Locita

Kecerdasan Itu Penting, Tapi Hasrat Belajar Jauh Lebih Penting

DALAM banyak hal, saya sering merasa sangat percaya diri. Bahkan sering kali terlalu percaya diri. Salah satunya untuk hal pendidikan. Saya sadar kalau saya bukan orang di ring satu soal prestasi di akademik. Buktinya, sejak SD hingga SMA, saya hanya dua kali masuk tiga besar. Lainnya, paling pol ya cuman 10 besar. Namun, saya tahu kalau saya seorang pembelajar, dalam artian saya orang yang mau belajar banyak hal.

Menurut saya salah satu hal terpenting bagi manusia itu bukan kecerdasan otak semata, tapi posisi diri yang tidak pernah malu dan tidak pernah mau berhenti untuk terus belajar adalah hal yang lebih utama. Percuma jadi orang yang juara terus tapi dia merasa mencukupkan dirinya dengan ilmu yang sudah dimiliki, tanpa mau meng-upgrade diri lagi.

Sering kali saya menemukan teman-teman yang semasa sekolah selalu jadi bintang kelas, namun selanjutnya label itu luntur secara pelan. Bukan kecerdasan otaknya menurun, tapi lebih karena kepintarannya tidak pernah diisi kembali. Otak bagaikan gelas kosong, bila tidak pernah diisi air, maka akan tetap kosong bahkan habis airnya karena menguap.

Sikap kepedean saya sebagai orang yang mau belajar sering kali tidak masuk akal bagi banyak orang. Saat berkuliah S1 kondisi saya yang sudah memiliki keluarga dan satu batita tidak pernah menurunkan semangat saya untuk belajar. Jika dibandingkan dengan teman-teman yang jelas-jelas secara umur di bawah saya, dan mereka secara tanggungan kehidupan tidak serumit saya saat itu.

Alhamdulillah, saya bisa lulus S1 dalam waktu 3 tahun 7 bulan dengan IP yang menurut standar kemampuan otak saya (bukan otak orang lain) sudah cukup lumayan, yakni 3,5. Ketika lulus S1 saya memiliki mimpi untuk bisa kuliah S2 di luar negeri. Banyak teman yang ketawa mengetahui mimpi itu, karena mereka tahu kalau satu-satunya nilai C dalam transkrip nilai S1 saya adalah Bahasa Inggris. Mana mungkin orang yang memiliki nilai C bisa ke luar negeri?

Lagi-lagi saya percaya diri dan yakin bahwa selama saya belajar dengan benar pasti Allah memberikan jalan. Alhamdulillah saya bisa lanjut S2 di University of Hawaii at Manoa (UHM) di Amerika Serikat.

Saat di UHM, sama seperti di Indonesia, saya termasuk mahasiswa yang tidak excelent, bahkan untuk urusan bahasa bisa dibilang saya pada deretan jongkok. Bayangkan teman-teman saya TOEFL-nya udah mendekati angka 600 bahkan beberapa sudah tembus 600, saya masih sibuk menghafalkan mana kata yang harus pakai “the” dan mana yang pakai “A dan An.” Hahaha. Bahkan paper pertama saya di kelas mendapat nilai “F”. Huwaaaaa hahahaah.

Tapi dengan kondisi bahasa yang amburadul (bahkan sampe sekarang) saya tidak pernah malu untuk bertanya dan berdiskusi di dalam kelas. Pernah suatu saat di kelas yang pertama yang saya ikuti, saya memberanikan untuk bertanya ke dosen dengan bekal bahan bacaan buku yang setengah mati saya coba pahami selama seminggu sebelumnya.

Ketika saya bertanya, dosen saya diam, hingga beberapa menit setelah saya menyelesaikan pertanyaan, dosen saya masih diam. Sumpah saya merasa sangat geer dan berpikir:

“Wuihhh pertanyaan saya cukup sulit sepertinya, sampai dosen saja harus berpikir untuk menjawabnya.” Hahahahahah *norak.

Jarak beberapa menit ahirnya dosen saya buka suara.

“Can someone help me to explain what Ninik just said?” Huwaaaa Tuhannnnn ternyata dosen saya tadi gak pahaaaaaammmm dengan apa yang saya ocehkan karena bahasa saya yang kacau. Sumpah rasanya saat itu pengen bumi menelan saya saja, karena super duper malu.

