Locita

Jusuf Kalla yang Percaya Diri dengan Logat Bugisnya

Saya lahir di Sinjai tetapi besar di Watampone, kota kelahiran Jusuf Kalla. Rumah tempat saya tinggal hanya sejarak beberapa menit saja dari rumahnya, Bukaka.

Saya bahkan sering bermain di rumah teman saya yang di depan rumahnya, katanya, adalah kebun milik keluarga Jusuf Kalla. Sebuah kebun yang di kelilingi tembok tinggi tetapi cukup untuk tahu bahwa kebunnya ditanami pohon pisang. Daun-daunnya menjulur ke luar tembok.

Inilah awal cerita saya mengenal Jusuf Kalla. Saya masih kelas empat SD dan baru pindah dari Sinjai. Saya kemudian makin mengenalnya ketika SMP saat beliau sudah menjadi wakil presiden. Berita tentangnya sering muncul di koran dan televisi.
Ketika kuliah, saya ke Makassar. Tempat saya tinggal lagi-lagi tak jauh dari rumahnya di Jalan Haji Bau. Saya selalu lewat di depan rumahnya.

Seperti halnya banyak orang Bugis, barangkali hanya dengan cara itulah saya mengenal Jusuf Kalla, mengenalnya dari jauh tetapi tetap selalu membanggakannya sebagai panutan, terutama sebagai orang Bugis.

Ketika saya sudah kuliah dan beberapa kali ke luar Makassar, terutama ke Jawa, dan setiap kali ditanya asal, saya tidak kesulitan menjawabnya meski mereka tidak mengenal Watampone atau Kabupaten Bone. Saya cukup menambahkan,

“Di kampungnya Pak JK, di Watampone.”

Dan mereka langsung mengangguk-angguk.

Meski begitu saya tidak terlalu memiliki keinginan bertemu beliau. Saya tahu keinginan seperti itu adalah sia-sia belaka. Sebagai pejabat publik, tokoh nasional bahkan internasional, seorang pebisnis yang kaya, dan tentu keluarga berada, tak mudah menemui beliau, syukur-syukur jika bisa bersalaman dan berswafoto.

Namun, sejujurnya, saya pernah berharap bertemu ketika sebuah kongres perdamaian di gelar di Makassar tahun 2013. Ada banyak kepala negara yang datang. Panitia membuka kesempatan menjadi LO (Liasion Officer) dan tentu saja kesempatan bertemu JK. Saya mendaftar dan juga mendaftarkan teman saya. Teman saya lolos dan saya tidak. Gagal. Saya pikir tidak ada lagi kesempatan bertemu.

Hingga akhirnya saya melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Suatu waktu Jusuf Kalla dan rombongan datang mewakili Indonesia pada sidang PBB di New York. Seperti biasa, setiap ada tokoh datang, mahasiswa Indonesia diundang. Dasar nasib. Jarak antara Illinois ke New York sejauh dua jam dengan pesawat. Dan lagi pula saya memiliki banyak tugas yang harus segera dikumpulkan.

Saya kembali gagal menemuinya.

Tetapi kemudian saya berpikir, menemui atau tidak, bukan lagi jadi soal yang begitu serius. Saya dan barangkali seperti halnya masyarakat Bugis biasa yang lain, yang tidak punya akses istimewa menemui tokoh nasional kebanggaan seperti Pak JK –atau barangkali dipanggil Puang Jusuf Kalla di lingkungan keluarganya—,sudah lebih dari rasa bersyukur dan berbangga, Bugis pernah memiliki banyak tokoh dan salah satu yang nantinya akan selalu akan diceritakan kepada anak cucu kami ya tentu Pak Jusuf Kalla.

Dua kali menjabat wakil presiden dengan dua presiden berbeda, ketua umum partai dan menteri, mendamaikan berbagai konflik dalam dan luar negeri, dan ekonom yang handal, dan berbagai prestasi lain yang bisa Anda lihat di internet.
Terlepas dari begitu banyak hal yang bisa diteladani dan menarik dibincangkan adalah sikap Pak Jusuf Kalla terhadap bahasa. Dalam banyak kesempatan, Jusuf Kalla sering menyebut gaya dirinyanya sebagai gaya yang alami. Tidak dibuat-buat. Satu hal yang saya pikir juga berlaku pada gayanya berbahasa.

