Locita

Ketularan LGBT? Begini Proses yang Sebenarnya

“MENURUT Anda, bagaimana dengan pandangan banyak orang bahwa LGBT itu menular? Benar atau tidak?” kira-kira demikian cecaran Karni Ilyas, saat saya memaparkan pandangan menyangkut LGBT di ILC, Selasa, 22 Desember lalu.

Pertanyaan Karni Ilyas adalah mimpi buruk yang sekarang ini hinggap di benak puluhan juta orang yang kuatir peradaban heteronormatif terkotori oleh keberadaban kelompok LGBT. “Dulu LGBT tidak pernah terdengar, namun sekarang menjamur bak cendawan di musim penghujan. Jika bukan karena penularan, bagaimana menjelaskan hal ini?” kata kawan saya di kampus

Dari interaksi selama 3 tahunan bersama kelompok LGBT di berbagai daerah, saya bisa membangun hipotesis terkait “ketularan LGBT”.

Perlu disadari, tatanan masyarakat kita diatur secara ketat oleh apa yang saya sebut sebagai rezim hetero-cisgender-normatif. Rezim ini menganggap seseorang bisa dikatakan normal jika ia memenuhi kriteria yang diinginkan masyarakat.

Misalnya, masyarakat hanya akan menganggap kenormalan laki-laki sepanjang ia suka lawan-jenis (hetero) dan berprilaku maskulin (cis gender). Kalau ada pria hetero dengan gaya gemulai, ia tidak akan sepenuhnya dianggap “pantas” sebagai lelaki, apalagi jika ia gemulai cum penyuka sesama jenis. Inilah yang oleh masyarakat diimani sebagai normatifitas.

Di sisi lain, dalam keyakinan saya, orientasi seksual –perasaan terdalam yang dimiliki seseorang terkait dengan siapa ia ingin mencurahkan hasrat seksualnya –pilihannya adalah homo, hetero, bisek, aseksual dll. Telah terbentuk sejak masa kanak dan bersifat absolut.

Saya tentu menyadari, meskipun ada pandangan yang menyatakan orientasi seksual merupakan bentukan lingkungan, namun hal ini tidak sepenuhnya tepat. Misalnya, bagaimana kita menjelaskan keberadaan gay yang tumbuh dan dibesarkan dari lingkungan hetero taat?

Justru yang terjadi, lingkungan hetero sangat berambisi mengukuhkan dominasi heteronormatifnya, dengan cara sekuat tenaga menertibkan orientasi seksual di luarnya. Lingkungan seperti ini punya asumsi miring (prejudice); non-hetero adalah jahat dan demonik. Padahal, lingkungan yang sehat seharusnya mendorong seseorang bisa menjadi dirinya sendiri secara optimal dan bermartabat.

Jika lingkungannya sejak awal sudah menstigma, seandainya ada anak yang diberkati Tuhan dengan orientasi seksual dan atau ekspresi gender berbeda dengan kebanyakan orang, maka secara naluriah ia akan menekannya atau, yang lebih parah, dipaksa menekannya.

Dalam situasi tertekan seperti ini, kerapkali ia akan berusaha berproses menjadi ‘normal’, dengan cara mencoba menyukai lawan jenis, atau berekspresi sebagaimana tuntutan lingkungan, dimana laki-laki yang gemulai akan berusaha tampil tegas di banyak kesempatan, meskipun tidak jarang ia lelah karena hal itu bukan dirinya.

Seorang gay yang mencoba “menyesuaikan diri”, misalnya dengan membangun relasi heteroseksual akan membuat publik senang dan menganggapnya sebagai seorang hetero. Semakin sering ia mencoba membangun relasi hetero, dan diketahui publik, maka ia semakin terkukuhkan sebagai hetero dalam nalar publik, padahal sesungguhnya tidak demikian. Ia terpaksa menyesuaikan diri agar masyarakat bisa menerimanya, lebih-lebih kedua orang tua dan keluarga batihnya.

