Locita

Jokowi Sulit Terpilih Lagi?

PILPRES memang masih adaji dua bulan lebih lagi. Waktu yang masih cukup untuk menyodorkan bukti dan alasan mengapa Jokowi dan timnya harus bekerja ekstra keras jika ingin terpilih lagi.

Kita tidak perlu menunggu hingga putaran debat terakhir untuk meyakini bahwa jalan Jokowi menuju kursi R1 lagi tidak bakal semulus jalanan tol apalagi selancar rel kereta api yang dibangunnya. Oh, tidak semudah itu Boscuuuuu, eh Pakde.

Sebagai petahana, banyak yang memprediksi Jokowi akan mudah menang. Mungkin nakira ki bisa seperti Barrack Obama atau SBY. Tapi Indonesia ini kaue dan saat ini bukan mi lagi 2009 tapi 2019.

Sepuluh tahun telah berlalu sudah pasti berubah. Apalagi SBY ada di kubu seberang. Jika blio tahu cara memenangkan dua periode maka pasti mi juga dia tahu cara menghentikan laju agar tidak lanjut periode.

Empat tahun telah memimpin Indonesia–dan masih baik-baik saja- menjadi bahan yang cukup mengevaluasi dan menyodorkan kekurangan-kekurangan pemerintahan Jokowi yang dapat menjadi amunisi oposisi untuk menyerangnya.

Memang Jokowi sukses dua periode saat menjadi walikota Solo tapi Solo tak seluas Jawa Tengah apalagi Malaysia. Tak peduli meski Jokowi yang bahasa Inggrisnya saja tak becus pernah terpilih sebagai walikota terbaik dunia ketiga tahun 2012, lupakan saja itu.

Jokowi juga cukup berhasil sebagai gubernur memimpin DKI Jakarta tapi iya sih cuma cukup setengah periode. Padahal saat blio dilantik, ia berjanji akan mengemban amanah selama lima tahun. Bukti na bede? Tapi jangan begitu. Sandiaga Uno juga saat dilantik berjanji lima tahun kok jadi wakil gubernur DKI Jakarta. Jadi yah jangan dibahas lagi soal ini, sudah impas, oke oce?

Selama empat tahun Jokowi telah berhasil membuktikan untuk tidak membuktikan janji-janji kampanyenya. Janji 10 juta lapangan kerja, tidak menaikkan harga BBM, sampai dolar yang tidak stabil. Dolar bahkan sempat menyentuh angka 15 ribu dan menjadi satu senjata ampuh menyerang kubunya. Sekarang masih 15 ribu atau sudah turun? Cek ki bede.

Dengan sederet janji-janji yang belum terpenuhi apa yang bisa dibanggakan dari pemerintah Jokowi? Iya, memang pemerintah Jokowi berhasil membangun infrastruktur selama empat tahun.

Konon katanya hampir serupa dengan pembangunan masa Soeharto yang (memang) berkuasa selama 32 tahun –sallona-, 8 kali lipat lebih lama bahkan. Tapi seperti kata Rachel Maryam, memangnya rakyat bisa dikasi makan aspal jalan tol?

Lagipula semasif apapun insrastruktur sampai saudara-saudara di Papua dan terpencil akhirnya bisa merasakan pembangunan dan akhirnya bisa menikmati listrik setelah 73 tahun negaranya merdeka.

Lalu harga semen dan BBM sama dengan di Pulau Jawa, tapi tetap saja Pemerintahan Jokowi gagal mewujudkan amanat Pancasila, ‘keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’.

Yang dimaksud keadilan adalah keadilan bagi diri saya dan kelompok saya dong. Apakah di Papua atau di pelosok jalannya masih jalan setapak dan belum ada listrik, bukan urusan saya.

Sebagai pemilih Jokowi di Pilpres 2014 lalu, saya juga kecewa sebab jalan setapak di kampung saya di Safauhae –yang tidak akan kau temui di Google Map- saja belum juga di aspal. Jangankan di aspal, listrik di ujung kampung itu di mana saya pernah tinggal juga belum masuk.

Akhirnya kami harus pindah tempat tinggal ke kampung lain yang ada listriknya. Padahal Bapak saya setiap tahun membayar pajak PBB. Dibayarnya dari keringatnya sendiri sebagai petani sebab ia bukan bukan pegawai yang digaji negara.

