Locita

Kadet Debutan versus Kaiju 2019

Ilustrasi: Luki Ahmadi Hari Wardoyo

BEBERAPA minggu terakhir bioskop di Indonesia diramaikan dengan film sains-fiksi futuristik berjudul Pacific Rim. Film ini merupakan sekuel dari film berjudul sama yang diluncurkan pada 2013 lalu.

Sekuel berjudul Pacific Rim: Uprising ini telah mencapai hampir 1 juta penonton di Box-office Korea. Sepanjang 21-25 Maret 2018, film ini telah ditonton oleh 850.000 orang di Korea saja. Menurut analisis beberapa orang, film ini memang ditujukan untuk memelihara penonton di kawasan Asia Timur dan Pasifik (RRT, Jepang, sampai Rusia).

Seperti film-film alien lainnya, film ini menyuguhkan sebuah rangkaian peristiwa heroisme untuk melawan serangan alien. Sistem pertahanannya mengkolaborasikan keikutsertaan berbagai bangsa dan negara di dunia, komposisi gender yang pas, sampai segmen umur yang beragam.

Film ini mau memperlihatkan bahwa siapapun bisa menjadi pahlawan untuk mempertahankan kelangsungan kehidupan dan peradaban di dunia. Dalam prekuelnya, diceritakan bahwa dunia terancam oleh monster yang muncul dari bawah lautan Pasifik yang dinamakan Kaiju (bahasa Jepang: monster raksasa).

Berbanding terbalik dengan kisah legenda bangsa Lemuria yang peradabannya tenggelam di lautan Pasifik, Kaiju tidak mencerminkan sifat Pasifik yang tenang, protagonis, dan beradab. Namun kemampuan menguasai gelombang pikiran manusia, menjadi salah satu senjata mutakhir untuk bertahan hidup dan merencanakan kebangkitan kembali.

Kehadiran Kaiju memaksa manusia untuk membangun sistem pertahanan dan persenjataan yang baru untuk melawan para monster raksasa yang hadir ini. Robot-robot Jaeger (bahasa Jerman: pemburu) merupakan alat mekanik yang ukurannya bahkan lebih tinggi dari gedung pencakar langit.

Mengingatkan kembali pada robot-robot superhero ala Jepang, plus monster-monsternya. Peperangan ini terus berlanjut sampai munculnya Pacific Rim: Uprising tahun ini.

Dalam skuad kadet yang dominan masih muda, seorang anak perempuan yang mengalami trauma masa lalu oleh kaiju yang melenyapkan seluruh keluarganya, akhirnya dipaksa bergabung. Keseluruhan kadet ini tidak semuanya laki-laki, dan berasal dari ragam bangsa seperti Vik dari Rusia, Ryioichi dari Jepang, Suresh dari India, dan yang lain.

Salah satu tokoh dalam film ini adalah anak perempuan tadi yang karena pengalaman masa lalunya akhirnya membawanya mempersiapkan diri secara individual untuk menghadapi serangan monster berikutnya. Dia menciptakan sendiri robotnya dalam ukuran yang jauh lebih kecil daripada yang dibuat oleh militer.

Robot bernama Scrapper ini dibuat dari bahan-bahan rongsok yang dicuri dari perusahaan Shao Industries, yang akhirnya membuat dia mengenal lebih jauh tentang Shao Industries.

Mungkin kebetulan, jika anak perempuan ini bernama Amara Namani yang namanya mirip dengan seorang politisi debutan yang akhir-akhir ini ramai menghiasi pemberitaan di Indonesia bersama partai politik debutannya pula. Kesamaan mereka antara lain adalah perempuan, sangat muda, dan ‘kepala batu’.

***

Sebelum jauh kesana, mungkin penting membahas tentang strategi yang digunakan oleh kaiju untuk kembali lagi ke atas permukaan bumi.

