Esai

Kebebasan itu Menyesatkan?

DI era demokrasi, kebebasan dipandang sebagai simbol utuh bagi setiap warga negara. Simbol itu disebut sebagai hak asasi manusia, atau biasanya disingkat sebagai HAM. Namun, mengapa sampai saat ini terjadi masalah walaupun kita sudah mengetahui bahwa kebebasan itu telah menjamin HAM.

Apakah doktrin HAM itu menyesatkan? Apakah kebebasan sudah tak berlaku lagi dan hanya ada persaingan ketat antar manusia atau bahkan perusahaan?

Kebebasan Yang Saling Berbenturan

Kebebasan akan sulit berkembang ketika itu berbenturan dengan kebebasan orang lain. Kita harus memperhatikan kebebasan orang lain jika ingin bebas.

Dalam teori feminisme ini sering menjadi topik pembahasan utama, hak atau tanggung jawab. Jika kita menuntut hak, apakah kita tak mesti bertanggung jawab? Berbeda dengan pemahaman feminisme yang menekankan tanggung jawab.

Jika kita melihat kenyataannya, ideal kebebasan ala feminisme ini sulit untuk diterapkan. Alhasil, banyak kepentingan saling bertabrakan. Misalnya pada saat kita bekerja dalam perusahaan, kita tak tahu apakah atasan kita mengeksploitasi kita yang sebagai pegawai biasa.

Di dunia pendidikan, ini juga sebenarnya menjadi masalah yang sangat besar. Pendidikan di sekolah negeri makin kacau karena selalu saja menekankan HAM khusus ke siswanya semata berbeda dengan gurunya. Sedangkan di sekolah-sekolah swasta, kekacauan ini jarang terlihat. Sebabnya mungkin dapat dilihat dari kinerja swasta, yang selalu melibatkan kepuasan para pelanggan (orang tua peserta didik).

Tidak Humanis

Dasarnya memang ada pada kebebasan, atau HAM, tapi pada saat “prakteknya”, itu menjadi buyar. Pekerjaan humanis merupakan pekerjaan yang memandang sangat tinggi kemanusiaan. Di sinilah alasan mengapa kebebasan itu penting dalam memilih pekerjaan.

Jika semua pekerjaan itu memandang sangat tinggi kemanusiaan, maka tidak ada yang ingin bekerja sebagai buruh, dan pekerjaan yang membutuhkan banyak keringat lainnya. Persoalannya itu tak manusiawi.

Dan ditambah lagi, jika semua pekerjaan diukur manusiawinya atau tidak, maka tidak ada yang mau bekerja susah payah dan tidak ingin dipekerjakan. Ini sudah sangat terlihat jelas ketika kita bekerja di suatu perusahaan, atau bayangkan saja jika kita berada di sepak bola. Pekerjaan sepak bola itu manusiawi karena mengandung semangat nasionalis.

Misalnya kita sebagai penonton akan selalu berbangga diri jika kita bisa jadi pemain, tapi itu berbeda pada saat kita bekerja sebagai pemain. Kita akan bersusah payah mencari tim sepak bola yang kita inginkan dan pada kenyataannya itu berkata lain.

Manusiawi atau tidak itu tergantung kebebasan kita dalam pilihan kita sendiri tapi bukan berarti kita apatis dengan dunia saat ini. Jadi kebebasan tergantung pada pilihan yang kita buat, tapi apakah manusiawi atau tidak itu bukan pertanyaan kebebasan lagi ketika bertabrakan dengan yang real pada kehidupan kita.

Hak Bertubuh dan Hak Bertanah

Ini merupakan topik bermasalah di doktrin kebebasan. Hak bertubuh termasuk hak asasi manusia yang tak memandang hak bertanah. Sedangkan hak bertanah bergantung pada asal muasal kelahiran kita. Hak bertanah akan berlawanan dengan hak bertubuh. Satunya nasionalis dan satunya tidak.

Hak bertubuh akan selalu menyuarakan hak asasi manusia tanpa memandang dari mana asal kita. Sehingga tanah kelahiran kita itu bukan masalah dalam kebebasan. Misalnya saja seorang penemu pulau, katakan saja abang John. Si John ini mengaku bahwa ini adalah pulaunya dan dengan begitu dia mengajak yang lainnya untuk pindah ke pulaunya. Oleh karena itu kita akan mengabaikan hak bertanah yang dimiliki oleh suku-suku pedalaman yang ada di dalam. Yang terjadi adalah peperangan antar orang luar dan dalam. “Wah ini kan hak saya karena saya menemukan pertama kali pulau ini,” ujar si John.

Dari poin-poin pembahasan di atas, pasti dan jelas kesesatannya, tapi apakah rela jika kita tidak bebas?

Dalam teori politik, kebebasan itu perlu. Itu diperlukan agar kita tidak mudah dimanipulasi. Mari kita kaitkan politik “praktis” dan teori manfaat (utility). Manfaatnya merupakan cara bagaimana memanipulasi kebenaran.

Dalam teori utilitas, kita akan diberi suatu kasus, dan metode pendekatannya seperti apa. Contohnya bagaimana cara mengukur berat dari seekor sapi.

Metode pertama, setiap orang bisa berkumpul dan mendiskusikan masalah ini sampai tercapai kesepakatan. Ini disebut sebagai Deliberative Method (metode yang disengaja).

Metode kedua, semua orang melihat sapi secara individu dan kemudian ketika semua orang selesai, mereka mengumpulkan semua tebakan dan membagi jumlah orang. Ini disebut sebagai Additive Method (metode aditif).

Nah, jika kita mengaitkan kebebasan dan utilitas, maka dari contoh di atas yang nampak dalam pemikiran kita adalah truth atau kebenaran. Metode pertama akan tidak efektif dalam mencari kebenaran walaupun kebebasanlah modal utamanya. Metode pertama akan selalu mengandalkan bagaimana orang bisa percaya apa yang kita katakan.

Sedangkan metode kedua, kebebasan ditempatkan untuk individu dan langsung ke tempat objek tersebut (sapi tersebut) dan mencari tahu kebenarannya sendiri dan hasilnya nanti dikumpulkan. Metode pertama sangat sering dipakai di dunia politik, dan sangat jarang memakai metode kedua yang benar-benar mengajak kita mencari kebenaran.

Sardjito Ibnuqoyyim

Sardjito Ibnuqoyyim

Penulis Misantropis

Previous post

Panjang Umur Manusia, Panjang Umur Kertas-Kertas

Next post

Sasmita Cinta dalam Pot Bunga Plastik