Esai

Ketika Putin Akhirnya Beretorika

PRESIDEN Rusia Vladimir Vladimirovich Putin, merupakan sosok fenomenal dalam jagat politik dan keamanan internasional. Berlatar belakang seorang agen dari badan intelijen yang paling terkenal di dunia yakni KGB, ia selalu tampil kalem, kaku, dan tidak banyak bicara.

Putin jauh dari hiruk pikuk media dan retorika politik. Ia digambarkan sebagai kelanjutan dari sosok-sosok pemimpin Uni Soviet dan Soviet itu sendiri, sebagaimana pandangan Churchill tentang Uni Soviet: Sebuah teka-teki yang terkurung di balik sebuah misteri.

Saragih (2018) menyebut bahwa Putin dijuluki sebagai sang misterius, sedikit bicara tetapi tegas. Ia berjalan dengan pola pikir yang tajam, cerdas, cermat, dan penuh perhitungan.

Sejak terpilih menjadi Presiden Federasi Rusia di penghujung tahun 2000, Putin telah membawa Rusia kembali menjadi negara kuat dan sejajar dengan mitra-mitra utamanya di panggung internasional.

Rakyat Rusia telah menganggap Putin sejajar dengan tokoh-tokoh klasik Rusia sekelas Peter Agung dan Katerina Agung. Bagaimana tidak, Rusia pasca Uni Soviet hampir menjadi negara gagal dan bahkan menuju keruntuhan.

Simon Saragih (2008) dalam bukunya Bangkitnya Rusia menggambarkan Rusia di era Presiden Yeltsin sebagai puncak dari kemunduran Rusia. Praktek korupsi, pengangguran, inflasi, kemiskinan, dan bahkan disintegrasi. Bagaimana sebuah militer negara adidaya bisa dikalahkan oleh kelompok separatis dalam Perang Chechnya I.

Di tangan Putin, seluruh persoalan sosial, ekonomi, politik, dan militer warisan Yeltsin dapat diatasi dengan baik dalam periode pertama pemerintahan, dan selanjutnya mengarahkan fokus Rusia, ke arena yang lebih luas dan besar, yakni pangung internasional.

Putin mulai tampil memukau di hadapan publik dan jurnalis internasional ketika beberapa persoalan hubungan internasional yang berkaitan dengan kepentingan Rusia mencapai level berbahaya. Salah satunya menyangkut pergolakan politik di Suriah yang telah merembet ke perang saudara.

Kegagalan diplomasi internasional untuk mencari solusi atas pergolakan Suriah, menyebabkan intervensi dari beberapa negara kawasan teluk seperti Arab Saudi, Qatar, dan Turki. Rencana intervensi negara-negara di kawasan tersebut semakin kompleks ketika AS dan NATO berniat terlibat dengan sekutu negara arab teluk dalam upaya menjatuhkan pemerintahan Bashar Al Assad.

Sinyal intervensi AS dan NATO atas Suriah dipenghujung tahun 2013 akhirnya harus ditinjau ulang oleh Pentagon, ketika Presiden Putin dengan tegas menyampaikan pernyataan terbuka di akhir pertemuan para pemimpin G-20 di Saint Petersburg, “Pesan kami jelas, jika Anda menyerang sekutu kami (Suriah), maka kami akan datang.”

Retorika Putin tersebut, ujung dari diplomasi lunak hingga diplomasi kapal perang (Gun Boat Diplomacy), mengingat di penghujung persiapan intervensi militer ke Suriah, Laut Mediterania dipenuhi oleh kapal-kapal perang AS, NATO, dan Rusia. Putin akhirnya mengakhiri eskalasi di Suriah dengan retorika singkat di atas.

Rusia pantas sewot karena memiliki satu-satunya pangkalan militer yang masih bertahan di dunia pasca runtuhnya Soviet di Tartus, Suriah. Pangkalan militer ini menjadi penting di tengah puluhan pangkalan dan situs militer AS dan NATO di kawasan teluk.

