Esai

Jawaban Ketika Kamu Berkuliah di Amerika dan Ditanya, “Mengapa Perempuan Berjilbab?”

BERKULIAH di Amerika Serikat, membuat saya merasakan menjadi seorang muslim yang minoritas. Tak heran meski baru beberapa bulan berkuliah di negeri liberal ini, saya telah mendapat beberapa pertanyaan tentang Islam dari teman-teman non-muslim.

Bye. See you!” Kata saya pada Maryam. Seorang mahasiswi berjilbab dan bercadar dari Arab Saudi yang sekelas dengan saya. Asdrubel dari Nikaragua juga sekelas saya, tiba-tiba bertanya ketika kami berdua berjalan pulang menuju apartemen masing-masing.

“Arief, mengapa perempuan muslim memakai kain yang menutup kepala mereka?”

Saya meyakini pertanyaan ini sudah lama ingin ditanyakannya sejak kami sekelas tiga bulan lalu. Namun, barangkali ia meragu karena kami belum sedemikian akrab.

Oh it is called veil in English (oh itu disebut jilbab dalam Bahasa Inggris).” Respon saya sambil tetap berjalan.

Well, dalam Al-Quran, kitab suci kami, perempuan diperintahkan untuk memakai jilbab jika sudah baligh.” Jawaban ini tentu tak memuaskan walaupun saya mengutip ayat dalam Al-Quran.

Ia tak tahu menahu apapun isinya. Ia butuh penjelasan. Maka saya langsung melanjutkan sepanjang yang saya pahami.

“Bagian yang mesti ditutupi adalah dari rambut sampai kaki bagi perempuan dan laki-laki dari pusar sampai lutut (kata saya sambil menunjukkan). Bagian tersebut adalah bagian…” Tiba-tiba ia memotong. “Part that should be respected (bagian tubuh yang harus dihormati). Oh I see (saya paham).” Ia menyambungnya sendiri. “Yes. It is true. Bagian-bagian tersebut hanya boleh dilihat oleh muhrim mereka seperti suami, bapak dan ibu, atau saudara-saudara mereka.”

Saya ingin menyebut muhrim tetap saya tidak mengetahui padanannya dalam Bahasa Inggris. Maka saya memberikan contoh muhrim saja.

Oh that is good. Dengan begitu dapat menghalangi pandangan laki-laki dan mencegah pelecahan seksual. Bagaimanapun stimulus visual dapat merangsang gairah seks laki-laki.”

“Tetapi mengapa ada memakai kain menutupi wajah (bercadar) dan ada yang tidak?” Tanyanya dengan wajah penasaran bercampur heran.

“Dan mengapa ada yang kainnya lebar dan panjang dan ada yang tidak.” Sambung saya.

“Yeah karena saya memiliki dua teman muslim dari Mesir di kelas lainnya. Seorang berpakaian lebar dan seorang lagi hanya memakai kain penutup kepala agak longgar. Saya juga biasa melihat perempuan muslim hanya memakai celana panjang. Mengapa?”

Well. Perintah menutup aurat adalah mutlak dalam Islam. Tetapi cara memotong kainnya, ada unsur budaya di dalamnya. Jadi mungkin kau akan melihat ada yang berkerudung panjang, bercadar, berkerudung longgar dan pendek, atau bercelana panjang, tergantung budayanya. Tidak ada yang salah. Yang paling penting adalah menutup aurat.”

Ah I see. Now I understand. Ini (berjilbab) sangat bagus. Di Amerika Latin, para perempuan bebas untuk memilih pakaiannya sehingga banyak yang hanya memakai pakaian yang seksi.”

Teringatlah saya beberapa teman baik di apartemen maupun di kampus yang berasal dari Amerika Latin yang sering sekali berpakaian seksi. Baju yang tak sepenuhnya menutupi payudara dan celana sependek paha. Tentu ada juga yang sering berpakaian rapi.

Sejauh pemahaman agama saya yang dangkal, perintah menjaga pandangan terhadap lawan jenis pada perempuan juga sepaket dengan perintah menjaga pandangan pada laki-laki.

Saya memahaminya laki-laki pun jangan melulu menyalahkan perempuan yang berpakaian seksi dan menyalahkannya jika dilecehkan tetapi matanya sendiri tak bisa dijaga.

Next time, we can discuss again issues such as this,” kataku sambil berlalu, kami harus berpisah sebab saya sudah tiba di depan apartemen saya.

Di lain waktu, Asdrubel bertanya tentang sapaan di Indonesia. Saya menjawabnya assalamualaikum dan saya menjelaskan Indonesia adalah negara dengan populasi muslim terbesar di dunia.

What does it mean? (apa artinya),” tanyanya.

“It means peace be upon you. Kedamaian semoga tercurah untukmu.”

Bagi saya pertanyaan sesimpel ini adalah kesempatan untuk memperkenalkan salah satu bagian sederhana dari Islam. Sebagaimana juga dengan pertanyaan-pertanyaan serupa lainnya.

