Locita

Ketika Fadli Zon Bicara Persatuan Islam di Iran

Fadli Zon ketika berpidato di Iran
Fadli Zon ketika berpidato di Iran ( sumber foto: kedaipena.com)

HARI Jumat ini, bertambah berkah bagi umat Islam. Beberapa hari lalu, angin damai datang dari negeri para Mullah. Masyarakat Iran menjadi saksi pidato politisi kawakan Indonesia, Fadli Zon pada Rabu, 16 Januari 2018. Dalam pidatonya di Konferensi Uni Parlemen Negara OKI itu, setidaknya ada dua hal yang disoroti politisi Gerindra ini khususnya persatuan Islam. Perlunya persatuan dari negara-negara Islam, menurutnya penting untuk menghadapi ekskalasi konflik yang menimpa komunitas Muslim seperti yang terjadi di Palestina dan Rohingya. Kedua, Fadli Zon menyoroti masalah kemiskinan yang menurut dia berada di balik isu radikalisme dan terorisme.

Poin mengenai persatuan umat Islam (atau negara Muslim dalam bahasa Fadli Zon) menarik untuk didiskusikan. Sebab isu ini juga mempunyai relevansi penting terhadap kehidupan keagamaan dalam negeri. Apalagi Fadli Zon menyampaikan hal itu di Iran, negara dengan mayoritas pemeluk Islam Syiah. Dan secara kontradiktif, di Indonesia sendiri, Syiah masih kerap menjadi persoalan.

Misalnya saja, konflik Sampang yang masih banyak pengungsinya belum pulang ke kampung halaman. Akhir tahun lalu, kelompok Syiah juga menjadi masalah di Halmahera. Ini belum lagi termasuk ramainya penolakan yang dapat ditemui di dunia maya terhadap kelompok Syiah. Padahal, Kementerian Agama telah memberikan keteladanan dengan mengizinkan Syiah memakai auditoriumnya untuk acara mereka pada awal pemerintahan Jokowi.

Pidato Fadli Zon yang juga dimuatnya di laman Twitter itu bisa dimaknai dalam dua hal. Sebagai politisi, pernyataan yang menyoroti konflik kemanusiaan di berbagai komunitas Muslim dunia adalah amanat konstitusi. Bahwa Indonesia harus turut menjaga perdamaian dunia, dan perjuangan kemerdekaan merupakan hak semua bangsa.

Kemudian, secara pribadi Fadli Zon adalah seorang Muslim. Mengenai hal ini, tentu tidak mudah menelusuri dari mana ia mengambil referensi pidatonya. Sebab itu berkaitan dengan preferensi teologis yang dianutnya. Meski demikian beberapa sumber bisa jadi menginspirasi pidatonya tersebut.

Hal ini cukup beralasan, mengingat Fadli Zon bukanlah yang pertama kali mendengungkan persatuan umat Islam. Presiden Jokowi juga telah menyatakan hal yang sama pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Arab Islam Amerika pertengahan tahun lalu.

Para ulama di seantero dunia telah mengusahakan hal ini dalam terminologi taqrib (pendekatan) antar mazhab. Bentuk konkrit dari hal ini misalnya dapat kita lihat dalam publikasi yang diterbitkan oleh The Royal Aal Al-Bayt Institute For Islamic Thought yang berjudul The Amman Message (Risalah Amman).

Institusi Kerajaan Yordania tersebut memuat beberapa hal penting untuk mengakomodir kepentingan kelompok umat Islam. Contohnya, pada poin pertama dalam publikasi tersebut adalah delapan mazhab Fiqh yang diakui oleh ulama Islam. Empat dari Sunni (Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hanbali), Dua dari Syiah (Zaidiyah dan Ja’fari) dan dua yang lainnya adalah Ibadi dan Zahiri. Dalam publikasi itu juga terdapat larangan untuk mengkafirkan  seorang Muslim.

Para ulama yang menerima kesepakatan ini cukup banyak. Minimal ada 552 orang yang tercatat di dokumen tersebut. Dari Indonesia sendiri ada Prof. Din Syamsuddin, alm. KH Hasyim Muzadi dan almh. Dr. Tutty Alawiyah. Ulama dunia dari kelompok Sunni misalnya terdapat nama Habib Umar bin Hafiz (Yaman) dan Syaikhul Azhar saat ini, Syaikh Ahmad Thayyib (Mesir). Sedangkan dari kelompok Syiah ada Ayatullah Sayyid Ali Sistani (Irak) dan Ayatullah Sayyid Ali Khamenei (Iran).

Secara filosofis-historis Fadli Zon juga mungkin mengambil sumber lain. Contohnya tulisan Alm. Ayatullah Murtadha Muthahhari, salah seorang ulama kenamaan Iran. Dalam bukunya yang diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan judul Imamah dan Khilafah, Muthahhari juga menyampaikan gagasan persatuan umat Islam.

Namun, persatuan yang disampaikanya bukanlah persatuan umat Islam sebagai golongan. Misalnya umat Islam harus bersatu di bawah bendera Sunni ataupun di bawah bendera Syiah. Hal itu tentu saja sulit sekali, mengingat tradisi dan juga pemikiran teologis kedua belah pihak. Ditambah lagi keberagamaan Islam yang diterima hari ini sudah 14 abad lamanya.

Persatuan umat Islam yang digagas Muthahhari adalah persatuan dalam bentuk front. Yakni faksi-faksi umat, bersatu atas nama Islamnya bukan atas nama golongannya. Gagasan ini memang cukup strategis dan mendalam sekaligus mengingatkan umat Islam, betapa pentingnya persatuan itu.

Meski berbeda dalam masalah teologis, antar kelompok umat Islam bisa bekerja gotong royong dalam bidang ekonomi dan kemanusiaan. Pada poin ini bisa dilihat perjumpaan pidato Fadli Zon dengan apa yang telah disampaikan Muthahhari jauh-jauh hari.

Terlepas dari sumber mana yang dipakai, gagasan persatuan umat Islam ini penting juga disemai oleh Fadli Zon dalam negeri sendiri. Sebagai wakil rakyat, dia mesti bekerja sama dengan pemerintah supaya terjadi koeksistensi Sunni dan Syiah dengan baik di Indonesia. Tujuan strategisnya adalah untuk meningkatkan kehidupan bangsa secara konstruktif. Kedua belah pihak bisa bekerja sama dalam memakmurkan bangsa meskipun berbeda preferensi teologis.

Dalam lapangan kehidupan politik, menjadi sangat berjasa bila Fadli Zon bisa meredam narasi yang membenturkan antara umat Islam dengan pemerintah. Sebab faktanya, Presiden dan Wakil Presiden Indonesia beragama Islam. Dengan begitu, apa yang disampaikannya di forum internasional juga menjadi angin segar dalam kehidupan dalam negeri. Umat Islam dapat bersatu dalam membangun NKRI tercinta.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Add comment

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.