Esai

Jokowi, Natal Nusantara, dan Sekuntum Kasih

TAHUN 2017 ini, Pontianak dipilih menjadi kota penyelenggara Natal Nasional setelah Papua, Kupang, dan Manado. Tak perlu heran mengapa Pontianak dipilih sebagai kota penyelenggara. Pontianak merupakan kota kedua setelah Singkawang yang masuk ke dalam daftar kota-kota besar paling rukun dan toleran menurut Setara Institute.

Di tengah beragamnya etnis dan agama di kota tersebut, penduduk kota Pontianak dapat hidup berdampingan. Sangat mudah menemukan gereja-gereja yang berakulturasi dengan nilai budaya dan kearifan setempat serta rumah ibadah yang berbeda dalam satu wilayah. Meski begitu, mereka tetap dapat beribadah tanpa rasa was-was.

Sungguh betapa saya rindu menyaksikan kota-kota besar lainnya di Indonesia dapat beribadah dan merayakan Natal tanpa penjagaan ketat polisi, tentara maupun militer. Presiden Joko Widodo diperkirakan akan datang sekitar pukul empat sore setelah kegiatan ibadah yang diselenggarakan di Rumah Radakng, Jalan Sutan Syahrir, Pontianak, Kalimantan Barat selesai.

Sejak menjabat sebagai presiden, Jokowi menjadi presiden pertama yang mengadakan Natal Nasional di luar pulau Jawa. Ini menandakan bahwa Indonesia sedang berubah ke arah “Indonesia-sentris” dan bukan lagi “Jawa-sentris”. Kehadiran Jokowi menunjukkan kehadiran negara.

Konstitusi mengamanahkan dirinya agar berdiri bersama semua rakyatnya yang beragam. Ia mesti berdiri bersama semua golongan, menjadi sosok pemersatu yang menjahit tenunan kebangsaan, lalu mengajak semua orang untuk menyerap makna. Ketua Panitia Natal 2017 Ignatius Jonan berkoordinasi dengan Gubernur Kalbar Cornelis demi menyelenggarakan perayaan Natal nasional ini.

Ia juga hadir dalam beberapa rapat koordinasi yang diadakan di Balai Petitih, Pontianak. “Untuk lokasi, saya serahkan ke Gubernur Kalbar dengan usulan dari panitia Natal nasional. Presiden dipastikan akan hadir,” katanya.

Jonan memaparkan bahwa perayaan Natal Nasional 2017 mengusung semangat kebhinekaan. Pemprov Kalbar ikut menganggarkan dana untuk kesuksesan acara. “Termasuk anggaran dari daerah bisanya berapa, pusat yang akan mencukupi,” tambah Jonan.

Di era Jokowi, perayaan hari besar keagamaan selalu diadakan di luar Jakarta. Sebagai penganut Islam, ia selalu merayakan lebaran dan salat Idul Fitri di daerah-daerah. Sedangkan perayaan Natal, juga dihadirinya di lokasi-lokasi berbeda.

Tahun 2014, Jokowi ikut Natal nasional di Papua. Tahun 2015, Presiden menghadiri Natal di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tahun 2016, Presiden Jokowi juga menghadiri Natal nasional di Minahasa, Sulawesi Utara, di semua tempat itu, Presiden Jokowi selalu menyerukan Indonesia sebagai rumah yang warganya memiliki keragaman.

Bukan Pertama

Presiden Jokowi bukanlah kepala negara pertama yang selalu menghadiri Natal. Sebelumnya, semua kepala negara juga selalu menghadiri perayaan kelahiran Yesus Kristus ini. Tanggal 24 Desember 1947, Presiden Sukarno menghadiri Natal di Gereja Protestan, Yogyakarta. Pada masa itu, Yogyakarta adalah ibukota republik, Gereja ini tak jauh dari Istana Negara di Gedung Agung, di ujung Jalan Malioboro.

Dalam situasi yang tidak menentu, Sukarno tetap datang dan memberi sambutan. Ia menepis ketakutan warga atas agresi militer Belanda yang sedang marak. Sebagai kepala negara, Sukarno berdiri bersama warga Kristen, serta mengobarkan nasionalisme. Pada masa itu, beberapa warga Kristen menjadi nasionalis yang selalu mendampingi Sukarno. Di antara mereka, ada nama-nama seperti Johannes Leimena, Johannes Latuharhary, dan IJ Kasimo.