Selain itu, pertaruhan Suriah bukan lagi sekedar pertaruhan politik, namun menjadi pertaruhan kredibilitas Rusia di hadapan sekutu-sekutunya. Rusia akan menjadi bahan tertawaan negara lain, manakala tidak bereaksi ketika sekutu strategisnya diserang oleh negara lain.

Rusia telah memasang harga tinggi untuk sikap politik Putin di atas dengan mengerahkan tentara dan mesin-mesin perangnya di akhir tahun 2015 di palagan Suriah, yang akhirnya membalikkan situasi perang Suriah.

Kini Presiden Suriah Bashar Al Assad, mulai memerintah dengan tenang dan nyaman setelah banyak wilayah yang telah direbut kembali dari tangan ISIS dan FSA dengan bantuan militer Rusia.

Beberapa pemimpin dunia pada akhirnya harus berpikir ulang menghadapi sikap dan retorika Putin. Salah satu korban retorika Putin adalah Pemimpin Turki Recep Toyyib Erdogan. Kepercayaan diri Erdogan di Palagan Suriah karena dukungan AS dan NATO berakhir anti klimaks.

Penembakan jet tempur Rusia oleh militer Turki ditanggapi keras oleh Putin. Pada akhir tahun 2015, Putin mengundang 1.400 wartawan dunia di Moskow dan menyampaikan pesan keras kepada Turki, “Mereka (Pemerintah Turki) berpikir bahwa kita akan mengubah ekor dan lari. Tidak! Rusia bukan negara seperti itu. Dulu tidak ada sistem pertahanan udara Rusia di sana, sekarang ada S-400. Jika sebelumnya, Turki telah terus-menerus melanggar wilayah udara Suriah, biarkan mereka mencobanya sekarang.”

Kini, Presiden Erdogan telah membelakangi AS dan NATO, dan malah bergabung dengan Rusia dan Iran sebagai kelompok Tripartit untuk menyelesaikan solusi atas Suriah.

Pada tahun 2014 ketika friksi politik dan militer semakin meninggi di Ukraina menyangkut Krimea dan beberapa wilayah di Ukraina Timur yang tengah bergolak memisahkan diri dari Kiev, Presiden Putin mengangkat retorika perang yang cukup keras.

Putin sebagaimana dikutip oleh media Rusia menantang AS dan NATO yang tengah melakukan Latihan Militer di Laut Hitam dengan taklimat, “Pesan kami juga jelas kepada kalian, jauhkan moncong senjata kalian dari halaman kami. Sejujurnya, kalau terpaksa, kami bisa ratakan Eropa jika kondisi tidak terkendali.”

Retorika-retorika politik yang disampaikan Presiden Putin dalam berbagai kesempatan sepertinya menampakkan wajah sebenarnya dari diplomasi-diplomasi tingkat tinggi yang dilakukan oleh pihak Rusia dan mitranya dari AS dan NATO terkait berbagai isu keamanan global, utamanya menyangkut persoalan Krimea dan Ukaina Timur.

Mantan perwira KGB untuk gugus tugas luar negeri tersebut, sepertinya ingin memberikan dukungan moral kepada para diplomatnya agar tetap tegar dengan posisi politik yang tengah dimainkan di Ukraina. Juga ingin menyampaikan pesan nasionalisme kepada rakyatnya bahwa Rusia siap dengan kondisi apapun dari pilihan politik yang diambil.

Pada kesempatan kunjungannya ke kegiatan Kemah Pemuda di Danau Seliger pinggiran Moskow, Putin kembali menyampaikan retorika politik yang sangat keras.

Dalam sambutannya di hadapan para pemuda, ia menegaskan, “Para mitra Rusia harus paham bahwa sebaiknya tidak mencari gara-gara dengan kami, dan untungnya, tak satu pun berpikir untuk memancing konflik skala besar dengan Rusia. Saya ingin mengingatkan kalian bahwa Rusia adalah salah satu kekuatan nuklir terbesar.”

