kita saat ini. Mereka bergolek seksi dan bergairah terhadap tamunya. Pocong ini ingin berkisah, usia boleh uzur, kami tetap terjaga oleh waktu.

Permadani keindahan dan keseksian pocong padi dihasilkan dari dua jemari yang lincah dari petani, ngetem (cara potong padi desa Kiarasari). Jemari itu menyusuri batang-batang padi yang berdiri tegak hampir setinggi bahu petani. Hasil dari ngetem itu, dikumpulkan jadi pocong-pocong padi yang beratnya kurang lebih tujuh kilo per pocong. Setelah itu, dipikul bawa pulang ke rumah dan dijejer di atas bambu yang melintang.

Pocong-pocong itu dibiarkan kehujanan dan kepanasan. Pasca itu, pocong yang kering di simpang di dalam lumbung. Pengakuan petani juga bahwa padi yang dibudidayakan adalah warisan dari para pendahulunya. Bibit diayak dan disiapkan sendiri di setiap musim tanam.

Kelangsungan tradisi pembudidayaan padi yang masih minim teknologi modern nan mutakhir itu adalah tiada lain dari keputusan politik. Pemerintah desa memberikan perlindungan dalam menjaga keberlangsungan tradisi petani.

Hidup yang berdiri di atas tradisi bukanlah hal mudah di tengah arus perubahan teknologi yang mutakhir. Apa lagi para petani masih menganut sistem pertanian yang subsisten: aktivitas petani hanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Sementara, kebutuhan pokok keseharian semakin tinggi dan nalar konsumsi makin maju. Cepat, tepat, dan kenyang.

Kondisi ini tantangan bagi pemerintah Desa Kiarasari. Sudah banyak langkah taktis yang dilakukan pemerintah desa termasuk kerja sama dengan perusahaan bibit hortikultura untuk menyangga tanaman komoditas utama, padi dan perkebunan.

Selain itu, Kiarasari bekerja sama dengan beberapa kampus untuk mengeksplorasi permasalahan yang dihadapi masyarakat. Belakangan ini, Kiarasari kerap kali dikunjungi Universitas Mercubuana. Terakhir, dikunjungi Universitas Pancasila.

Langkah monumental Kiarasari adalah  bekerja sama dengan Universitas Pancasila dalam membangun desa, khususnya pengembangan agrowisata. Kedua pihak ini, ingin membangun desa sebagaimana desa yang terintegrasi dengan kemajuan teknologi tanpa mengubah akar dan tradisi masyarakat.

Pengembangan agrowisata diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat lewat partisipasinya dalam menjaga tradisi dan mendidik generasi muda yang bertani. Desa Kiarasari adalah desa yang menyambut era disrupsi.  Jayalah Desa Kiarasari yang Manis dengan spirit Pancasila.

Avatar

sampean Dali

Penyuka bacaan filsafat, sosial, dan budaya.

117 comments

Tentang Penulis

Avatar

sampean Dali

Penyuka bacaan filsafat, sosial, dan budaya.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.