Kemampuan untuk mempengaruhi pikiran manusia dengan perangkat otak yang terhubung melalui gelombang dengan salah satu ilmuwan dalam perusahaan Shao Industries bernama Dr. Newt Geiszler.

Selain itu perangkat otak kaiju ini pula mampu menjadi auto-pilot dalam robot jaeger yang dibuat secara diam-diam untuk menghancurkan pertahanan jaeger yang lain. Ini seperti strategi kuda Troya yang memuat pasukan Yunani dan masuk secara-cara diam-diam tanpa diketahui ke dalam Kota Troya.

Ini merupakan strategi penyusupan tertua dalam sejarah perang, dan masih ampuh sampai sekarang. Tidak hanya dalam perang, strategi ini kadang digunakan dalam politik, ekonomi, bahkan budaya.

Dalam teori hubungan yang diajarkan di mata pelajaran Biologi, terdapat tiga jenis hubungan yang disebut simbiosis yaitu:

Pertama, simbiosis mutualisme alias hubungan yang saling menguntungkan, kedua simbiosis parasitisme atau hubungan yang menguntungkan satu pihak, dan merugikan pihak yang lain, ketiga simbiosis komensalisme atau hubungan yang menguntungkan satu pihak, namun tidak merugikan pihak lain.

SIMBIOSIS POLITIK

Dalam sejarah perpolitikan di Indonesia tiga jenis hubungan ini bergantian menghiasi hubungan antara kelompok dan aktor politik.

Misalnya saja hubungan mutualisme dalam perjuangan kemerdekaan antara tentara organik (didikan KNIL dan PETA) dengan laskar rakyat sehingga disebut perang semesta; selain itu ide gagasan Nasionalisme-Agama-Komunisme yang muncul pada orde setelahnya dan gagal pada akhirnya.

Juga kolaborasi Angkatan Darat, mahasiswa, dan oposisi dalam menumbangkan Orde Lama mungkin juga bisa disebut salah satu simbiosis politik, bahkan kompleksitas simbiosis tersebut terus bertumbuh pasca reformasi.

Setidaknya ada 4 kelompok politik yang telah berganti-ganti menjadi penguasa/ pemerintah di negara ini, yang direpresentasikan oleh Presiden (kepala negara sekaligus kepala pemerintahan).

Mereka adalah kelompok Marhaenis-Nasionalis (Ir. Soekarno/ PNI), kelompok Angkatan Darat-Kekaryaan (Jend. HM Soeharto/ GOLKAR), kelompok Nahdlatul Ulama (KH. Abdurrahman Wahid/ PKB), dan Kelompok Partai Demokrat (Susilo Bambang Yudhoyono).

Yang terakhir ini, murni lahir di era reformasi yang sistem pemilihannya secara langsung, namun kelompok politiknya tidak terhubung secara langsung dengan masa lalu. Sedangkan Presiden Habibie dan kelompoknya dianggap sebagai kolaborator Orde Baru yang cenderung mengidentifikasi diri sebagai intelektual-teknokrat Islam.

Hampir tidak bisa lagi ditemukan model simbiosis yang tidak berdampak pada semua kelompok. Dalam artian bahwa pola komensalisme sudah ditinggalkan karena tidak berguna dalam dunia yang pragmatis ini.

Jika toh ada hubungan yang tidak merugikan salah satu pihak, sedapat mungkin harus digali manfaatnya walaupun di masa-masa yang akan datang. Yang kadang menjadi tragedi ketika pola parasitisme juga diam-diam dikembangkan sehingga menggerogoti kawan maupun lawan.

Seperti strategi kuda Troya yang tidak bisa diantisipasi sebagai musuh, namun ternyata menghancurkan dari dalam. Pada jaman Orde Lama berganti-gantian Partai Sosialis Indonesia, MASYUMI, dan PKI membangun kedekatan dengan Presiden Soekarno dan PNI-nya untuk dapat menyusun kabinet parlementer baru pasca kabinet parlementer yang lama sudah dilengserkan.

