Esai

Jangan Bicarakan Dilan yang Khayali, Ada Zaadit Pemberani

UNTUNGLAH ada Zaadit, sehingga netizen tidak membicarakan Dilan melulu. Zaadit, adalah mahasiswa UI yang melayangkan Kartu Kuning kepada Jokowi saat perayaan Dies Natalis UI. Ketua BEM Universitas Indonesia ini sontak menarik perhatian publik. Banyak yang menghinanya bahkan nyinyir, tapi tak sedikit yang mengacungkan jempol buat keberanian bro Zaadit.

Apa yang dilakukan Zaadit? Ada tiga hal yang menjadi perhatian Zaadit, pertama gizi buruk di Asmat dengan berlimpahnya dana otsus Papua. Kedua penunjukan dua jenderal polisi sebagai pejabat gubernur yang (seakan) menimbulkan kesan lahirnya kembali dwifungsi ABRI. Dan ketiga, draft peraturan organisasi mahasiswa yang berkesan membatasi gerak mahasiswa.

Sebenarnya apa yang salah dari kritikan Zaadit ini? Zaadit benar sebagai mahasiswa, apalagi ketua BEM sudah seharusnya memberikan masukan kepada pemerintah ataupun mahasiswa. Dengan kondisi, mahasiswa zaman now lebih senang melakukan selfie dengan pejabat. Sementara Zaadit, dalam kondisi sosial yang aduhai melakukan kritik sebenarnya adalah masukan untuk melakukan perbaikan.

Kritikan Zaadit jelas tidak mengada-ada, hanya saja sebagian pihak menganggapnya salah moment, karena menyampaikan kritikan saat melaksanakan kegiatan yang sakral. Tetapi apa yang salah dengan kritikan? Zaadit melakukannya dengan cara yang benar, tidak membakar atau merusak fasilitas hingga mengakibatkan kerusuhan. Tetapi mengapa banyak masyarakat yang justru menyalahkan Zaadit? Sudah bergeserkah pandangan masyarakat akan tugas mahasiswa?

Saya justru iri terhadap keberanian Zaadit. Di tengah banyaknya tuduhan yang dilayangkan terhadap pribadinya, mulai dari mendapat pesanan, tidak memiliki pengetahuan yang luas, tidak tahu menempatkan posisi yang tepat, hingga dikatakan sebagai kader PKS. Namun, Zaadit menunjukkan posisi seorang mahasiswa di tengah pemerintahan.

Semoga dengan kartu kuningnya, dia bisa menampar mahasiswa lain yang asyik dengan keasyikannya. Memang, kondisi mahasiswa zaman sekarang tidak lagi seperti dulu. Namun, dengan segala kemudahan yang ada mahasiswa seharusnya semakin eksis dan memberikan sumbangsih terhadap pemerintahan, termasuk kritik.

Tetapi bukan berarti bahwa saya mengatakan mahasiswa harus selalu melakukan kritikan terhadap pemerintah. Hanya saja, mahasiswa tidak boleh menutup mata terhadap persoalan yang terjadi, mahasiswa dapat bertindak dengan porsi dan caranya masing-masing.

Tak sedikit orang berkata, “Ah, mahasiswa hanya bisa berkomentar, namun ia tak dapat melakukan suatu perubahan nyata. Belum lagi jika ia nanti, duduk di posisi yang enak dia akan lupa berdiri, sesungguhnya sama saja.”

Memang kenyataan itu tak dapat dipungkiri, namun juga tak bisa dibenarkan seluruhnya. Mahasiswa tak mampu melakukan perubahan, tetapi mahasiswa mampu menjadi mesin penggerak dan pendorong perubahan.

Lalu, bagaimana dengan Jokowi? Sebagai tertuduh dan diberikan kartu kuning, Jokowi menanggapi dengan rencana mengirimkan Zaadit ke Asmat. Dia berubah, dari wasit menjadi pemain. Tapi tak apalah, dia justru bisa membuktikan bahwa mahasiswa tidak hanya bisa mengkritik, tetapi juga bisa melakukan perubahan. Mumpung, Zaadit sedang naik daun dan momentumnya juga tepat, mengapa tidak?

Zaadit setidaknya berhasil menggeser nama Dilan di kalangan remaja khususnya perempuan. Dilan hadir dengan kisahnya yang romantis digandrungi oleh para wanita sejagat khayal. Dilan menjadi buah bibir, harus rela berbagi ketenarannya dengannya yang bermodalkan kartu kuning.

Zaadit atau Dilan? Tak perlu dipilih karena memang tidak apple to apple. Kamu takkan kuat memilih salah satunya. Apalagi memilih keduanya.

Zaadit, yang hadir dalam kenyataan setidaknya melakukan kegiatan nyata, agar romantisme Zaadit tak sebatas kisah cinta Dilan pada Milea yang khayali. Zadit harus bertindak agar Dilan dan mahasiswa lainnya tergerak. Apalagi jika Zaadit berkata “biar aku saja, ini berat kamu tak akan kuat!”

Yenglis Dongche D

Yenglis Dongche D

Menuju M. Han,
Alumni AP FISIP Universitas Padjadjaran

Previous post

Cinta, Santet, dan Perempuan

Next post

Kota Saranjana yang Hilang dan Cerita Mistik Nusantara