Locita

Jawaban dari Ojol Tentang Dilan di Makassar

Sepulang dari Alauddin, setelah berkunjung di salah satu rumah teman – seperti biasa, saya pulang dengan memesan ojek online. Lantaran telah beberapa kali menggunakan jasa ojek online tersebut, saya bisa mengingat beberapa kecenderungan pilihan rute jalan tiap ojol menuju rumah saya. Kira-kira seperti ini beberapa pilihan tersebut:

  1. Dari Jalan Alauddin, ojol akan berbelok ke Jalan Emmy Saelan, lalu Jalan Hertasning. Setelah itu, mengarah ke Jalan Toddopuli hingga tiba di Batua.
  2. Dari Jalan Alauddin, ojol akan berbelok ke Jalan Emmy Saelan lalu berbelok ke Jalan Emmy Saelan III melewati Gedung Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Makassar, lalu menuju ke Jalan Hertasning lalu Toddopuli dan tiba di Batua.
  3. Dari Jalan Alauddin, ojol akan berjalan mengikuti google maps. Terkadang pilihan A dan B terulang, tapi ada juga yang mesti melewati Jalan Pettarani, lalu Hertasning, Toddopuli dan Batua.
  4. Dari Jalan Alauddin, ojol memilih jalan terjauh. Berputar-putar, mengira jalan itu adalahpaling cepat tanpa bertanya pada penumpang sama sekali.
  5. Dari Jalan Alauddin, ojol terlebih dahulu bertanya dan mendiskusikan pilihan yang tepat.

Ojol yang saya tumpangi kemarin, memilih rute pilihan 2. Dengan laju motor yang terbilang lamban, ditambah lagi dengan situasi jalanan yang padat, saya memutuskan untuk kembali mencoba membaca beberapa e-book yang ingin segera saya tuntaskan. Tapi saya sama sekali tak sempat membaca satu halaman pun.

Tiba-tiba yang saya pikirkan hanyalah diskusi yang berlangsung beberapa waktu lalu sebelum saya memutuskan berkunjung ke rumah teman di Jalan Alauddin. Di sebuah café di jalan Hertasning, kami bertemu dan membincangkan perihal demonstrasi sejumlah mahasiswa Makassar yang menolak film Dilan dan juga respon orang di luar Makassar yang terlalu berlebihan.

Sehari sebelumnya, saya juga bertemu dengan salah seorang teman yang membahas masalah yang serupa. Di atas ojol, saya merasa menemukan cara untuk menjawab persoalan ini.

Jika hal itu memungkinkan, dan sebenarnya memang memungkinkan – melihat arah pikiran manusia akan menjadi sesuatu yang menyenangkan sekaligus mengerikan. Pada titik itu, saya percaya jika di dunia ini memang jelas akan ada orang-orang yang menemukan kemampuan memahami dan berhasil tampil sebagai sosok yang seakan mampu membaca pikiran manusia. Mungkin terlampau sederhana jika dari pilihan rute jalanan para ojol, saya menjadi bebas menjelaskan tentang pikiran.

Saya mungkin perlu belajar tentang algoritma di beberapa media sosial. Ketika pola kita terbaca, dengan mudahnya apa yang tampil pada linimasa kita akan terus muncul dan membuat kita sulit berhenti.

Ada sesuatu hal yang berulang-ulang dan sayangnya, kita tak begitu menghargai pertanyaan yang mampu menguji kebenaran dari semua itu. Termasuk dengan beberapa orang di luar Makassar yang dengan mudahnya melakukan generalisasi hanya karena segelintir orang yang melakukan demonstrasi film Dilan atau stereotipe bahwa orang Makassar gemar berdemo dan ricuh.

Tentu, ini menjadi bagian dari keberhasilan  media yang tak henti-henti memberitakan wajah Makassar dengan cara seperti itu. Bahkan, saya dan beberapa teman sering menerima pertanyaan “Kenapa Makassar suka demo?” dan pertanyaan itu kadang keluar dari mulut berbagai kalangan.  Tentu, pengalaman mendapat pertanyaan seperti itu akan menjadi langganan bagi orang-orang Makassar. Kekuatan media sungguh-sungguh besar dan sepertinya merebut akal sehat kita.

Media yang memberitakan berbagai peristiwa kadangkala jauh lebih buruk dibanding Google Maps yang kerap mengarahkan, meski alamat yang diberikan tak cukup akurat. Celakanya lagi, kita masih senang terjebak dengan hal-hal yang seperti itu.

Kita butuh bertanya lebih banyak lagi dan tidak mudah terjebak dengan kemapanan berpikir yang seringkali menipu. Saya tentu belum sempat bertanya langsung dari Ojol terkait dengan peristiwa demonstrasi film Dilan kemarin, tapi secara diam-diam – saya mencoba belajar dari mereka.

Di tengah berbagai gempuran opini dan serangan media yang begitu deras, saya tentu saja akan percaya dengan ungkapan Jorge Luis Borges, bahwa kebodohan itu populer. Dan mengulang-ulang pernyataan itu di Indonesia, sepertinya cukup relevan mengingat atmosfer netizen atau warganet yang luar biasa.

Tapi, yang tak kalah dari itu, mungkin kita juga bisa sadar bahwa kadang kala kita “merasa pintar, bodoh saja tak punya” – meminjam judul buku dari Rusdhi Mathari. Nah, jika harus berbicara sadar atau tidak, dunia hari ini punya peluang besar untuk meraih kesadaran kita yang sebenarnya.

Menjadi tukang komentar dan menuliskan hal yang sedang ramai dibicarakan, mungkin saja menjadi bagian dari kehilangan kita atas kesadaran kita sendiri.

Tulisan ini “merasa sadar, ….. saja tak punya” silakan isi sendiri dan kelak, semoga kita bisa merayakan kesadaran bersama-sama.

Wawan Kurniawan

Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wnkurn

Add comment

Tentang Penulis

Wawan Kurniawan

Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wnkurn

Follow us

Don't be shy, get in touch. We love meeting interesting people and making new friends.