Namun tidak sedikit pula kemudian menjadi kuda Troya yang akhirnya menghancurkan sistem yang sudah terbangun. Begitu pula betapa kuatnya struktur ABG (ABRI-Birokrat-Golkar) di jaman Orde Baru, tapi akhirnya tercerai berai juga waktu krisis moneter tahun 1998.

Pada saat pemerintahan sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Pada era demokrasi terbuka sejak 1998, muncul keyakinan bahwa simbiosis politik tidak lagi memerlukan ideologi sebagai nilai dasar.

Toh variabel penentu kemenangan politik ternyata bukan hanya mesin partai yang berbahanbakar ideologi, tetapi juga koneksitas simbiosis politik dengan simbiosis ekonomi dan bahkan budaya. Sehingga muncullah politisi-politisi yang adalah pengusaha-pengusaha ataupun seniman-seniman.

Pada pemilu 2004, sebuah partai underdog besutan SBY yaitu Partai Demokrat berhasil memenangkan pemilu dengan gelombang yang disebut the silent majority. Kelompok ini adalah kelompok yang muak dengan kondisi politik era reformasi yang tak kunjung berubah.

Mereka sejak lama tidak menggunakan hak politiknya dan akhirnya mencapai titik keseimbangan yang dianggap cocok dengan memilih Partai Demokrat. Kebanyakan dari mereka adalah kelompok awam politik yang lahir dari masyarakat profesi.

Sejujurnya kemenangan SBY salah satunya dengan menggandeng Jusuf Kalla yang adalah pengusaha untuk menjadi Wakil Presiden selama satu periode. Partai ini juga banyak diisi oleh artis seniman yang sering berseliweran di televisi. Sebut saja Dede Yusuf, Inggrid Kansil, alm Adjie Massaid, Ruhut Sitompul, Angelina Sondakh, dan lain-lain.

Namun setelah 10 tahun, dampak kekuasaan SBY tidak terlalu terlihat bahkan kurang memiliki jejak positif sehubungan dengan banyaknya tokoh-tokoh partai tersebut yang ditangkap KPK.

Namun strategi dengan melibatkan pengusaha-pengusaha dan seniman, juga dipakai oleh banyak partai-partai baru yang berdiri setelahnya. Misalnya Partai Gerindra yang ditopang pengusaha Hasyim Djojohadikusumo, juga memiliki sejumlah seniman antara lain Jamal Mirdad, Bella Saphira, Iis Sugianto, dan sebagainya.

Juga di Partai Hanura yang pernah disokong oleh pengusaha media Hari Tanoe sebelum akhirnya membentuk partai sendiri. Dan hari ini OSO yang seorang pengusaha besar berhasil menjadi ketua umum Hanura. Fenomena ini terus menjangkiti partai-partai baru lainnya.

TSAMARA AMANY VS. AMARA NAMANI

Seperti yang saya sampaikan di atas, bahwa mungkin kebetulan jika penyebutan namanya hampir mirip. Tapi ini pastinya bukan setting-an sutradara handal di belakangnya ataupun berupa konspirasi besar dibaliknya. Namun sepertinya banyak kemiripan lain yang tidak hanya nama, ya seperti yang saya sebuatkan di awal.

Tsamara Amany adalah seorang politisi sebuah partai baru yang menciptakan fenomena mutasi dari the silent majority-nya Partai Demokrat.

Namun seperti layaknya sebuah partai baru, pastinya para pendiri telah menganalisis kelemahan-kelemahan yang dimiliki oleh partai-partai penguasa sebelumnya untuk menciptakan satu teori politik baru yang tidak mainstream.

Partai Solidaritas Indonesia telah menyerap rasa penasaran berlebihan dari masyarakat, dan ini menjadi energi bagi kekuatan yang tersembunyi dibaliknya.

