Locita

Jonghyun, Duka Cita, dan Sisi Gelap K-Pop

TEWASNYA bintang K-Pop Kim Jonghyun, salah seorang personel SHINee, menjadi duka yang dirasakan di banyak negara. Berbagai reaksi bermunculan dari para Shawol, nama penggemar SHINee di berbagai negara. Ada yang ikut depresi, nyaris bunuh diri, dan terpukul akibat kematian penyanyi idolanya. Industri hiburan Korea sejenak berduka atas kepergian seorang penghibur yang penggemarnya di seluruh dunia.

Di sisi lain, banyak pertanyaan mencuat. Bagaimana menjelaskan fenomena bunuh diri di kalangan selebritis K-Pop? Bagaimana memahami lapis-lapis kenyataan di balik industri hiburan Korea yang mendunia itu? Apa yang dialami dan dirasakan para bintang yang gemerlapan di industri itu?

***

ISABELLA (15) datang bersama rekan-rekannya di Kedutaan Besar Korea di Chili. Matanya sembab pertanda dirinya sedang bersedih Bersama rekan-rekannya, ia menyampaikan duka atas meninggalnya Kim Jonghyun, seorang vokalis dari grup SHINee, asal Korea. Kematian bintang K-Pop adalah kematian yang diratapi banyak penggemar yang menamakan dirinya Shawol.

Dunia ikut menangisi kepergian Jonghyun yang tewas di usia 27 tahun. Di Korea, kesedihan memenuhi rumah sakit dan prosesi pemakaman penyanyi itu. Sejumlah selebritis berdatangan dengan wajah muram. Di Singapura, sejumlah fans menyalakan lilin dan menyampaikan duka cita. Di Malaysia, para fans juga bersedih dan berkicau di semua akun media sosial. Kabar lain cukup meresahkan. Lima orang Shawol yang dikabarkan bunuh diri demi mengikuti jejak sang idola.

Di Malang, Indonesia, seorang Shawol dikabarkan tidak sadarkan diri dan kritis. Ia terkejut mendengar idolanya tewas karena bunuh diri. Ia dikabarkan hendak bunuh diri demi menyusul idolanya. Para Shawol juga meramaikan akun twitter milik Kahiyang Ayu, putri Presiden Jokowi, yang dikenal sebagai salah seorang Shawol.

Kematian Kim Jonghyun memang cukup mengejutkan. Ia resmi menjadi bagian dari Klub 27. Istilah tersebut merujuk pada pemusik populer yang meninggal di usia 27 tahun seperti Jimi Hendrix, Jim Morisson, Kurt Cobain, hingga Amy Winehouse. Kabar kematian Jonghyun akibat bunuh diri dengan membakar briket batubara memang menarik perhatian khalayak. Banyak penggemar yang bersedih namun tidak sedikit pula warganet yang nyinyir.

Ia bukanlah orang pertama yang melakukan tindakan bunuh diri dengan membakar briket batubara. Menurut data yang dimuat Journal of Korean Medical Science, ada 292 kasus serupa pada 2008. Angka tersebut meningkat tajam hingga 1.251 kasus pada 2011. Di jagad hiburan Korea, Kim Jonghyun juga bukan satu-satunya artis yang meninggal akibat bunuh diri.

Kim Jonghyun

Sebelumnya ada aktris Jang Ja-yeon, Jung Da-bin, Choi Jin-sil serta aktor Park Yon-ha yang memutuskan untuk mengakhiri hidup setelah mengalami depresi akut. Sehari setelah kabar tersebut menyeruak, salah satu sahabat Jonghyun, Jang Hee-yeoun atau yang dikenal dengan nama panggung Nine9 mengunggah surat terakhir yang ditulis oleh pria kelahiran Seoul, 8 April 1990 itu. Isinya menggambarkan betapa depresinya Jong-hyun dengan kehidupannya saat itu.

“Saya hancur dari dalam. Depresi ini perlahan mengerogoti saya dan saya tidak dapat mengatasinya.”

Begitulah kalimat pembuka yang ditulis Jonghyun dalam suratnya. Depresi memang sama gawatnya seperti penyakit kronis. Tidak heran mengapa penyakit ini disebut banyak orang sebagai silent killer. Depresi bukan hanya menyebabkan gaya hidup berbahaya bagi penderitanya tetapi juga memperparah penyakit kronis serta meningkatkan risiko bunuh diri.

Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan, depresi merupakan penyebab kematian kedua terbanyak pada usia 15-30 tahun dan setiap tahunnya ada sekitar 800.000 orang yang meninggal akibat depresi. (BACA: Setya Novanto Meniru Lee Min-Ho)

Namun, di sisi lain, ada banyak pertanyaan muncul, khususnya mereka yang bukan penggemar K-Pop. Bagaimana menjelaskan hubungan antara seorang bintang dan fans di jagad K-Pop? Mengapa banyak bintang K-Pop memilih bunuh diri? Apa yang terjadi dengan industri K-Pop sehingga banyak selebritis yang bunuh diri?

Sisi Gelap

Di tahun 2014 terbit buku berjudul The Birth of Korean Cool: How One Nations is Conquering the World through Pop Culture yang ditulis Euny Hong. Buku ini tak cuma menjelaskan rahasia bagaimana Korea, yang sebelumnya negara miskin dan terbelakang tiba-tiba bangkit dan menjadi kekuatan ekonomi, serta menyebarkan budaya pop ke mana-mana.

Euny Hong dan buku The Birth of Korean Cool

Dalam salah satu babnya, Euny Hong menjelaskan fenomena K-Pop. Ia menyebut K-Pop sebagai mesin pencetak bintang yang licik dan jahat. Mengapa? Sebab industri K-Pop merekrut seorang calon bintang sejak usia belia, melatih mereka hingga matang di industri hiburan, lalu mengeksploitasi mereka agar menjadi mesin uang paling efektif.

Kontrak di industri K-Pop bersifat jangka panjang. Seorang calon bintang tidak serta-merta langsung diorbitkan. Dia harus melalui proses latihan yang panjang, sebagaimana anak-anak Korea yang berkarier di bidang lainnya.

Penjelasan Euny Hong merujuk pada budaya Confucianis yang berlaku di negara ginseng itu. Anak-anak Korea tidak sama dengan anak-anak di negara barat yang punya banyak waktu untuk santai. Di Korea, tak ada waktu luang bagi seorang anak. Sejak kecil dia harus bekerja keras untuk kariernya di masa depan.

Orang Korea percaya pada pandangan bahwa masa kini tidak bisa diulangi. Orang yang masa mudanya kacau dan tidak mempersiapkan diri pasti akan mengalami masa kini yang pahit. Tak ada kesempatan kedua. Selagi muda, anak-anak harus dipaksa dalam latihan super-ketat. Industri musik dibangun dengan serius sebagaimana lembaga pendidikan.

Anak Korea yang hendak jadi pemusik diperlakukan sama dengan anak yang hendak jadi profesor. Sejak belia, dia sudah ditempa dalam kontrak jangka panjang demi menjadi penghibur nomor satu. Euny Hong menjelaskan mengapa industri itu butuh waktu lama mempersiapkan bintang.

“Butuh waktu lama untuk melihat siapa yang memiliki bakat terpendam. Memilih seseorang dan menjadikannya bintang adalah satu hal. Tetapi Anda harus melihat apakah mereka bisa bersosialisasi apa tidak. Kalau Anda tidak hati-hati, semuanya bisa berantakan.”

Ini pula yang menjadi sasaran kritik orang barat pada kerja keras orang Korea. Orang barat melihat anak-anak Korea seperti robot. Euny Hong mewawancarai seorang remaja yang sedang latihan menyanyi. Remaja itu mengatakan, “Ini kesempatan bagiku. Aku harus kerja keras untuk menjadi bintang. Ini pilihan yang sama beratnya. Apakah aku ingin belajar sampai tengah malam demi ujian masuk universitas, atau bekerja keras untuk jadi bintang musik pop. Dua-duanya butuh kerja keras,” katanya.

Girls Generation, salah satu grup musik yang dipersiapkan dalam waktu lama (foto: i.imgur.com)

Korea memang butuh waktu panjang untuk mencetak seorang bintang. Tapi lihatlah statistik yang menyebutkan jumlah pekerja entertainment di Korea sama dengan pekerja di Amerika Serikat.

