Esai

Kartu Kuning dari Mahasiswa UI, UNHAS Kapan Kartu Merahnya?

MAHASISWA UI bergoyang lagi dan diberikan juga “kartu kuning” oleh sebagian warganet. Beberapa waktu lalu Ketua BEM UI membuat heboh dengan memberikan kartu kuning kepada Jokowi. Peristiwa itu terjadi saat kedatangan Pakde ke Dies Natalis Ke-68 UI di Balairung, Depok hari ini, (2/2/2018).

Dengan memakai batik Zaadit Taqwa berdiri dan mengacungkan semacam kertas kuning seukuran kertas A4. Dia berdiri dan Paspampres mengerubunginya seperti lalat pada bangkai. Diusir oleh Paspampres adalah konsekuensi, untung tidak ada peluru bersarang ditubuhnya.

Bagi saya aksi tersebut sukses. Dia menarik perhatian para media dan isu ini menjadi besar. Publik memang boleh saja geram aksinya tidak pakai otak ataupun teledor serta kurang intelektuil. Namun begitulah anak muda seharusnya. Berapi-api, semangat, dan nekat. Tentu saya tidak perlu lagi mengingatkan pembaca dengan lagu Rhoma Irama.

Saya teringat kata seorang dosen kampus merah yang beberapa waktu lalu saya temani diskusi. Dia berucap, “Kalau masa muda sudah takut, bagaimana mami nanti kalau sudah tua? Kalau masih muda, lakukanlah hal-hal radikal dan perbanyaklah kesalahan. Jangan terlalu cepat menjadi arif.”

Kira-kira ucapan itu terjawab oleh sejarah. Apa antum masih ji mengingat bagaimana semangat-semangat muda yang memaksa perjanjian Rengasdengklok. Bagaimana pijar-pijar keteledoran muda pada aksi Malari dan 98. Ya, semua itu diawali dari peristiwa-peristiwa kecil yang membesar, sama seperti apa yang Zaadit lakukan.

Melihat aksi tersebut saya kemudian rindu riak-riak berani serupa dari mantan kampus saya. Kampus yang dijuluki “merah berani”.  Di saat saya berkuliah, orang selalu tegang saat almamater merah turun ke jalan, bakar ban, hingga menutup jalan. Nyali para mahasiswa ayam jago ini tak perlu diragukan.

Mereka berani saat barikade polisi menghadang aksi mereka. Setahu saya, mereka tidak ciut nyali saat peluru, busur dan gas air mata memecah aksi massa mereka. Jangankan kartu kuning, tutup jalan presiden pun mereka berani lakukan. Dari segi intelektuil, beberapa Korlap dan tokoh garis depannya adalah pembaca yang lahap dari buku kiri ke kanan.

Salah satu teman diskusi terbaik pemantik keberanian adalah Alwy Rachman, kakak yang satu ini mengajak kita berpikir kritis dan berani berbicara. Apalagi kakak itu memang membaktikan hidupnya untuk nalar kritis, sekalipun diundang acara secara gratis.

Reputasi mereka sedemikian “merah” membara hingga beberapa pihak takut. Konon beberapa aksi mereka di momen-momen penting seperti naiknya BBM dan Kasus Century membutuhkan model devide et impera, memecah gerakan dengan penyusup berpakaian almamater atau KW super pengguna jalan untuk membubarkan massa.

Saksinya adalah Pimred kami, Yusran Darmawan, boss Alhe Laitte, dan big boss Arief Rosyid Hasan. Salah satu yang paling lawas itu Abdul Haji Talaohu, nyalinya sampai sekarang masih membara. Mohon maaf ya nama-nama lain tidak saya sebutkan, maklum saya bukan intelektuil dan aktipis, cuma anak hedon tidak jelas.

Reputasi ini sempat membuat Eko Prasetyo kagum. Eko Prasetyo ini pernah menuturkan kurang lebih seperti ini, “Gerakan mahasiswa dari Timur, salah satunya UNHAS, yang masih waras di Indonesia ini.” Antum tidak tahu Eko Prasetyo? *geleng kepala*

Ah, lupakanlah ujaran di atas. Ujaran di atas mungkin hanya romantisme masa lalu, mahasiswa kini masuk jaman now. Sebagai alumni yang tidak militan, saya mendengar kabar malah pihak rektorat “kurang sreg” dengan model-model  kegiatan berbau BEM-BEMan, organisasi formal-formalan, atau kawanan-kawanan.

Mereka lebih senang kegiatan-kegiatan yang mengharumkan nama almamater seperti menang lomba tingkat nasional atau internasional. Pernah beberapa kali saya melihat nama pemenang lomba itu dipampang seumpama sehabis perang suci, saya rasa sebaliknya pada BEM-BEMan saat pulang dari pelatihan, konsolidasi nasional, demo nasional, atau apalah.

Saya tidak tahu, apa bisa ji mereka melakukan perihal serupa Zaadit dari UI itu? Apakah mereka bisa lebih radikal seperti mengangkat kartu merah untuk Jokowi? Atau mungkin kampus UNHAS sudah tidak merah lagi? Atau zaman telah berubah?

Setidaknya sosok mahasiswa model lama itu tersurat di sosok Zaadit. Mahasiswa galak dan berani. Sudahlah, lupakan hasrat saya untuk melihat mahasiswa UNHAS mengacungkan kartu merah kepada Jokowi selayaknya di film Battle in Seattle atau sosok Laut di novel Laut Bercerita. Mungkin karena saya susah move on dari zaman awal 2000-an itu ya?

Oh ya, tepok tangan berdiri saya lakukan untuk rektorat kampus kuning itu. Mereka menyadari bahwa parade pendekar itu adalah murni sikap kritis mahasiswa. Lebih kagum lagi ketika Kepala Humas itu berujar akan melakukan pembinaan.

Hebat memang, dia mengerti bahwa mahasiswa kini tidak butuh spontanitas demikian pula anak muda bergolak seperti alumninya yang bodoh, Soe Hok Gie.

Lebih baik jadi vlogger atau menciptakan startup. Kampus masa depan adalah World Class University yang berdasarkan publikasi, lomba, lapangan kerja, dan kepatuhan pada birokrat. Zaadit sadarlah. Jangan dengar kata dosen saya itu, dia ngawur. Kampus merah jangan ikuti kelakuan Zaadit, itu kelakuan zaman bahalul.

Jangan. Kau gak akan kuat. Biar saya saja.

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

Sudahkah HMI Memberi Solusi Bangsa Ini?

Next post

Hantu-Hantu Komunis yang Menculik Habib Rizieq