Esai

Jangan Iri dengan Susu Indah Silvia Agustina!

“EMANG kalian pernah liat itil-ku, kalau itil-ku itu lower? Pernah? Nih susuku mulus,mulus, montok, besar, buat dijepit juga kenceng,” tutur perempuan itu mejelaskan bahwa vaginanya masih sempit, sembari memegang buah dadanya.

Dengan memakai tanktop merah, perempuan itu berseru,  berbagai makian dengan suara cemprengnya di hadapan kamera. Salah satunya adalah makian soal gaji PNS yang dinilainya rendah.

“PNS paling lah 4 juta, 5 juta. Gedean gaji saya,” maki perempuan tersebut.

Sosok itulah Silvia Agustina, sosok yang sedang viral setelah dengan video unggahannya di Youtube dan live Facebook. Video-videonya penuh emosi, sesumbar dengan kekayaan dan gengsinya. Yup, dia ingin mencari pasangan yang kaya raya dan memakai Kawasaki Ninja. Sesekali diiringi bahasa tidak lulus sensor dan rada mesum.

Ocehan itu bukanlah kali pertama, Silvia menggelegar di media sosial. Perempuan yang kemudian menggelari dirinya sendiri sebagai Ratu Youtube ini mengunggah beberapa self videonya yang mengumbar nafsu dan kemarahan memantik balasan-balasan dari netizen.

https://www.youtube.com/watch?v=qYVg3B3Ewuw&t=11s

Video tersebut turut pula direspon oleh banyak orang. Salah satunya adalah Warsito, yang mengunggah kemuakannya akan aksi-aksi Silvia lewat kanal Youtube-nya, Melek Tube. Lewat salah satu videonya, dia mengungkap bahwa nama asli perempuan tersebut adalah Parjiyem, seorang TKW di Qatar.

Dia mengajak para netizen melihat kondisi tempat tinggal tetangganya itu di perbatasan Sragen-Grobokan Purwodadi, Jawa Tengah. Di video tersebut, Warsito juga mengungkapkan kalau Parjiyem sewaktu di Indonesia berjualan daun pisang dan aren. Perempuan itu juga diakui telah menikah lima kali.

Tampak sebuah pedesaan dengan jalan yang belum diaspal. Rumahnya beralaskan tanah, terlihat meja makan yang hanya menyajikan nasi dan lauk daun kates (pepaya).

Dari situ kita bisa mengambil kesimpulan awal bahwa Silvia adalah salah satu korban ketidakadilan sosial-ekonomi di Indonesia. Sehingga memutuskan untuk mencari penghidupan yang lebih layak di luar sana. Dan apa yang dilakukannya adalah agresi sebagai dari manfaat utama media sosial bagi psikologis, Narcissistic Personality Disorder.

Bully ke Silvia itu Tanda Sirik

Dalam kajian psikoanalisa, agresi ini diterjemahkan oleh beberapa ahli. Sigmund Freud menyebutkan bahwa sikap agresi ini memang bawaan dalam diri manusia. Lainnya, adalah Konrad Lorenz, sikap agresi ini terjadi karena adanya sesuatu yang meledak dalam diri manusia. Agresi tersebut merupakan sebuah pelampiasan terhadap kondisi ekonomi, sosial, dan politik.

Lebih lanjutnya lagi, Erich Fromm dalam The Anatomy of Human Destructiveness, menjelaskan bahwa sikap agresi pada seseorang lahir akan ancaman akan kebutuhan ruang atau struktur sosial dalam suatu kelompok.

Melihat aksi dari Silvia ini, saya mengingat bagaimana model “caper” anak-anak, yang tergerus ruang aktualisasinya atau kurang mendapat proporsi tepat di keluarga. Semisal, menantang berkelahi siapapun dan merasa rewa (berani yang sedikit dibumbui arogansi).

Silvia bukanlah cerminan orang yang bahagia dan aman-aman saja dalam lingkungan sosialnya. Dia adalah korban kemiskinan, keluarga yang porak poranda, hingga keterasingan. Apalagi jaminan untuk TKI di negeri menara Doha ini fantastis.

Menaker Hanif Dhakiri mendorong penempatan TKI di negeri Burj Doha ini. Huebat! Lebih huebatnya lagi, konon katanya ada regulasi baru untuk TKI di Qatar bahwa pemerintah negeri para emir ini melindungi pekerja pengemudi, tukang kebun, dan pekerja domestik. Kemudian, diatur pula penerapan 10 jam kerja setiap hari dan adanya libur sehari dalam sepekan. Apalagi konon gajinya sebulan bisa mencapai US$ 10 ribu perbulan (sekitar Rp 13 juta).

Wajarlah kalau Silvi… Eh, Parjiyem songongnya minta ampun.  CEO Locita.co saja, Ardiansyah Laitte tidak sekaya itu terlebih kandidatnya kalah di perhelatan politik. Apalagi saya yang hanya penulis kolom ini. Hiks.

Anggap saja Silvi… Eh, Parjiyem ini melakukan balas dendam akan apa yang didapatnya selama di kampung halamannya. Agresi itu adalah naluri atas keunggulan akan apa yang diraihnya di tanah orang. Seperti ketika membayangkan bagaimana angkuhnya kelak seorang Faris memecah telur sebagai jomblo sepanjang hayat.

Adapun kalau misalnya kasar, tentu kita perlu melihat pelbagai hal, bagaimana pendidikannya, bagaimana melek literasinya. Ya, wajarlah kita hidup di negara dengan tingkat literasi yang baik dan kualitas pendidikan yang tinggi. Plus ditambah luar biasanya manfaat dari media sosial bagi narsisme berbangsa dan bernegara. Anggap saja Silvia ini adalah contoh yang baik itu.

Jadi, netizen tidak perlu iri dan marah. Apa netizen sudah selayak Silvia dalam mengabdikan diri pada NKRI? Ngapa na bikin video balasan. Itu bentuk iri hati dan dengki yang dibenci oleh Allah.

Lebih baik bekerjalah dengan baik, utamanya beramai-ramai menjadi TKI ke Qatar dan menjadi pahlawan devisa bangsa seperti Silvia. Negeri ini kan sedang butuh-butuhnya aseng (utamanya TKI) dalam Piala Dunia 2022.

Eh ingat juga ya, doa orang teraniaya itu dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Mending doa Silvia itu jadi orang kaya, kalau doanya negeri ini dikuasai PKI dan LGBT? Mampus!

Semoga kelak nasib para TKI sebaik Silvi… Eh, Parjiyem atau segemilang Sri Rabitah. Itu tuh, seorang TKW Qatar asal Lombok yang ginjalnya dicuri.

Dhihram Tenrisau

Dhihram Tenrisau

Dokter gigi di klinik BPJS

Previous post

Kekaburan Wilayah Politik

Next post

Tabe Momang Kraeng Jokowi!