Esai

Kampus-Kampus yang Menjajah Mahasiswanya

“Wow cepat banget!” Kata seorang teman saat mengurus kartu mahasiswa di San Diego State University, California. Kampus sementara saat mengikuti Pre-Academic Training sebelum berkuliah di kampus tujuan.

Respon ini tidak berlebihan sebab tidak cukup lima menit, kartu sudah selesai.

Di kampus tujuan saya, Southern Illinois University Carbondale, Illinois, kartu mahasiswa saya selesai tak cukup dari tiga menit. Kartu mahasiswa adalah sebuah kartu maha penting. Dapat digunakan untuk berbagai keperluan; akses di gym kampus, transportasi umum, menonton kegiatan-kegiatan kampus seperti pertandingan olahraga, mendapat diskon saat berbelanja seperti komputer, dan dapat pula digunakan untuk print, scan, copy-an dengan mengisi saldo di dalam kartu. Dengan kartu ini pula mahasiswa memiliki kode untuk mengakses internet. Singkatnya, kartu mahasiswa seperti kartu sakti.

Di sebagian besar kampus di Indonesia, setidak-tidaknya selama pengalaman saya di jenjang sarjana dan pascasarjana di dua kampus yang berbeda, kartu mahasiswa dianggap penting tapi entah untuk apa selain pelengkap kartu di dompet atau pengenal identitas saat kecelakaan dan meninggal?

Padahal pengurusan memakan waktu lama hingga berbulan-bulan dan dalam pembayaran terdapat alokasi khusus kartu mahasiswa. Belakangan kartu mahasiswa juga menjadi lahan bisnis baru bagi kampus. Kampus akan bekerja sama dengan bank tertentu dengan dalih kartu tersebut bisa digunakan sebagai ATM. Hal ini juga berarti mahasiswa harus membuka rekening baru dan hal itu berarti mahasiswa harus menyetor sejumlah uang sebagai syarat. Tidak ada perkecualian meski mahasiswa sudah memiliki ATM dari bank yang sama.

Tak jarang kerja sama dengan bank juga menggusur fasilitas mahasiswa. Sebagai misal, di Lecture Theater di sebuah kampus negeri di Makassar, di bagian belakang panggung telah diubah menjadi kantor salah satu bank swasta yang memiiki kerja sama dengan kampus. Padahal ruangan tersebut awalnya sengaja didesain sebagai tempat para panitia acara mempersiapkan kebutuhan acara. Kini mahasiswa harus bersusah payah menenteng perlengkapan acaranya di belakang atau di luar gedung.

Kesungguhan

Kita patut meragu dan selayaknya mempertanyakan kesungguhan kampus-kampus kita mendidik. Setiap tahun ribuan hingga puluhan ribu mahasiswa diterima begitu saja tanpa memikirkan ke mana perginya mereka kelak.

Karena pendidikan adalah pertaruhan masa depan, mahasiswa bersedia membayar berapapun. Belum termasuk pembayaran tambahan selama kuliah. Sudah tentu dengan harapan tinggi bahwa kampus akan memberi bekal sebaik-baiknya. Kampus menyediakan fasilitas penunjang selengkap-lengkapnya. Jika seandainya hal ini terpenuhi, mahasiswa tentu tak perlu merasa mengeluh membayar berjuta-juta.

Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Kampus menerima beribu-ribu mahasiswa tanpa pertimbangan peluang kerja. Penerimaan kuota didasari prinsip semakin banyak mahasiswa semakin banyak pula pemasukan.

Gerbang kampus dan pintu-pintu kelas pun dibuka selebar-lebarnya. Tetapi apakah para dosen dan professor juga menyambut mereka dengan hati terbuka?

Masih terlalu banyak dosen-dosen yang menutup rapat pintu ruangannya. Para mahasiswa ketakutan memasuki ruang-ruang akademik dan rektorat. Apalagi jika didalam sana, wajah murung nan kurang bersahabat lebih dahulu menyambut. Hati yang terbuka tak akan lahir dari sambutan seperti ini.

Di kelas-kelas, beberapa dosen hanya mengisi absensi. Kelas hanya diisi dengan cerita dan tugas. Mahasiswa dibentuk dalam kelompok-kelompok, diberi tugas dan dibiarkan presentasi ngalur ngidul dan dosen bermain hape di belakang kelas. Begitu seterusnya sampai semester berakhir dan mahasiswa bertanya-tanya dalam hati ketika sarjana entah mereka belajar apa di kelasnya dahulu. Ketika memasuki dunia kerja, mereka menjadi tidak tahu entah harus mengerjakan apa. Sebab entah dosennya juga mengajar apa.

Sebagai mahasiswa, mereka memang seharusnya harus belajar mandiri. Kita sering kali membandingkan sembari merendahkan mahasiswa Indonesia dengan mahasiswa di negara-negara maju seperti Amerika Serikat. Masalahnya kita tidak bersedia membandingkan bagaimana kampus menyediakan semua fasilitas penunjang untuk belajar mandiri.

Suasana kampus yang nyaman dan aman dan fasilitas yang lengkap dan suportif. Perpustakaan yang lengkap dengan buku-bukunya dan para staf yang ramah dan sedia membantu. Di Amerika Serikat perpustakaan seperti pasar sementara di Indonesia perpustakaan seperti museum.

Orang-orang Amerika Serikat dalam sebuah survei memang memiliki literasi yang jauh lebih tinggi daripada Indonesia. Tetapi literasi hanyalah akibat. Penyebabnya sebab Amerika Serikat ditunjang dengan fasilitas-fasilitas mumpuni terutama di kampus-kampus sebagai corong pendidikan. Dengan kampus dan perpustakaan yang lengkap dan nyaman.

Pun demikian dengan kelas-kelas yang nyaman. Proyektor disediakan. Bangku-bangku disusun sesuai dengan kapasitas ruangan dan mahasiswa. Dilengkapi dengan pendingin udara. Jika rusak segera diperbaiki.

Bangunan seperti student center dan student service difungsikan dengan sebaik-baiknya. Disediakan ruang-ruang yang aman dan nyaman agar mahasiswa lebih betah di kampus daripada apartemen/kosnya. Kampus dibuat seolah milik para mahasiswa.

Di banyak kampus di Indonesia, mereka tidak menyediakan semua prasayarat tersebut. Fasilitas gedung mahasiswa dibiarkan rusak. Para staf yang diangkat dengan keluarga mereka sendiri menyambut dengan muka judes dan cemberut, membuat perasaan mahasiswa malas mengurus berkas-berkas dan masalahnya. Sampai mahasiswanya sendiri diusir dan dipukuli satpamnya.

Kelas-kelasnya bikin gerah dan tidak sesuai kapasitas. Di salah satu kelas yang pernah saya ajar misalnya. Ada 49 mahasiswa yang ditempatkan dalam satu ruang kelas kecil. Dengan jendela yang tak terbuka, pendingin udara yang tak juga diperbaiki, dan terkadang harus mengemis-ngemis ke tukang kunci agar dibukakan kelasnya. Padahal harap dicatat mereka membayar 5 juta per semester per mahasiswa.

Kampus-kampus masih terlalu sering menerima mahasiswa untuk dijajah daripada dimerdekakan.

Arief Balla

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Previous post

Sehari Bersama Novi Wahyuningsih, Si Jutawan Muda Sederhana dari Kebumen

Next post

Syarkawi Rauf, dari Baharuddin Lopa, Mandar, hingga Novel Saman