Apakah setelah itu saya kapok? Ternyata itu menjadi pemicu bagi saya untuk men-challenge diri saya agar bisa lebih maju. Semester-semester berikutnya saya malah memberanikan diri untuk mendaftar menjadi narasumber di beberapa seminar internasional. Syarat untuk menjadi narsum biasanya saya harus mengirimkan abstract paper saya, bila diterima saya harus mengirimkan full paper yang akan dipresentasikan.

Saya pernah menjadi salah satu narasumber seminar di Korea, Boston dan Hawaii. Apakah itu bertanda kemampuan menulis saya sudah bagus? Sama sekali tidak. Buktinya banyak seminar yang saya mendaftar juga ditolak, dan beberapa paper juga harus diobrak-abrik editor. Kalau ada kemajuan tentu iya walaupun tidak sangat pesat. Apakah itu tanda bahwa bahasa Inggris saya sudah perfect? Kalau bahasa Inggris saya ada kemajuan tentu iya, kalau perfect, totally masih jauh.

Salah satu teman saya yang bahasa nasional keduanya adalah bahasa Inggris, pernah bertanya ke saya seperti ini:

“Ninik, kenapa kamu sangat percaya diri berbicara di depan umum, padahal bahasa Inggris kamu ya masih belum sempurna?” Kawan saya ini walaupun memiliki bahasa yang bagus tapi tidak pernah berani berbicara di depan umum apalagi menjadi nara sumber seminar.

Saat itu saya menjawab. “Saya ini statusnya adalah graduate student. Kalau student memiliki kesalahan dalam memberikan materi presentasi, tentu semua orang memaklumi. Ya wajar sajalah namanya juga student masih tahap belajar jadi bila salah itu bisa diterima, toh student memang tahap belajar. Kalau udah professor tentu lain ceritanya, they have to be excelent.

Jadi saya menggunakan excuse ini sebagai senjata. Hahaha. Satu lagi, karena bahasa Inggris bukan bahasa pertama saya dan bisa jadi bahasa kelima saya, jadi bila ada ketidaksempurnaan dalam bahasa, audience akan bisa memaklumi. Prinsipnya, saya tidak mau memenjarakan ide-ide saya hanya karena saya harus menjadi orang perfect, sejauh audience dan reader bisa memahami pesan yang saya sampaikan bagi saya itu cukup.”

Teman asli Amerika juga pernah bertanya apakah saya meminum obat tertentu untuk bisa selalu tampil percaya diri? Karena teman saya ini beberapa kali paper-nya terpilih untuk dipresentasikan tapi finally dia tidak jadi presentasi karena tidak confident.

Jadi intinya, dalam dunia akademisi yang paling utama adalah kepercayaan yang tertanam akan sikap diri untuk tidak pernah berhenti belajar, untuk terus mau membaca dan menulis, bukan pada persoalan KESEMPURNAAN dalam menuangkan atau menyampaikan ide. Bila yang dikejar adalah kesempurnaan, seorang professor saja tidak mesti 100% bisa mencapai titik sempurna.

Saya yakin tidak semua orang memiliki posisi sebagai pembelajar (yang tidak pernah berhenti untuk belajar). Banyak orang yang sudah cukup percaya diri dengan kemampuan yang mereka miliki saat ini tanpa mau meng-upgrade diri.

Nah bila ada anak muda yang memiliki sifat pembelajar tinggi dan dibuktikan dengan semangat membaca dan menulisnya yang bagus, lalu kenapa kita menuntut kesempurnaan dari dia? Padahal kita tahu kalau dia masih dalam tahap belajar dan saya yakin betul dia tidak akan berhenti membaca dan belajar, termasuk belajar dari kesalahan yang dibuat.

Bila kita tidak mampu untuk menjadi pembelajar dan tidak pula sanggup mencapai kesempurnaan, kenapa kita memaksakan orang lain untuk menjadi sempurna?

 

Nihayatul Wafiroh

Nihayatul Wafiroh

Anggota DPR RI dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB). Berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Aktivitas bisa dipantau di http://nihayahcenter.net/

Add comment

Tentang Penulis

Nihayatul Wafiroh

Nihayatul Wafiroh

Anggota DPR RI dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB). Berasal dari Banyuwangi, Jawa Timur. Aktivitas bisa dipantau di http://nihayahcenter.net/