Locita

Ketika Orang Tua Lebih Galak dari Guru

Mother scolding her daughter (9-10)

Covid-19 membuat orang tua harus menjadi guru selama belajar dari rumah. Orang tua bisa menjadi lebih galak dari guru killer.

Sudah sebulan lebih pembelajaran anak sekolah (terpaksa) dipindahkan ke rumah. Keadaaan pandemi corona tidak memungkinkan belajar seperti biasanya. Konsekuensinya adalah guru harus membiasakan diri dengan teknologi dan orang tua harus menjadi guru yang lain di rumahnya. Ia harus membimbing anaknya.

Belum juga beberapa hari, sudah banyak orang tua mengeluh. Beberapa di antaranya mengeluhkan ke KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia), yang juga kadang-kadang bikin kontroversi itu. KPAI menerima dan meminta para guru untuk tidak membebani siswanya.

Saya setuju. Siswa tidak perlu dibebani dengan setumpuk tugas, apalagi jika tugasnya membosankan. Mereka tidak otomatis menjadi bodoh hanya karena tidak belajar efektif selama dua minggu, atau pun jika pembelajaran di rumah dilanjutkan sampai semester berakhir. Mereka juga tidak praktis menjadi jenius dengan beban tugas selama beberapa minggu. Maka keluhan ini menjadi penting untuk didengarkan para guru. Ini satu hal dan saya tidak akan membincangkannya secara lebar di tulisan yang terbatas ini.

Satu hal yang lain adalah apakah orang tua benar-benar sudah membantu anaknya sebelum ikut-ikutan mengeluhkan (dan melaporkan). Apakah kedepresian melihat tugas-tugas anak bisa menjadi bahan evaluasi dan reflektif orang tua untuk lebih menghargai anaknya sendiri dan di saat yang bersamaan menghormati pekerjaan para guru.

Guru adalah pekerjaan yang mulia dan dihormati. Itu dulu. Citra ini menurun beberapa tahun terakhir. Sebab utamanya adalah semakin banyak orang tua yang begitu mudah melaporkan, menghakimi, menghina dan pada beberapa kasus, menganiaya guru. Beberapa melakukannya sembari menghujat, masa seorang guru tidak bisa menangani seorang anak. Masa seorang yang harusnya menjadi panutan tidak dapat menahan emosinya sendiri. Masa begitu saja gurunya sampai harus mencubit, itupun sekadar cubitan kecil.

Saya menaruh hormat kepada guru, guru-guru SMA, SMP dan terutama guru SD. Saya tidak tahu dari manakah kesabaran yang mereka miliki. Dan terlebih lagi pada guru-guru honorer yang tidak seberapa gajinya itu namun tetap berdedikasi dengan pekerjaannya.

Saya pernah mencoba menjadi guru SD ketika sedang ber-KKN (Kuliah Kerja Nyata). Pada beberapa saat saya bisa mengendalikan dan sangat menikmati momen-momen berdialog dengan anak kecil. Menatap matanya yang bening, mencium rambutnya yang bau apek. Mereka yang datang berlarian mencium punggung tanganmu saat melihatmu. Atau melihatnya berjalan sampai punggungnya menghilang dan berdoa dalam hati agar kelak ia menjadi orang yang sukses. Kadang-kadang saya merasa emosional membayangkan diri saya yang kecil dahulu berjalan sendiri karena harus merantau. Saya merasa sangat tersentuh ketika guru saya menepuk punggung saya.

Meski begitu kenangan itu tidak selalu membantu saya, saya kadang merasa lelah sekali mengingatkan mereka yang super ribut dan suka mengganggu satu sama lain. Saya belum menghitung jika ada siswa yang kurang ajar minta ampun namun disaat bersamaan Anda juga harus menahan diri mencubitnya meski sudah sangat menjengkelkan.

Saya pernah menjadi guru di dua sekolah swasta terkenal (dan mahal) di Makassar. Saya ingat sekali kata direkturnya.

“Orang tua adalah raja. Bagaimanapun salahnya siswa ta (Anda), Anda tetap yang akan disingkirkan oleh yayasan.”

Di kemudian hari, saya memang menjadi guru, tetapi di kampus. Di kelas yang saya yakini saya bisa lebih berdiskusi dengan mahasiswa. Mereka tidak akan melaporkan ke orangtuanya kalau kalah argumen dan berdebat. Paling tidak, mereka malu dengan usianya sendiri.

Tetapi siswa adalah soal yang lain. Siapa yang bisa menahan diri jika siswa itu sedemikian kurang ajar dan mengeluarkan umpatan. Saya tidak akan menolerir hujatan yang saya rasa melukai harga diri saya. Kalau begini, saya bisa tiap hari berurusan dengan orang tua dan polisi.

Bukan apa-apa. Banyak orang tua yang juga tidak tahu diri. Lupa bahwa anaknya adalah cerminan dirinya sendiri. Mereka yang gagal mendidik anaknya di rumah dan menjadikan sekolah sebagai tempat pelampiasan. Lantas mereka dengan enteng meminta para guru mendidiknya dan lepas tangan hanya karena merasa sudah menyetor uang pembayaran.

Mereka yang selalu menuding gurunya tidak sabar menghadapi anaknya yang luar biasa kurang ajarnya itu. Mereka yang mengira mendidik anak semudah menumbuhkan biji labu di bekas pembakaran pohon di kebun.

Kini, orang tua tahu bahwa mendidik, bahkan mendidik anak sendiri, tidaklah semudah mengumpat dan berteriak. Dan mungkin kini, anaknya tahu bahwa orang tuanya bisa menjadi guru yang lebih galak dari gurunya sendiri.

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Add comment

Tentang Penulis

Arief Balla

Arief Balla

Pengajar tetap di Institut Parahikma Indonesia/Wakil Direktur Lembaga Literasi KNPI Sulawesi Selatan

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.