Strategi-strategi usang ala partai-partai pasca reformasi dipoles sedemikian rupa agar kelihatan tampil berbeda, namun toh sebenarnya sama saja. Pengusaha-pengusaha ditaruh di belakang layar, dan para artis menghiasi etalase partai.

Keberhasilan PSI menjadi peserta pemilu dengan membentuk kepengurusan partai pada 75% total kabupaten/kota di 34 Propinsi, membuktikan kuatnya jejaring yang mereka miliki. Dalam kepengurusan terlihat kolaborasi artis-sosialita dan kaum muda Muhammadiyah yang super moderat.

Sebutlah misalnya Grace Natalie (Ketua Umum) dan Isyana Bagus Oka, serta Raja Juli Anthony (Sekretaris Jenderal). Yang terakhir ini tentunya adalah anak ideologis Jeffrie Geovanie dan Buya Syafii Maarif.

Walaupun terlalu dini menyimpulkan keterlibatan Buya dalam partai ini. Selain itu mitos dukungan taipan-taipan 9 Naga maupun funding Australia dan Singapura, juga mewarnai peningkatan trend survey positif Partai Solidaritas Indonesia.

Membandingkan Tsamara Amany dengan Amara Namani dalam film Pacific Rim: Uprising membawa kita pada kesimpulan akan keberanian sang sutradara memasang sang kadet debutan menjadi ranger. Kemampuan sang kadet yang di atas rata-rata akhirnya membawa dia dalam tugas tersulit yaitu menjadi co-pilot untuk memusnahkan kaiju terakhir.

Tsamara Amany juga seperti kadet baru yang memiliki sedikit kemampuan di atas rata-rata yang membawa dia menjadi salah satu ranger utama dalam PSI.

Beberapa waktu lalu, kehadiran PSI di istana Presiden diwarnai oleh isu blunder tentang beredarnya materi pembicaraan oleh Ketua Umumnya. Presiden dan PSI dituduh telah membicarakan tentang strategi pemenangan di istana.

Kesempatan ini akhirnya digunakan oleh Tsamara untuk bisa menjelaskan atau meluruskan peristiwa tersebut secara berani bahkan cenderung ‘keras kepala’.

Kemampuan public speaking Tsamara yang dilakukan dengan cenderung sangat cepat ternyata juga merepotkan lawan debat. Bukan hanya dalam kasus ini, tapi dalam berbagai perdebatan sebelumnya bahkan saat berdebat dengan Fahri Hamzah.

Selain jejaring yang kuat, strategi untuk menempatkan kadet-kadet berkemampuan di atas rata-rata, juga akan merepotkan jenderal-jenderal di pihak lawan.

Lawan debat akan terjebak dalam permainan psikologi yang apik. Pikir mereka menang wajar, kalah malu. Hal ini bukan hanya berlaku pada suasana debat tapi juga dalam kontestasi 2019.

Masih perlu banyak analisis dan serangkaian ujian untuk memastikan strategi PSI jitu atau tidak. Bahkan ketulusan PSI mencalonkan Presiden Jokowi perlu diuji.

Apakah memang karena melihat Presiden Jokowi masih layak memimpin republik, ataukah hanya berhubungan dengan kepentingan PSI untuk lolos verifikasi KPU. Mengingat PSI sempat tidak lolos verifikasi faktual awalnya.

Untung jika simbiosis mutualisme yang kemudian terjadi, yang parah ketika simbiosis parasitisme menjangkiti. Atau malah strategi kuda Troya.

Tsamara masih banyak waktu untuk membuktikan diri, tidak seperti PSI yang deadline-nya hanya sampai 2019. Sebagai kadet yang baru dipromosi menjadi ranger, Tsamara akan menjadi co-pilot bagi PSI untuk ‘membunuh’ kaiju 2019. Kalah atau menang, Tsamara sudah pasti menang.

Alan Christian Singkali

Sekretaris Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI)

Add comment

Tentang Penulis

Alan Christian Singkali

Sekretaris Umum Pengurus Pusat Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (PP GMKI)

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.