Locita

Kami Sedang Tidak Baik-Baik Saja Pada praktik kehidupan bermasyarakat, perempuan justru berada pada keadaan yang bertolak belakang...

ilustrasi perempuan Indonesia (foto: satunama.org)

Kondisi perempuan Indonesia masih jauh dari cita-cita kemerdekaan dan semangat juang para pahlawan, khususnya para perempuan pejuang. Meski memang ‘penindasan’ pada umumnya tak lagi dilakukan secara fisik, namun kenyataannya kondisi perempuan saat ini masih jauh dari kata ‘merdeka’.

‘Perempuan’ secara etimologi berasal dari kata “empu” yang berarti tuan, orang yang mahir atau berkuasa. Sedangkan dalam buku Zaitunah Subhan, “perempuan” berasal dari kata “empu” yang artinya dihargai. Dari pengertian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa kata “Perempuan” memiliki arti yang tinggi dan dimuliakan. Namun lain halnya antara makna sebuah kata dengan realita, pada praktik kehidupan bermasyarakat, perempuan justru berada pada keadaan yang bertolak belakang.  Situasi dan keadaan yang menempatkan status perempuan tidak seperti makna ataupun arti dari perempuan itu sendiri.

Kenyataan di masyarakat luas, perempuan ditempatkan pada status sub ordinat yakni sebagai sesuatu yang lain atau hanya sebatas sebagai objek atas kelas tunggal atau kelas yang berkuasa. Objek yang kemudian menjadi hal wajar jika mendapat perlakuan yang tidak baik dan tidak adil.

Jika kita berkehendak melihat lebih dalam lagi akan fenomena sosial yang terjadi disekitar kita dan berkenan untuk memahami seperti apa kedudukan perempuan, maka kita akan paham bagaimana perempuan mendapat perlakuan yang tidak semestinya. Ironinya, dengan memiliki organ reproduksi, perempuan tidak dianggap memiliki suatu nilai tawar lebih.

Perempuan justru dianggap sebagai sosok yang lemah, tidak bisa apa-apa, suka bergantung, dan tidak layak memiliki porsi lebih dalam ranah-ranah sosial, politik, serta ekonomi yang lebih luas. Akhirnya menempatkan perempuan hanya berada pada balik dinding rumah yang secara otomatis melekat pula serangkaian tugas-tugas yang seolah-olah menjadi tanggung jawab tunggal perempuan, yaitu mengurus anak serta mengurus urusan rumah tangga lainnya.

Pemikiran semacam ini sudah sangat membudaya terutama di Indonesia. Baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama memiliki stigma bahwasanya laki-laki yang lebih punya peran dan fungsi untuk berada di ranah-ranah publik sedangkan perempuan hanya diranah domestik. Pola pikir semacam itu yang telah tertanamkan dari masa ke masa, dari generasi ke generasi, dan akhirnya membuat posisi perempuan semakin lemah dan menjadi sosok yang kurang  berkembang.

Perempuan yang seharusnya menjadi “ibu bangsa”, dalam artian menjadi subjek yang sangat berpengaruh dalam kemajuan sebuah bangsa, justru tereduksi menjadi perempuan yang lemah mental dan inferior. Jadi, dengan kata lain, adanya inferioritas perempuan disebabkan oleh bentukan budaya dan kebiasaan perilaku yang menjadi stigma langgeng didalam kehidupan bermasyarakat.

Sejenak mengkaji ulang sebuah sejarah gerakan perempuan dunia maupun Indonesia, dimana perempuan pada saat itu dengan kesadaran penuh memperjuangkan yang seharusnya menjadi hak-hak mereka sebagai seorang manusia dan sebagai warga negara. Tidak hanya itu, merekapun memperjuangkan kemanusiaan secara lebih luas.

Gerakan perempuan dunia dalam memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan atau yang kerap disebut sebagai Feminisme telah mampu mengukir sejarah hebat bagi perjuangan perempuan. Bahwasanya perempuan juga mampu berperan dalam kemajuan sebuah peradaban. Jika melihat lingkup nasional negara Indonesia, maka banyak yang dapat dijumpai sebagai sosok pahlawan perempuan, yang perjuangannya tidak kalah hebat dengan gerakan perempuan di dunia.