Tentu ucapan di atas bukan sekedar gertak dan basa-basi diplomasi. Putin dengan jujur mengakui hal tersebuat dalam sebuah wawancara tahun 2015 dengan stasiun televisi Rossija 1 yang dikemas dalam film dokumenter berjudul Krimea: Rute Menuju Tanah Air

Putin berkata bahwa, “Kami siap meningkatkan status siaga nuklir Rusia ke tingkat tertinggi. Tapi saya yakin situasinya tidak akan sejauh itu.”

Kini, retorika awal tahun 2018 yang disampaikan oleh Presiden Vladimir Putin, dalam pidato tahunannya di hadapan Majelis Federal Rusia, makin memberi kepastian keamanan dan aliansi strategisnya dengan berbagai sekutu ekonomi dan militernya di berbagai belahan dunia.

Menanggapi berbagai persoalan keamanan dan geopolitik global, terutama hubungannya dengan AS dan NATO yang semakin rumit, dan kompleks dalam beberapa persoalan strategis seperti isu perisai rudal AS dan NATO dan perluasan NATO di eropa timur, Putin memantapkan posisi Rusia di panggung diplomasi internasional.

Putin berucap Rusia akan membalas dengan serangan nuklir, jika sekutunya diserang dengan senjata nuklir. Serangan terhadap sekutu-sekutunya, akan dianggap dan disamakan sebagai serangan terhadap Rusia sendiri.

Putin memperkuat retorika politiknya dengan menampilkan dua teknologi nuklir teranyar yang berhasil dikembangkan oleh ilmuwan Rusia, yakni rudal nuklir yang dapat menjangkau tempat manapun di dunia, dan tidak dapat diatasi oleh sistem pencegat apapun.

AS dan NATO yang menjadi sasaran dari retorika-retorika politik Putin sepertinya harus menata ulang skema-skema diplomasinya dengan Rusia, karena sosok yang dihadapi oleh mereka bukan seorang tukang gertak, sebagaimana disampaikan langsung oleh Putin, “Mereka harus memperhitungkan kenyataan yang baru ini dan paham betul bahwa ini bukan gertakan”.

Apakah retorika-retorika politik Presiden Putin tidak lazim dalam diplomasi internasional? Bisa jadi iya, sebab diplomasi biasanya dilakukan secara halus dan tertutup meskipun kadang berlangsung alot dan keras.

Bahkan, menanggapi retorika Putin di awal tahun 2018 di hadapan Majelis Federal, Kementerian Luar Negeri AS menyampaikan keberatan dan menyebut retorika semacam itu tidak layak disampaikan oleh seorang pemimpin dunia.

Tapi, inilah Vladimir Putin sang presiden yang misterius, kaku dan tertutup. Ia mungkin harus tampil dan berbicara manakala bidak-bidak caturnya di papan diplomasi tidak dihiraukan oleh para mitra.

Putin juga mungkin pembaca karya-karya klasik militer dari Sun Tzu hingga Otto von Bismarck. Perdamaian kadang harus ditegakan dengan kekerasan, sebagaimana pepatah latin: Sivis Pacem, Para Belum, yang bermakna jika ingin perdamaian, bersiaplah menghadapi perang.

Dan ketika Putin mulai bicara, itu tandanya langkah terakhir  dari ujung diplomasi yang gagal harus ditegakkan, yakni perang.

Inilah potsulat diplomasi keras yang disampaikan oleh seorang filosof Jerman Clausewitz, bahwa perang merupakan kelanjutan dari diplomasi dengan cara lain. Semoga perang kata antara Putin dan mitranya seperti Trump tidak berakhir di ujung diplomasi.

Ahmad Mony

Ahmad Mony

Baca, Diskusi, Tulis

Previous post

Bahkan Demokrat Juga Merapat ke Jokowi

ilustrasi sekularisme
Next post

Sekularisme Tidak Perlu Dikenang