Makan dan hidup bukan dari pajak rakyat. Semestinya bapak saya ikut protes dan menyerang pemerintah juga. Lah mereka yang makan dan minum dari gaji negara dan menikmati program pemerintah saja malah paling kencang suaranya toh. Tak sedikit pula yang sering sebar hoaks. Tapi bapak saya ini memang terlalu besar rasa syukurnya.

Infrastruktur tidak serta merta membuat Indonesia akan sejajar dengan negara maju, katanya. Yah, walaupun negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Cina, dan Korsel pertama-tama membangun dan (terus) mengokohkan infrastruktur mereka.

Bagi negara-negara maju infrastruktur adalah koentji. Tapi Indonesia kan negara berkembang, bukan negara maju.

Bagaimana bede bisa bekerja efektif dan tepat waktu jika fasilitas transportasinya tidak tersedia? Bagaimana mau antri di depan kereta jika keretanya saja tidak ada? Bagaimana distribusi bisa berjalan lancar dan waktu bisa dilipat jika jalan yang bisa ditempuh sejam harus ditempuh lima jam?

Tapi yah pokoknya kita tidak perlu infrastruktur. Kita ini punya jin-jin yang bisa membuatnya segenap terjadi. Candi saja bisa dibuat semalam. Apalagi cuma jalan tol dan rel kereta. Lah, dengan ilmu jin, sekedip mata bisa mi langsung sampai.

Sebagai rakyat yang selalu semuanya serba instan dan cepat –secepat menyebarkan hoaks-, negara ini tak perlu repot membangun infrastruktur segala. Tidak peduli negara ini negara besar.

Besar dalam artian sebenar-benarnya. Dari segi wilayah dan jumlah penduduk. Jumlah wilayah yang terpisah satu sama lain dan jumlah penduduk dengan ragam perbedaan.

Kita tidak perlu melihat janji-janji Jokowi yang telah dibuktikan, itu kan memang tugasnya ji. Siapa suruh jadi presiden. Lagipula, janji-janji itu bisa direalisasikan karena berkat menteri-menteri seperti Susi Pudjiastuti, Sri Mulyani, Ignasius Jonan dan Basuki Hadimuljono.

Mereka tentu tak ada apa-apanya dibandingkan Neno Warisman, Rachel Maryam, Fadli Zon, dan Fahri Hamzah jika kelak Prabowo-Sandi terpilih. Kalah jauh.

Kita juga tidak perlu peduli dengan tantangan-tangangan yang telah dihadapi dan negara ini masih berhasil berdiri tegak. Kita harus lebih peduli pada janji-janji yang tidak (atau belum?) dilaksanakan.

Untuk apa toh peduli sama janji-janjinya yang sudah dibuktikan, kan seharusnya memang begitu. Sebab kita memang suka dengan janji-janji. Meski untuk membuktikan janji harus satu per satu dan langkah pertama syaratnya harus terpilih dulu.

Jokowi sih sudah terpilih sekali artinya sudah selangkah mi ditempuh dan memiliki peluang untuk mengeksekusinya janjinya. Beberapa sudah diakui dilaksanakan dan sudah ada bisa pegangan.

Tetapi masih banyak yang belum tereksekusi dan harus diakui. Memang masih mending daripada hanya bisa janji-janji mulu dan tidak ada yang bisa ditagih.

Alasan lain yang membuat Jokowi sulit mempertahankan statusnya adalah dia sebagai petahana alias juara bertahan. Dimana-mana kita sering mendengar, mempertahankan jauh lebih sulit dari meraihnya.

Sebagai petahana, fokus Jokowi bisa terkuras mengurus tugasnya sebagai presiden. Sementara Prabowo bisa fokus mematangkan strategi.

Jokowi yang suka blusukan dan pencitraan harus ke sana ke mari menguras energi. Prabowo bisa dengan santai naik kuda mempersiapkan stamina menyiapkan debat berikutnya.

Jadi sekali lagi, Jokowi sulit terpilih lagi. Tapi tidak tahu mi itu kalau Jokowi-Amin.

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

1 comment

  • Tulisan yang sangat nyentrik menurut saya. Semoga suatu hari bisa bertemu dengan kakak. 😊🙏

Tentang Penulis

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.