Semisal RA Kartini. Kartini adalah perempuan yang membuka pintu gerbang akan masuknya feminisme di Indonesia. Kartini yang mula-mula menggugat akan penindasan yang dialami oleh perempuan di tanah airnya, menggugat penindasan dan memperjuangkan keadilan dalam bingkai emansipasi. Melalui semangat pembebasannya, ia menentang dengan gigih segala bentuk diskriminasi yang dialamatkan kepada perempuan, seperti diskriminasi dalam pendidikan, serta diskriminasi dalam bidang lainnya.

Melalui semangat juang Kartini pula, lahirlah sekolah perempuan pertama di Indonesia. Selain Kartini sebagai seorang perempuan yang menggugat penindasan yang dialami perempuan, terdapat Cut Nyak Dien, seorang pahlawan perempuan yang dengan gagah berani mengangkat pedangnya untuk mendepak para penjajah dari tanah Aceh. Ibarat pasukan berani mati, Cut Nyak Dien membuktikan bahwa perempuan juga mampu  berjuang bersama laki-laki dan mampu mempertahankan harga diri bangsa.

Kedua pahlawan perempuan Indonesia tersebut seharusnya dapat dijadikan rujukan untuk kembali merenungkan bagaimana peran dan perjuangan perempuan dewasa ini. Memang secara kodrati tidak dapat dipungkiri bahwa perempuan memiliki peran penting dalam melahirkan generasi bangsa melalui alat reproduksi yang mereka miliki.

Namun bukan berarti menjadikan perempuan sebagai sosok yang lemah dan tidak mampu berbuat sesuatu yang lebih. Inilah cara pandang yang kemudian mengakar dalam pikiran masyarakat Indonesia. Ketika berbicara Perempuan dan laki-laki, keduanya merupakan entitas yang tidak dapat dipisahkan, keduanya adalah satu kesatuan. Karena pada dasarnya, kedua entitas tersebut sama-sama menjadi kekuatan untuk saling mendukung kepada arah yang berkemajuan, kepada upaya pembangunan bangsa.

Artinya, perempuan dan laki-laki sejatinya harus menjadi partner ataupun mitra dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, karena tidak akan dapat perempuan maupun laki-laki mampu berjuang sendiri secara terpisah ataupun menegasikan salah satunya. Karena tidak ada konteks yang lebih tinggi ketika berbicara kemanusiaan, keadilan dan perjuangan maka perempuan dan laki-laki memiliki porsi yang sama sebagai subjek dalam melakukannya. Jika itu menyangkut tentang hak dan kewajiban, sebagai seorang warga negara yang memiliki peranan besar pada kemajuan sebuah bangsa, maka itu menjadi tanggung jawab bersama, menjadi tanggung jawab yang harus dilakukan tanpa berat sebelah.

Secara kasat mata, memang terlihat bahwa kondisi perempuan Indonesia dalam keadaan normal dan tidak terindikasi masalah. Mungkin hanya bagian dari minoritas perempuan yang memiliki kesadaran jika dirinya tertindas dan terpasung. Sedangkan bagian dari mayoritas perempuan menganggap bahwa dirinya dalam keadaan yang aman dan nyaman.

Namun sejatinya, masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama. Sebab kenyataannya, masih berjajar fenomena atau permasalahan sosial yang masih dialami oleh perempuan, seperti pemiskinan/marjinalisasi dalam aktivitas ekonomi, diskriminasi dalam ruang-ruang publik, pengekangan dalam keluarga atau rumah tangga, hingga kekerasan seksual dan kekerasan fisik serta deretan persoalan sosial lainnya.

Oleh karenanya, atas segala fenomena yang terus terjadi tersebut, “kami para perempuan, sesungguhnya sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja”.

Fanda Puspitasari

Fanda Puspitasari

Tentang Penulis

Fanda Puspitasari

Fanda Puspitasari

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.