Kita bisa menebak dan mengenal dengan mudah Jusuf Kalla sebagai seorang Bugis dari logat bahasanya. Dua kata yang paling sering saya –dan mungkin Anda juga- tandai sebagai ciri khasnya adalah ketika Jusuf Kalla mengucapkan kata baik dengan [baeɁ] dan pokok dengan [pokoɁ]. Pengucapan tanda Ɂ mirip dengan tanda apostrof (‘) dalam penulisan Bahasa Indonesia. Seperti halnya banyak orang Bugis, huruf k diakhir kata cenderung tidak diucapkan.

Dan Jusuf Kalla tidak pernah perlu merasa malu dengan logat Bugisnya. Ia tetap mengucapkan [baeɁ] alih-alih [baik] kepada siapa saja dan dalam acara apa saja, baik formal apalagi informal.

Padahal sebagai tokoh publik dan kebanyakan tinggal di Jakarta –sebuah ibukota yang tidak hanya bisa merubah bahasa pendatangnya tapi juga sampai logat-logatnya-, Jusuf Kalla sudah memenuhi syarat untuk ‘meninggalkan’ karakter bahasa Bugisnya.

Nyatanya, Jusuf Kalla tampil alami. Bahasanya tidak dibuat-buat. Tidak direkayasa agar tampak kejakarta-jakartaan. Ia juga bukan tipe tokoh publik yang suka menyelip-nyelipkan Bahasa Inggris seperti beberapa tokoh publik kebanyakan. Ia memang tetap mengucapkan istilah-istilah Bahasa Inggris sifatnya teknis dengan pengucapan yang kental dipengaruhi aksen Bahasa Bugisnya. Dan ia mengucapkannya dengan percaya diri.

Seharusnya begitulah kita bersikap terhadap bahasa. Bahasa tidak ditempatkan sebagai sebuah hal superior-inferior.

This is my accent and this is the way I say it, so what?” kata Dr. Itxaso, salah satu profesor saya di Southern Illinois University.
Jusuf Kalla menjadikan Bahasa Bugis, bukan saja sebagai sebuah identitas tetapi sebuah kebanggaan. Ia tidak mengubah aksennya agar terdengar keren meski ia telah memenuhi semua syarat untuk itu. Ia tampil orisinil dan percaya diri.

Percaya diri dengan identitasnya, dengan bahasanya, satu hal yang barangkali mulai hilang pada banyak generasi Bugis saat ini. Aksennya seringkali berusaha dimanipulasi agar tidak ketahuan logatnya. Agar tidak terdengar keren.

Rasa malu ketika berbahasa Indonesia dengan aksen/logat Bahasa Bugis (atau Makassar dan bahasa daerah lainnya) sebenarnya bukan semata-mata karena tuntunan ekonomi, bahasa tersebut menguntungkan atau tidak, penuturnya masih banyak atau sedikit, tetapi juga soal ideologi terhadap bahasa itu sendiri.

Jika seseorang memiliki ideologi positif terhadap bahasa daerahnya, maka ia akan percaya diri dengan bahasanya. Aksen dan logat tidak dilihat sebagai suatu hal yang memalukan dan perlu dihindari.

Pada akhirnya kita mencatat jika Jusuf Kalla tidak hanya dikenal sebagai tokoh Bugis karena ia lahir dari keluarga dan di tanah Bugis, tetapi juga karena ia melekatkan bahasa itu pada dirinya sebagai identitas. Tak heran jika Presiden Joko Widodo dan Ketua MPR Bambang Soesatyo sampai mengutip falsafah dan pantun Bugis.

Pura babbara sompekku, pura tangkisi golikku.” Kata Jokowi menutup pidatonya.

Sementara Bamsoet mempersembahkan pantun,
Buah Panasa buah durian
tempeding riala inungeng
temaka raja paberena
tema ruleke papidecenna.

Kata-kata Bugis tersebut mengandung makna mendalam. Dan tentu Jokowi dan Bamsoet mengucapkannya karena seorang Jusuf Kalla, seorang tokoh yang bangga dengan logat Bugisnya.

Terima kasih Puang Jusuf Kalla.

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Tentang Penulis

Avatar

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.