Presiden Sukarno saat menghadiri perayaan Natal di Yogyakarta (foto: IPPHOS)

Sukarno juga bersahabat dengan seorang Katolik nasionalis yakni Mgr Albertus Soegijapranata. Sukarno melihat Soegija sebagai Katolik yang cinta Indonesia. Pada masa itu, Soegija rajin mengabarkan kondisi Indonesia ke negara lain seperti Vatikan. Makanya, Vatikan termasuk jajaran negara-negara yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia. Ini adalah modal penting untuk diplomasi dengan pihak internasional.

Masa Presiden Soeharto juga setali tiga uang. Ia selalu menggelar perayaan Natal secara besar-besaran di Senayan, Jakarta. Dalam setiap Natal, Soeharto akan berpidato tentang pentingnya Pancasila sebagai dasar dan fundasi di negara yang warganya bhinneka. Ia selalu menunjuk orang-orang dekatnya sebagai ketua panitia. Di antara mereka adalah Mareden Panggabean, Benny Moerdani, Sudomo, Sumarlin, Radius Prawiro, Adrianus Mooy, dan Cosmas Batubara.

Tradisi Natal kemudian menjadi tradisi bagi Presiden Indonesia selanjutnya. Pada tahun 1999, Presiden Abdurrahman Wahid berpidato di perayaan Natal. Ia mengatakan, Yesus bukan cuma juru selamat bagi orang Kristen, tapi juga seluruh umat manusia. Pernyataan presiden yang kerap disapa Gus Dur ini lalu memicu kontroversi.

Sekuntum Kasih

Pesan kuat yang saya rasakan di Natal ini adalah pesan kasih yang sifatnya universal dan melintasi berbagai batas. Kasih, yang merupakan jantung dari agama-agama, adalah pesan indah yang harus menyapa semua relung-relung hati. Kasih tak cuma hadir di tempat seterang Jakarta, tapi juga menyapa semua manusia di berbagai tempat.

Perayaan Natal yang berpindah-pindah itu menunjukkan pesan kuat bahwa benih-benih kasih yang keindahannya universal itu harus ditebar ke mana-mana. Kelak, benih itu akan menjelma menjadi kuntum kasih yang semerbak dan memberi kedamaian pada sesama. Kemudian menjadi pohon-pohon rindang yang bisa menaungi semua orang.

Meski demikian, saya berharap pesan Natal tidak hanya bergema di birokrasi, lapisan para pejabat yang menjadi elite negara ini. Saya sangat rindu melihat Natal dalam sosok umat Kristiani yang mendarma-baktikan dirinya untuk masyarakat biasa yang terpinggirkan. Pesan indah Yesus seharusnya juga menjadi terang di kampung-kampung kumuh ataupun lorong-lorong hidup warga miskin.

Perayaan Natal Nusantara yang diadakan Jokowi masih kental nuansa birokrasinya. Padahal, pesan Natal itu universal dan merupakan berita gembira bagi semua orang. Harusnya, perayaan Natal dibuat lebih inklusif dan dikemas menjadi seperti pesta kampung yang meriah, di mana semua umat Kristiani bersuka-cita bersama sahabatnya yang Muslim.

Saya merindukan sosok seperti Romo Mangunwijaya yang bisa menjadi sahabat warga miskin di Kali Code, Yogyakarta. Romo Mangun membangun rumah kumuh di tepian kali menjadi rumah-rumah yang nyaman di hati. Ia tidak membawa simbol kekristenan, tapi membawa cinta kasih sebagai sesuatu yang memancar dari dirinya, dan dirasakan keindahannya oleh orang lain.

Saya teringat kalimat indah Gus Dur yang menggambarkan Romo Mangun. “Dia kasihi dan sentuh setiap manusia dengan ketulusan cinta kasihnya yang terpancar dari keimanan dan keyakinannya. Inilah sebab mengapa Romo Mangun mampu hadir dalam hati setiap manusia, karena dia telah menyentuh dan menyapa setiap manusia.”

Inilah kuntum-kuntum indah pesan Natal yang semerbak di hati semua yang merayakannya. Merry Christmas. Semoga damai di bumi.

 

Rut Manullang

Rut Manullang

mahasiswi, sekretaris, dan penggemar Juventus

Previous post

Ngomong British ala Skinnyfabs, Perlu Gak Sih?

Next post

Gus Dur dan Natal