Locita

Kesiapan Mental Kita Selepas Pemilu 2019

Seorang politikus yang bertarung dalam pemilu 2019 tentu menyimpan ambisi untuk meraih kemenangan. Sebuah keniscayaan bahwa mereka berharap akan perjuangan yang telah dikorbankan sekiranya dapat terganti dengan hasil memuaskan.

Tapi celakanya, kontes politik di Indonesia bukanlah sesuatu yang mudah ditebak hasilnya. Pemilu 2019 diikuti oleh 7.968 calon legislatif (caleg). Dari jumlah itu, 4.774 merupakan caleg laki – laki, dan 3.194 caleg perempuan.

Ini bukanlah jumlah yang sedikit. Begitu banyak orang yang berdiri mencoba untuk berjuang demi rakyat, meskipun perjuangan itu patut kita curigai bersama.

Sudah bukan rahasia umum lagi, dunia politik di Indonesia secara tidak langsung membuat masyarakatnya untuk tak begitu percaya pada janji politik. Terlebih, begitu banyak para politikus yang datang sekadar berjanji tapi tak pernah atau sulit menepati janji.

Akan tetapi, masyarakat tampak sulit belajar dengan perilaku para politikus yang tak bertanggung jawab.

Pemilu 2019 dilangsungkan secara serentak. Pihak penyelenggara atau dalam hal ini Komisi Pemilihan Umum (KPU) bahkan menyediakan tempat pemungutan suara (TPS) di setiap wilayah pemilih. Terdapat sebanyak 809.500 orang yang menjadi wajib pilih, baik di dalam atau di luar negeri.

Bergantung pada suara wajib pilih, sudah semestinya para politikus memperlihatkan nilai-nilai manusiawinya. Terlebih lagi, jika ada beberapa kelompok yang dengan berani atau tegas menjelaskan bahwa diriya telah mendapatkan suara yang diharapkan. Bukan hanya caleg tapi masyarakat pun penting memahami kondisi setelah pemilu nantinya.

Persaudaraan atau persahabatan kerap kali retak hanya karena urusan pemilu. Barangkali saja kita patut untuk belajar dari film bergenre drama berdurasi 115 menit berjudul Caleg by Accident.

Film ini menceritakan tiga orang yang berteman sejak kecil namun mesti bertikai lantaran menjadi caleg di partai yang berbeda. Akhirnya mereka bertiga kemudian sadar, bahwa politik membuat perasaan yang duu terjaga mesti dirawat dan menyadari jika politik, sejatinya adalah tempat segala siasat.

Kita tentu berharap, pemilu menjadi ruang untuk mendewasakan masyarakat dalam memilih dan menentukan kondisi Indonesia di masa depan. Masyarakat punya peran besar dalam mengubah kondisi yang ada.

Sekiranya, masyarakat tak memberikan suara untuk orang-orang yang terlalu menggebu-gebu untuk berkuasa. Klaim kemenangan hingga sepakat jika menerima kekalahan, pastilah efek dari kecurangan.

Tentu mendengar pendapat itu, kita harus tertawa sekaligus bersedih di waktu yang bersamaan. Hal tersebut menyimpan efek yang berbahaya nantinya.

Pasalnya, pendukung yang terlanjut percaya akan terjadinya kecurangan tentu akan bergerak dan melakukan hal yang tak semestinya. Seperti itulah politikus, kerap kali mereka terjebak dalam keinginan berkuasa yang menggiurkan.

Sebab itulah, politikus memiliki kerentanan untuk mengalami tekanan selepas pemilu. Dalam buku yang berjudul Losing Political Office, Dame Jane Roberts menjelaskan dampak dari politikus yang kehilangan kuasa.

Posisi yang mereka ingin raih telah menjadi identitas penting, di mana ketika hal tersebut hilang atau gagal diraih dalam pemilu, dapat memicu terjadinya tekanan psikis berat dan mengakibatkan gangguan mental.

Apa yang sebelum dan setelahnya pemilu, menjadi pemicu terbesar dari tekanan psikis politikus. Berdiri di ambang ambisi dan kekuasaan bisa saja membuat seorang politikus untuk lupa mempersiapkan diri atas kegagalan atau kekalahan yang dialami nantinya.

Mengingat jumlah dana politik yang dikeluarkan saat kampanye, biaya politikus dapat menjadi salah satu stresor bagi seorang politikus. Biaya politik itu tentu saja bukan hal yang sedikit, mulai dari persiapan baliho hingga survei, belum lagi bila ada partai politik yang menggunakan “politik mahar”, biaya kampanye akbar, pendanaan saksi saat pemungutan suara, dan biaya persiapan atau pengawalan sengketa.

Terlebih jika ada yang menggunakan money politics untuk meraih suara rakyat, dapat dipastikan jumlah dana yang dikeluarkan tentunya berlipat ganda.

Masyarakat tentu saja berperan penting dalam membangun pola itu. Sudah tiba masanya, masyarakat perlu memperlihatkan kekuatan dari gerakan bersama hingga berhasil melakukan perubahan.

Menyadari politik sebagai ruang bersama dalam mencapai kondisi terbaik, penting untuk dipahami. Dalam sebuah esai George Orwell yang berjudul, Politics and the English Language, dia sempat membahas bahwa pada masa sekarang ini, semua menjadi bagian dari politik.

Semua masalah adalah politik. Terlebih lagi Orwell dengan tegas mengatakan jikalau politik merupakan kumpulan kebohongan, usaha menghindar, sebuah kebodohan, kebencian, dan skizofrenia.

Saat Orwell menyebut kata skizofrenia, kita dapat melihat bahwa baik seorang Dame Jane Roberts yang bekerja sebagai psikiater dan George Orwell yang bergelut dalam dunia jurnalistik memiliki keyakinan akan rentannya para politikus mengalami gangguan mental.

Bila dikaji lebih mendalam, Orwell barangkali melihat politik jauh lebih mengerikan dibanding sekadar gangguan mental. Kegilaan seseorang caleg dapat terkuak dari ketidakmampuannya mempersiapkan berbagai kemungkinan dalam pemilu.

Semoga saja, data caleg yang mesti dirawat di Rumah Sakit Jiwa tak bertambah dari pemilu sebelumnya. Bukan hanya caleg yang dapat gila, melainkan para pendukung fanatik perlu mawas diri untuk tetap menjaga kewarasannya, sehingga pemilu 2019 dapat benar-benar menjadi ruang belajar bersama.

Wawan Kurniawan

Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wnkurn

2 comments

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wnkurn

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.