“Di Amerika Serikat, penduduknya 300 juta. Seleksi alam akan terjadi bagi mereka yang mau jadi bintang. Korea tidak bisa menunggu seperti itu, sebab populasinya hanya 50 juta orang. Label rekaman Korea tidak bisa menunggu datangnya seorang bintang. Kolam sumber daya di Korea kecil. Mereka harus bertindak agar bisa berkompetisi secara internasional.”

Makanya, perusahaan yang bergerak di industri hiburan Korea adalah perusahaan bermodal besar dengan investasi yang juga sangat besar. Para manajer perusahaan bertindak sekaligus pengasuh anak yang mengajari semua pengetahuan kepada seorang bintang. Jangan terkejut melihat bintang Korea bisa bernyanyi, menari, bermain musik, sekaligus memainkan seni peran di depan kamera. Mereka adalah paket komplit yang disiapkan untuk menguasai industri hiburan dunia.

“K-Pop adalah rencana lima sampai tujuh tahunan. Di negara lain, tak menguntungkan berinvestasi besar untuk melatih seorang bintang. Korea bisa melakukannya,” tulis Euny Hong.

Dampak dari industri dan kapitalisme jagad hiburan ini dirasakan para calon bintang. Mereka yang dipersiapkan sejak belia sudah pasti kehilangan masa muda demi menjalani latihan serba ketat. Mereka tidak boleh bertindak aneh-aneh, misalnya memakai obat terlarang, bersikap ugal-ugalan atau menjadi playboy.

Mereka harus jadi anak baik-baik yang penuh etika agar selalu menjadi figur kesayangan publik. Jika mereka bermain dalam grup musik, mereka harus kompak, tidak boleh terlihat mabuk, atau memiliki skandal seks. Sekali seorang bintang terindikasi melakukan itu, maka gosip akan tersebar, dan mendapat hukuman publik.

Seorang bintang harus menjaga etika dan kesopanan agar selalu disayang publik. Lihat saja penampilan para bintang. Seseksi apapun bintang perempuan, tidak pernah terlihat genit. Demikian pula bintang laki-laki yang selalu tampak sebagai anak baik-baik.

Banyak isu juga mencuat. Di antaranya adalah soal gaji. Seringkali, para bintang hanya menerima gaji pas-pasan atas kerja keras mereka. Pihak perusahaan bisa saja berdalih bahwa mereka telah mengeluarkan investasi besar. Para bintang tak berdaya sebab mereka diwajibkan mengganti semua biaya jika hendak keluar dari satu label perusahaan.

Dalam situasi demikian, Jonghyun dibesarkan. Ia telah kehilangan masa mudanya demi menjadi seorang bintang. Ia hidup dalam koridor yang serba terikat dan ditentukan. Ia kehilangan kebebasan untuk dirinya, bahkan sekadar memilih warna rambut, ia harus mengikuti arahan para pekerja kreatif dalam mesin besar industri.

Ia juga kehilangan karakternya yang selalu ingin bebas dan berteman dengan siapa saja. Ia juga merasa tidak mendapat banyak hak yang seharusnya diterimanya. Kepada seorang rekannya, ia mengirim catatan:

“Kehidupan sebagai bintang terkenal bukanlah untuk saya. Apalagi yang bisa saya katakan. Katakan saya telah berbuat baik. Bahwa ini sudah cukup. Bahwa saya sudah bekerja keras. Kalaupun kamu tidak bisa tersenyum, jangan salahkan saya”.

Catatan Jonghyun ditanggapi dingin manajemen SM Entertainment, yang menaungi gurp musiknya. Manajemen menyebut Jonghyun sebagai seseorang “yang mencintai musik lebih dari siapapun”. Manajer tidak menjelaskan apa dan bagaimana Jonghyun tiba pada keputusan untuk bunuh diri itu. Ia seakan menutupi sesuatu.

Hari ini, isak tangis para penggemar bergema dari berbagai belahan dunia. Kepada Kim Jonghyung, teriring ucapan selamat jalan. Annyeong-hi gaseyo!

 

Rut Manullang

mahasiswi, sekretaris, dan penggemar Juventus

Tentang Penulis

Rut Manullang

mahasiswi, sekretaris, dan penggemar Juventus

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.