Locita

Kekuasaan dan Aspek Psikologi Pelecehan Seksual

Ilustrasi (Sumber foto: standard.co.uk)

MEREBAKNYA kabar mengenai pelecehan seksual kembali menyita perhatian publik. Hal ini terjadi setelah kasus salah satu Rumah Sakit di Surabaya dimana oknum perawat diduga meraba payudara pasien. Video pelaku mengakui dan meminta maaf kepada pasien pun menjadi viral. Sampai saat ini kasus tersebut masih didalami oleh kepolisian.

BACA JUGA: Menyibak Tabir Kasus Pegang Tetek National Hospital

Sebenarnya kasus pelecehan seksual ini tidak hanya menimpa kaum hawa, namun juga laki-laki, khususnya anak. Sebelum berhembusnya kasus di rumah sakit, video seorang perempuan dewasa berhubungan seks dengan anak laki-laki (anak jalanan) juga sempat menghiasi dunia maya. Kabarnya video tersebut sengaja direkam untuk dijual keluar negeri.

Beberapa tahun lalu Kompas.com merilis hasil penelitian Elly Nurhayati, seorang ahli Psikologi di Yogyakarta. Menurut penelitian tersebut, laki-laki lebih banyak menjadi korban pelecehan seksual daripada perempuan. Tiga puluh persen dari laki-laki Indonesia pernah mengalaminya dan sebanyak 22 persen untuk perempuan.

Banyaknya kasus pelecehan seksual ini membuat orang bertanya, mengapa itu dapat terjadi. Barangkali, jawaban sementara adalah tidak mampunya pelaku untuk mengontrol dorongan seksual pada dirinya.

BACA JUGA: Darurat Pelecehan Seksual, dari Jakarta, Hollywood Hingga Angelina Jolie

Dalam The Cambridge Dictionary of Psychology, David Matsumoto menyampaikan bahwa pelecehan seksual (sexual harassment) merupakan segala perilaku seksual baik verbal maupun nonverbal yang tidak dikehendaki. Artinya, ketika seseorang  tidak menghendaki perilaku seksual dari orang lain mulai dari rayuan, sentuhan hingga seterusnya, sudah masuk kedalam kategori pelecehan.

Beberapa alternatif penjelasan terkait pelecehan seksual didiskusikan oleh Kathleen A. Brennan dalam disertasinya yang berjudul Power Dynamics in The Sexual Harassment of Women by Men. Fokus pembahasannya adalah keterkaitan antara kekuasaan yang dimiliki seseorang dengan pelecehan seksual.

Kekuasaan dapat diperoleh dalam situasi organisasi pekerjaan. Model hierarki dalam organisasi pekerjaan menempatkan banyak laki-laki memegang posisi kunci. Pada gilirannya menyebabkan posisi perempuan berada dibawah mereka dengan keadaan kurangnya finansial dan keamanan. Akibatnya, laki-laki merasa lebih powerful dan sebaliknya perempuan menjadi powerless.

Situasi sedemikian rupa membuat perempuan rentan terhadap eksploitasi seksual yang kapan saja dapat terjadi. Apalagi, dalam kondisi yang mendukung, seperti ruangan kantor yang tertutup dan tanpa pengawasan dari orang lain.

Kasus rumah sakit yang heboh tersebut, kalau terbukti, berakar dari situasi yang sedemikian rupa. Dalam hierarki rumah sakit, pasien berada dalam posisi yang paling bawah. Kondisi pasien perempuan yang sedang sakit dan tidak berdaya, sementara pemeriksaan dilakukan sendirian oleh perawat laki-laki. Sangat mendukung untuk terjadinya pelecehan, meskipun kode etik sudah mengatur sedemikian rupa.

Selain dalam konteks organisasi, situasi sosio kultural juga dapat menyebabkan adanya kekuasaan. Hal ini terjadi khususnya dalam budaya patriarki yang jamak ditemui. Laki-laki mendapatkan posisi setingkat lebih tinggi daripada perempuan sebab budaya yang mendukungnya dalam menempati posisi itu. Legitimasi budaya ini, menghadirkan kekuasaan yang lebih pada laki-laki.

Kondisi budaya ini, menghadirkan persepsi kuasa pada laki-laki. Dengan persepsi tersebut mereka bisa melangkah lebih jauh terhadap perempuan, sebab berada dalam kekuasaan mereka. Pelecehan seksual terjadi akibat relasi kuasa yang tidak seimbang ini. Perempuan yang tersubordinasi sedemikian rupa, berada dalam posisi lemah tidak berdaya.

Penjelasan Kathleen diatas fokus menyoroti pelecehan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Lalu bagaimana bila sebaliknya?

Dalam kasus yang terjadi pada anak laki-laki, menurut saya juga merupakan masalah kekuasaan. Perempuan dewasa mempunyai persepsi kuasa karena pengalaman seksual dan pengetahuannya mengenai si anak. Mereka telah berpengalaman sebab telah berulang kali menjalani sexual intercourse (hubungan seksual).

Sementara si anak, belum pernah mengalami proses tersebut dan bahkan dalam keadaan belum mengetahui seksualitas sama sekali selain urusan jenis kelamin. Situasi anak kecil seperti ini diketahui oleh si perempuan.

BACA JUGA: Embun Kisah Anak Korban Kekerasan Seksual

Kondisi diataslah yang terjadi pada kasus video viral beberapa waktu yang lalu dimana si perempuan melakukan eksploitasi seksual pada anak jalanan. Parahnya lagi, masalah ini juga berjalin kelindan dengan kepentingan pemenuhan kebutuhan pecinta blue film. Motifnya menjadi tidak semata-mata biologis namun juga ekonomis.

Dinamika psikologis diatas mestinya menghadirkan refleksi akan kekuasaan itu sendiri. Artinya ketika kekuasaan berada dalam persepsi individu melalui konteks organisasi, budaya, pengalaman serta pengetahuan sangat potensial untuk menghadirkan pelecehan seksual.

Menggunakan kekuasaan secara lebih bertanggung jawab adalah aspek penting ketika seseorang mempunyai kuasa. Hal ini tentu tidak cukup mengingat potensi terjadinya yang luar biasa. Perlu dihadirkan norma dan penguatan nilai untuk mencegah hal ini terjadi lebih lanjut.

Hal yang paling penting adalah fungsi pengawasan yang harus ada dalam setiap kondisi potensial itu. Pengawasan oleh atasan pada situasi pekerjaan atau pengawasan oleh orang tua dan lingkungan dalam kondisi anak-anak.

Posisi urgennya terletak pada dampak traumatis bagi korban. Bagi perempuan setidaknya ada rasa yang sangat mendalam. Dan hal ini akan berdampak pada kemungkinan perilakunya kemudian hari apabila dia tidak dapat melepaskan diri dari kejadian itu.

Sementara bagi anak kecil, perilaku seksualnya kemudian hari bisa bermasalah. Ada kemungkinan dia akan mengikuti perilaku si pelaku apabila tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Add comment

Tentang Penulis

Muhammad Farid Salman Alfarisi RM

Pengamat Psikologi Sosial dan Penikmat Studi Islam

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.