Pada sebuah kesempatan yang lain saat saya dan beberapa teman Cina berkunjung ke Saint Louis, Missouri, kami hendak makan Hot Pot di sebuah restoran Cina. Hot Pot adalah makanan tradisional populer Cina. Salah satu menunya adalah babi.

Saya mengatakan pada Li Wentao, teman Cina saya, jika saya tidak memakan babi. Ia pun memesan bagian khusus yang tidak berisi babi. Ia juga membantu memilihkan makananyang tidak mengandung babi. Ia juga mengingatkan ketika saya mengambil dumping yang ternyata mengandung babi.

“Mengapa kamu tidak memakan babi? It is because of religious reason?” Ia bertanya dan menjawabnya sendiri.

Yes.”

Saya tidak sempat menjelaskannya. Selain karena ia tak bertanya lagi, juga karena kami sibuk menyantap makanan karena lapar.

Kuliah di negara di mana Islam adalah minoritas adalah tantangan sekaligus harapan. Tantangan sebab tak banyak yang mengenal Islam. Harapan sebab ada kesempatan untuk memperkenalkan Islam. Saya sadar sebagai seorang yang beragama Islam tentu saja kecil besarnya, suka atau tidak, saya merepresentasikan Islam. Di sisi lain saya juga sadar bahwa mereka bisa jadi memiliki pemahaman tentang islam yang negatif dari media-media. Mungkin mereka mengira muslim adalah pemalas, koruptor, tidak ramah, kasar, tidak dapat dipercaya, suka membunuh atau bahkan teroris.

Maka sedapat mungkin saya berusaha untuk tidak datang terlambat, tepat waktu waktu ketika berjanji, ramah, bersikap baik kepada mereka. Sebab saya percaya nilai-nilai kedisiplinan, belajar dan bekerja keras, senyum ramah, suka menolong adalah nilai-nilai mendasar dalam Islam. Dan nilai-nilai inilah yang sering justru dipraktekkan di Amerika Serikat.

Saya meyakini kita tidak dapat membalas kebencian terhadap Islam dengan kadar kebencianyang sama. Kita tidak akan dapat memperkenalkan Islam yang damai dan rahmatan lil alamin dengan cara-cara yang marah. Apalagi hanya berteriak-teriak kafir.

Bagaimana mungkin Islam yang penuh kasih dapat diperkenalkan kepada mereka dengan cara-cara yang kasar Bagaimana mungkin memperkenalkan Islam yang penuh cinta jika jauh sebelumnya kebencian sudah tertanam lebih dahulu? Tak sedikit yang bersikap anti-islam sebab mereka belum mengenalnya dengan baik. Sebab informasi yang sampai padanya sepotong-sepotong dan tidak utuh.

Kita tidak dapat berkata mengapa mereka tidak mempelajari Islam lewat internet saja. Sebab pertanyaan yang sama dapat juga ditujukan ke diri sendiri.

Saat saya menjelaskan tentang Islam seperti jilbab sejauh yang saya pahami. Saya tidak serta merta berharap mereka memeluk Islam. Bagi saya yang terpenting mereka mengerti dan mengenal Islam. Dengan demikian mereka akan memahami dan menghargai. Atau di negara mereka, ia bisa menjelaskan kepada temannya, keluarganya, siswa atau mahasiswanya tentang Islam. Terutama ketika ada yang memahami Islam dengan cara-cara yang keliru.

Kita tidak butuh agar semua orang yang mengenal Islam memeluk Islam tetapi agar mereka memahami dan menghargai umat Islam. Adapun mereka memeluk Islam atau tidak, di luar dari wilayah saya.

Tugas dan tanggungjawab saya adalah menunjukkan Islam dalam tingkah dan menjelaskan dengan kata. Dengan demikian mereka mengerti dan memahami Islam dan penganutnya, seperti perbincangan saya dengan sahabat saya bernama Elmert .

Elmert seorang ateis. Ketika ia bertanya tentang mengapa ada tanda panah (arah kiblat) di hotel saat kami menginap di hotel pada suatu waktu di Kuala Lumpur, maka saya menjawab bahwa arah tersebut adalah arah ketika umat muslim salat.

“Oh saya mengerti sekarang. Saya juga akan memasang tanda yang sama di rumah saya. Jadi ketika ada teman-teman muslim saya yang datang, mereka tidak perlu repot mencari arah kiblat.”

Islam yang ramah harus lebih banyak diperkenalkan dengan kata dan terlebih perbuatan. Dengan demikian mereka akan lebih memahami wajah Islam yang rahmatan lil alamin, rahmat bagi semesta alam.

Arief Balla

Arief Balla

Sedang menempuh studi master TESOL and Applied Linguistics di Southern Illinois University Carbondale, Amerika Serikat dengan beasiswa Fulbright.

Previous post

Michael Flynn yang Pengkhianat dan Babak Baru Kemesraan Amerika-Rusia

Next post

Meghan Markle, Foto Bugil dan Titah Ratu Elizabeth