Sembari berproses –baik karena alasan menyenangkan keluarga, publik maupun alasan lain– ia secara instingtif akan berusaha menemukan orang-orang yang punya kesamaan identitas. Adalah hal yang lazim jika seseorang akan berkumpul karena kesamaan identitas.

Analogi sederhananya begini, jika ada satu keluarga Syiah hidup di lingkungan Sunni-ortodoks yang tidak bisa menerima kehadiran Syiah, maka bersikap taqiyyah (penyangkalan karena alasan keamanan) merupakan langkah yang bisa dipahami, sampai lingkungan tersebut bisa menerima keberadaannya.

Seandainya ada satu lagi keluarga Syiah yang juga hidup di sana, maka secara alami mereka akan lebih akrab. Dalam prosesnya, kedua keluarga tadi akan saling menguatkan, termasuk kemungkinan besar melaksanakan ritual-ritual Syiah yang dianggap tidak lazim dalam kacamata Sunni, meskipun secara sembunyi-sembunyi.

Bayangkan, kalau ada banyak keluarga Syiah yang awalnya taqiyyah — karena merasa tidak aman dan sendirian– lalu mengetahui ada kelompok kecil. Mereka akan membesar dan menciptakan ikatan yang semakin kuat.

Situasi yang hampir sama terjadi pada kelompok LGBTI.

Satu per satu orang yang merasa dirinya tidak bisa diwadahi oleh payung besar hetero-cis-gender akan bergerak menemukan individu yang beridentitas sama. Saling menguatkan dan merasa senasib sepenanggungan.

Mereka juga berfungsi sebagai lingkungan baru, tempat berproses tanpa tendensi menghakimi. Contoh lingkungan yang paling mudah dirujuk adalah institusi para mutan yang didirikan Charles Francis Xavier, karakter fiksi dalam film X-Men.

Dalam pandangan para orang tua maupun masyarakat yang tidak cukup punya pengetahuan tentang gender dan seksualitas, perubahan individu beridentitas LGBTI yang awalnya patuh berproses menjadi sesuai keinginan publik, dan selanjutnya mulai berani mengekspresikan dirinya sendiri karena telah mendapat penguatan komunitas, dianggap sebagai ketularan. Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah proses menjadi dirinya seutuhnya, yakni melawan perkosaan identitas gender dan orientasi seksual yang dilakukan lingkungan yang hetero-cisgender-normatif.

Saya meyakini orientasi seksual itu tidak bisa ditularkan. Ia bersifat kodrati, sebagaimana Allah pernah menyebutkan sosok pria tanpa hasrat seksual kepada wanita dalam QS. 24:31.

Namun demikian, jika ada pihak yang, katakanlah, bersikukuh meyakini dirinya “sembuh” dari LGBT maka terdapat dua kemungkinan; ia sebenarnya hetero yang dipaksa atau berpura-pura menjadi homo, atau ia tengah mengingkari dirinya sendiri demi menyenangkan kelompok mayoritas.

Sebagai masyarat yang terus berjuang membangun peradaban yang lebih mulia, apapun pilihannya atas dua kemungkinan tersebut layak kita apresiasi dan hormati. Tidak perlu diglorifikasi demi mempersekusi kelompok lain. Sebab, penghormatan atas kejujuran serta otonomi ketubuhan adalah manifestasi tertinggi sebuah peradaban.

Peradaban seperti ini bercirikan absennya pemaksaan terhadap warganya agar menjadi yang bukan dirinya. Dalam konteks Indonesia, saya tidak melihat kelompok LGBT berusaha memaksa orang lain agar seperti mereka. Sebaliknya, yang tampak benderang justru hetero-cisgender yang berusaha ditularkan dengan menggunakan pedang agama dan jeruji penjara. Wallohu a’lam.

Aan Anshori

Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), tengah nyantri di S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, twitter @aananshori

Add comment

Tentang Penulis

Aan Anshori

Kordinator Jaringan Islam Antidiskriminasi (JIAD), tengah nyantri di S2 Hukum Keluarga Islam Univ. Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang, twitter @aananshori

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.