Esai

Kembalikan Media Sosialku yang Dulu

PESATNYA perkembangan media sosial menjadikan hampir seluruh masyarakat di Indonesia memiliki media ini, dari berbagai kalangan dan usia bisa dipastikan menggunakan media sosial sebagai sarana berkomunikasi satu sama lain, dengan media ini pula seseorang bisa menjadi dirinya sendiri dan bisa mengaktualisasikan dirinya.

Adanya media sosial berperan penting mempengaruhi kehidupan sosial dalam masyarakat, hubungan yang jauh bisa dijangkau dimana jarak dan waktu bukan lagi menjadi masalah, setiap orang bisa berinteraksi dan memperluas pergaulan tanpa syarat harus bertatap muka langsung, penyebaran informasi yang berlangsung begitu cepat dengan biaya murah serta menjadi media jualan yang terbukti efektif dan produktif hanya dengan menggunakan ujung jari.

Namun, inti dari segala sarana media sosial adalah pengguna bisa “pamer” segala hal dalam kehidupannya, apalagi dengan tersedianya fitur live streaming di Instragram dan Facebook.

Menurut Antony Mayfield media sosial adalah mengenai menjadi manusia biasa. Manusia biasa yang saling membagi ide, bekerjasama, dan berkolaborasi untuk menciptakan kreasi, berpikir, berdebat, menemukan orang yang bisa menjadi teman baik, menemukan pasangan, dan membangun sebuah komunitas. Media sosial juga punya keunggulan menempatkan segmen pasar penggunanya sendiri melalui Facebook, Twitter, Path, Youtube, Instagram, Kaskus, LINE, Whatsapp.

Siapa dari kita yang tiada hari tanpa membuka media sosial, media ini telah menjadi candu buat penggunanya, hampir seluruh waktu tidak bisa lepas dari smartphone. Ironisnya orang-orang yang terjebak dalam media ini cenderung mengabaikan orang disekitarnya, seperti tidak ada batasan dalam mengunggah hal-hal yang bersifat privasi, dan yang terburuk adalah meningkatnya intensitas ujaran kebencian (hate speech) di dunia maya.

Media sosial ibarat pedang bermata dua, di satu sisi menjadi wadah menuangkan kebebasan berekspresi dan menyampaikan pendapat, namun di sisi lain menjadi tunggangan para kelompok tertentu dengan kepentingannya sendiri untuk melakukan penghasutan, penyebaran kebencian, pembunuhan karakter, dan berita yang mengadu domba. Lewat media sosial pula hal-hal yang sepele ditanggapi dengan perdebatan yang menampakkan ego pribadi sehingga pertemanan yang sesungguhnya di dunia nyata berakhir pertengkaran di dunia maya.

Berita-berita sampah bebas berseliweran, dicomot dan dibagikan tanpa melalui verikasi entah itu benar ataukah tidak, yang jelasnya menjadi bahan cercaan terhadap sekelompok yang berseberangan. Beda pendapat yang seharusnya sah-sah saja serta ditanggapi dengan bijak ditengah alam demokrasi berujung saling bully.

Namun, yang pasti media sosial menjadi alat propaganda banyak kalangan untuk menghujat dan mematikan karakter seseorang, menggiring opini atas nama agama, sehingga mengarah kepada persekusi dan penghakiman tanpa bukti, ini adalah fakta yang terjadi dan banyak sampai berujung di dalam bui.

Lebih lucunya lagi tidak hanya masyarakat awam yang baru melek teknologi media sosial yang termakan berita hoaks, tidak jarang para intelektual pun ikut terseret membagikan informasi bohong yang menjurus fitnah terhadap orang lain. Hoaks menjadi dajjal yang dianggap lebih benar dan sah dibanding para alim ulama yang zuhud dan wara dengan keilmuannya.

Melalui media sosial hoaks dijadikan senjata ampuh oleh para kelompok kepentingan untuk membangun opini dan kebenaran semu di masyarakat. Sementara hoaks sendiri adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar, tetapi dibuat seolah-olah benar, kebenaran yang sesungguhnya disembunyikan, dibuat kabur.

Mereka yang membuat dan menyebarkan berita hoaks biasanya akan melakukan upaya berkali-kali untuk tercapainya tujuan mereka, karena hoaks seakan menjadi kebenaran jika diinformasikan secara terus menerus. Dan Itulah tujuannya, yaitu mengkerdilkan kenyataan dan membesarkan kebohongan untuk diyakini sebagai kebenaran, menjadikan persepsi lebih shahih daripada kenyataan sebenarnya.

Tidak ada yang salah dengan mengemukakan pendapat, negara telah menjamin kemerdekaan berpendapat bagi setiap orang bahkan secara jelas memiliki payung hukum sebagaimana dinyatakan dalam pasal 28 E ayat (3) UUD 1945 : “Setiap orang berhak atas kebebasan berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat”.

Hal ini merupakan jaminan yang penting bagi kedaulatan rakyat. Akan tetapi kebebasan ini tidak boleh dibiarkan menjadi bola liar sehingga melanggar hak-hak individu lain dan berakhir menjadi tindakan anarkis, atas dasar itulah kemudian dibuatlah pembatasan melalui ketentuan hukum yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, meskipun banyak menimbulkan pro kontra sejak pemberlakuannya pada tanggal 28 Nopember 2016.

Banyak hal yang dirindukan dengan media sosial yang dahulu, merasakan kenikmatan menjajali setiap fitur media sosial minim latar propaganda dan kepentingan, dipenuhi dengan potret narsis pengguna, keceriaan menemukan relasi baru dan kawan lama, wadah mengeksplorasi eksistensi pengguna, saling bersosialisasi, mencari jodoh, menyebar informasi yang penuh kebaikan, media pamer yang menyenangkan yang jauh lebih baik dari pada pamer kebencian.

Dan pada akhirnya, bagaimana model dan situasi media sosial adalah tanggung jawab masing-masing pengguna. Kebebasan berekspresi di ruang ini hendaknya dilandasi dengan kesadaran dalam merespon setiap informasi, aktifitas dan berita dengan bijak, agar tidak menjadi generasi milenial yang berkarakter hoaks dan bisa membawa perubahan baik di dunia nyata maupun dunia maya.

Hijriani Hadz

Hijriani Hadz

akademisi hukum, tinggal di Kendari

Previous post

Perang Kanda di Arena Kongres HmI

Next post

Tiga Mitos Sastra yang Harus Dihancurkan